Oleh: Khonsa Nur Zatilhidayah
Di ruang publik kontemporer Indonesia, hijab telah menjelma menjadi fenomena sosiologis yang sangat dominan, bahkan menjadi pusat gravitasi dalam narasi identitas perempuan Muslim. Fenomena ini tidak lagi sekadar kain penutup yang bersifat statis dan terkurung di ruang-ruang privat yang sunyi.
Hijab kini bertransformasi menjadi identitas yang cair, dinamis, dan penuh warna, hadir di tengah hiruk-pikuk pasar, lorong akademik, hingga lintasan olahraga. Namun, di balik maraknya tren modest fashion ini, muncul sebuah ketegangan diskursif yang nyata antara nilai spiritual dan konsumerisme.
Sejauh mana hijab masa kini masih berpijak pada nilai spiritualitasnya, dan sejauh mana ia telah larut dalam arus konsumerisme yang dangkal? Pertanyaan ini menjadi krusial saat melihat hijab kini adalah bagian tak terpisahkan dari industri gaya hidup urban yang sangat masif di tanah air saat ini.
Munculnya berbagai komunitas hijab yang identik dengan standar visual tertentu menandakan adanya pergeseran fungsi yang signifikan dalam masyarakat. Hijab masa kini sering kali berfungsi sebagai pernyataan kelas sosial dan media ekspresi diri yang sangat kuat bagi perempuan Muslimah modern.
Di satu sisi, fenomena ini menunjukkan peningkatan kepercayaan diri perempuan Muslim untuk hadir sepenuhnya di ruang publik. Namun, di sisi lain, realitas ini melahirkan standar estetika baru yang terkadang justru menjadi beban moral bagi para pemakainya di tengah arus modernisasi dunia.
Dalam lanskap sosial yang serba cepat ini, hijab seringkali harus beradu dengan kepentingan pasar yang agresif. Elfa Juliana dalam studinya mengingatkan adanya resiko besar ketika hijab hanya dipandang sebagai produk kecantikan semata di mata masyarakat luas saat ini (Yuliana, 2026).
Saat algoritma media sosial mendikte bahwa hijab yang “ideal” adalah yang mengikuti tren warna tertentu, inti dari menutup aurat yang seharusnya mengedepankan kesederhanaan sering kali terpinggirkan. Hal ini menciptakan distorsi makna yang cukup dalam bagi nilai-nilai luhur agama kita.
Fokus pun bergeser dari dimensi esensial menuju dimensi visual; dari pertanyaan “mengapa saya berhijab” menjadi “bagaimana saya terlihat menarik dengan hijab ini” di hadapan publik (Yuliana, 2026). Pergeseran orientasi ini menjadi tantangan bagi autentisitas keberagamaan seorang Muslim.
Realitas Tren: Antara Ekspresi dan Komoditas
Realitas menarik lainnya terlihat pada bagaimana hijab beradaptasi dengan kebutuhan fisik dan mobilitas perempuan di ruang publik, termasuk bagi mereka yang berperan ganda sebagai wanita karier. Peran wanita yang aktif bekerja memerlukan fleksibilitas yang sangat tinggi dalam berpakaian harian.
Peran wanita yang keluar untuk bekerja menuntut busana yang mampu mengakomodasi aktivitas tersebut tanpa menanggalkan prinsip ketaatan (Rahayu & Nurrohim, 2022). Keselarasan antara profesionalisme dan religiositas menjadi kunci penting dalam menjaga identitas sebagai seorang Muslimah sejati.
Fenomena tingginya minat terhadap busana muslimah sporty di kalangan mahasiswa adalah bukti bahwa hijab kini harus mampu mengakomodasi aktivitas tinggi secara fungsional (Fitriasari & Sulianto, 2026). Busana ini memungkinkan mobilitas tanpa mengorbankan batasan syariat yang telah ditetapkan.
Hijab Fungsional dan Urgensi Tarjih dalam Tindakan
Namun, keberagaman model ini seringkali membingungkan pemakainya. Di sinilah pentingnya konsep tarjīḥ tafsīr. Sebagaimana dijelaskan oleh Ahmad Nurrohim, tarjīḥ bukan sekadar perdebatan teoritis, melainkan instrumen untuk mencerahkan tindakan manusia secara praktis (Nurrohim, 2019).
Dalam menghadapi keragaman pendapat antara yang konservatif seperti Hasbi Ash-Shiddieqy dan yang luwes seperti Quraish Shihab, seorang Muslim dituntut melakukan proses tarjīḥ. Ia harus memilih pendapat yang paling kuat argumennya dan membawa kemaslahatan nyata (Nurrohim, 2019).
Tarjīḥ memungkinkan seseorang mengambil keputusan berpakaian berdasarkan landasan teologis yang sadar dan mencerahkan. Hal ini menghindarkan Muslimah dari sikap taklid buta terhadap tren mode. Pemahaman yang mendalam atas teks agama menjadi pondasi dalam setiap tindakan yang diambil.
