Oleh: Naufal Febrian
Penyesalan kerap muncul seperti pengunjung yang tidak diharapkan di malam hari. Ia tidak mengetuk pintu, ia menyusup melalui celah jendela, duduk di tepi tempat tidur, dan memaksa kita melihat kembali album foto kabur dari masa lalu. Kita semua pernah mengalami momen itu terbangun pada jam tiga pagi, memandang plafon, dan berpikir, “Bagaimana jika?”
Tetapi, sebelum kita terjebak dalam rasa bersalah yang menyekap, mari kita coba mengupas “hantu” ini dari sudut kampung mereka yang telah menghabiskan hidup merenungkan makna keberadaan manusia. Dari kecemasan Soren Kierkegaard hingga kepastian Friedrich Nietzsche, mari kita diskusikan penyesalan bukan sebagai sanksi, melainkan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keberadaan manusia.
Dilema Kierkegaard: Menyesal karena Memilih dan Tidak Memilih
Soren Kierkegaard, bapak eksistensialisme, pernah menulis kalimat yang cukup menyebalkan namun jujur:
“Menikahlah, dan kau akan menyesalinya; jangan menikah, kau juga akan menyesalinya. Gantung dirimu, kau akan menyesalinya, jangan gantung dirimu, kau pun akan menyesalinya.”
Poin Kierkegaard sesungguhnya mudah: Penyesalan merupakan hasil yang wajar dari kebebasan. Sebagai makhluk manusia, kita terjebak dalam memilih. Setiap kali kita memilih jalan A, kita secara otomatis menutup peluang yang ada di jalan B.
Penyesalan terhadap masa lalu sering kali timbul karena kita percaya ada “versi sempurna” dari diri kita yang menjalani jalur B itu. Kita membayangkan diri kita yang lebih beruntung, lebih puas, atau lebih dicintai semuanya kita membuat pilihan lain sepuluh tahun yang lalu. Namun, Kierkegaard menekankan bahwa kegelisahan merupakan “pusing dari kebebasan.” Jika kamu merasa penyesalan, itu menunjukkan bahwa kamu menyadari bahwa kamu mengendalikan hidupmu. Itu adalah indikasi bahwa kamu adalah individu merdeka, bukan sekadar mesin yang menjalankan instruksi.
Nietzsche dan “Amor Fati”: Mencintai Nasib
Jika Kierkegaard membuat kita mengakui penyesalan sebagai bagian dari pilihan, Friedrich Nietzsche memberikan solusi yang lebih ekstrem: Amor Fati (Cintai Nasibmu).
Nietzsche menggugah kita dengan ide tentang Eternal Recurrence (Pengulangan Abadi). Bayangkan seorang iblis mendekatimu dan mengatakan bahwa kamu harus menjalani kehidupan yang sama, dengan semua rasa sakit, kegagalan, dan penyesalan yang identik, tanpa henti selamanya. Apakah kamu akan menghukumnya, atau kamu akan mengatakan, “Ya, ini adalah kehidupan yang luar biasa”?
Menurut Nietzsche, menyesali masa lalu merupakan pemborosan energi yang merusak jiwa. Penyesalan merupakan jenis penolakan terhadap realitas. Agar benar-benar hidup, kita harus mencapai momen di mana kita tidak ingin mengubah apa pun dari masa lalu bahkan bagian yang paling menyakitkan sekalipun karena bagian itulah yang membentuk diri kita sekarang.
Stoikisme: Memisahkan Apa yang Bisa Diubah
Para filsuf Stoik seperti Marcus Aurelius atau Epictetus mungkin akan menepuk bahu kita dan berkata dengan tenang, “Masa lalu sudah berada di luar kendalimu.”
Dalam pemikiran Stoik, menyesali sesuatu yang sudah terjadi adalah tindakan yang tidak logis. Mengapa? Karena masa lalu bersifat tetap (fixed). Satu-satunya hal yang berada dalam kendali kita adalah persepsi kita saat ini terhadap masa lalu tersebut.
Alih-alih berkata, “Hidupku hancur karena keputusan itu,” seorang Stoik akan berlatih untuk berkata, “Keputusan itu membawa tantangan baru bagiku untuk mempraktikkan kebajikan hari ini.” Penyesalan, dalam konteks ini, hanyalah sebuah emosi yang perlu diakui, namun tidak boleh diberi kursi di meja kepemimpinan hidup kita.
Penyesalan adalah bukti bahwa kita peduli. Kita menyesal karena kita memiliki standar moral, ambisi, dan kasih sayang. Namun, jangan biarkan penyesalan menjadi penjara. Seperti kata penyair Rumi, “Luka adalah tempat di mana cahaya memasukimu.”
Mungkin masa lalumu tidak sempurna. Mungkin ada banyak lubang dan jahitan yang kasar. Tapi itulah yang membuat ceritamu menjadi manusiawi. Daripada mencoba menghapus masa lalu, mari kita gunakan sisa waktu yang kita miliki untuk menulis bab-bab selanjutnya dengan lebih bijaksana.
Lagi pula, satu-satunya cara untuk benar-benar menebus kesalahan masa lalu adalah dengan tidak menyia-nyiakan masa kini.