Mencapai Nafs Muṭmainnah melalui Keselarasan Berbusana
Lebih jauh lagi, integrasi antara perilaku lahiriah (berhijab) dan kondisi batiniah menjadi kunci utama dalam mencapai derajat spiritualitas yang tinggi. Hal ini berkaitan erat dengan konsep kejiwaan dalam Islam yang menekankan pada ketenangan dan kemantapan hati dalam setiap ibadah.
Dalam kajian terhadap tafsir Fakhr al-Dīn al-Rāzī, disebutkan bahwa kesempurnaan manusia tercapai ketika jiwanya mencapai derajat nafs muṭmainnah. Ini adalah kondisi jiwa yang tenang karena telah bersih dari keraguan dan pengaruh hawa nafsu yang destruktif (Mainingsih & Nurrohim, 2020).
Jika kita tarik ke dalam konteks berhijab, pemakaian hijab yang hanya didasarkan pada tekanan tren atau pencitraan visual berisiko menciptakan kegelisahan batin. Ketidakjujuran dalam berbusana dapat menghambat pencapaian ketenangan jiwa yang seharusnya dirasakan oleh setiap hamba beriman.
Sebaliknya, hijab yang dikenakan dengan kesadaran akan fungsi libās—sebagai penutup aib dan pemberi ketenangan sebagaimana makna dalam Q.S. Al-Baqarah [2]:187 (Haji et al., 2022)—akan membantu seorang Muslimah mencapai ketenangan jiwa yang hakiki dalam kehidupan sehari-hari secara nyata.
Ketenangan ini muncul ketika tidak ada lagi pertentangan antara identitas yang ditampilkan di publik dengan keyakinan yang menghujam di dalam hati. Harmoni antara aspek lahir dan batin inilah yang menjadi esensi dari ibadah, termasuk dalam cara seorang Muslimah menutup aurat badannya.
Jalan Tengah yang Mencerahkan
Realitas hijab masa kini memang berada di persimpangan jalan yang kompleks. Ia berdiri di antara ketaatan yang bersifat sakral dan tren mode yang bersifat profan. Dinamika ini menuntut kesadaran kritis dari setiap individu agar tidak terjebak dalam formalisme agama yang hampa akan makna.
Hijab yang ideal seharusnya tidak membuat perempuan merasa terasing dari dunianya—terutama bagi mereka yang aktif bekerja dan berkarya—namun juga tidak boleh membuatnya kehilangan jati diri spiritualnya. Hijab harus menjadi simbol pemberdayaan sekaligus ketaatan yang tulus dari hati.
Pada akhirnya, esensi hijab harus kembali pada prinsip etika Islam yang paling mulia. Mengenakan hijab di era sekarang memerlukan kecerdasan spiritual untuk melakukan tarjīḥ di tengah gempuran tren. Hal ini memerlukan kekuatan batin dan kedalaman ilmu agar tetap pada jalur yang benar.
Sebagaimana tujuan akhir dari pembersihan jiwa adalah mencapai nafs muṭmainnah yang ridha dan diridhai Tuhan, maka hijab harus menjadi sarana untuk mencapai ketenangan batin tersebut. Pakaian bukan sekadar pembungkus raga, melainkan cerminan dari martabat dan kesucian jiwa pemakainya.
Menemukan “jalan tengah” adalah perjuangan untuk tetap tampil berdaya, fungsional, dan modis, dengan keyakinan bahwa selembar kain tersebut adalah hasil dari sebuah pilihan iman yang matang. Semoga setiap helai hijab yang dikenakan senantiasa membawa kedamaian dan ridho dari Sang Pencipta.
Daftar Pustaka
Fitriasari, A., & Sulianto. (2026). Minat Generasi Z Terhadap Busana Muslimah Sporty.
Haji, A., Anwar, S., Nirwana, A., & Nurrohim, A. (2022). Meaning of The Word Libās in Q.S. Al-Baqarah [2]:187 in Michael Camille Riffaterre’s Semiotics Application. Advances in Social Science, Education and Humanities Research, 676, 40-47.
Mainingsih, P., & Nurrohim, A. (2020). Penafsiran Fakhr Al-Din Al-Razi Terhadap Nafs Mutmainnah Dalam Tafsir Mafatih Al-Ghaib [Naskah Publikasi Ilmiah]. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Nurrohim, A. (2019). Al-Tarjih Fi Al-Tafsir: Antara Makna Al-Qur’an dan Tindakan Manusia. Hermeneutik: Jurnal Ilmu Al Qur’an dan Tafsir, 13(2), 173-194.
Nurrohim, A. (2020). Pakaian Muslimah dalam Perspektif Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dan M. Quraish Shihab.
Rahayu, Y., & Nurrohim, A. (2022). Dalil Teologis Wanita Bekerja dalam Al-Qur’an. QiST: Journal of Quran and Tafseer Studies, 1(1), 48-64.
Yuliana, E. (2026). Trend Berhijab Di Kalangan Remaja dan Pengaruhnya Terhadap Sikap dan Perilaku. Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.
Editor : Nila Pingkan Nauntika