Oleh: Kurnia Ayu Nasuha (Alumni Taruna Melati 2 Klaten, Jawa Tengah)
Sekarang ini, hidup tanpa teknologi rasanya hampir mustahil. Bangun tidur cek notifikasi, belajar lewat video online, pesan makanan lewat aplikasi, sampai mencari hiburan pun lewat media sosial. Semua serba cepat dan praktis. Di sinilah kita, Gen Z, tumbuh dan berkembang di tengah derasnya arus inovasi dan teknologi.
Sebagai generasi yang sejak kecil sudah kenal internet, kita punya keunggulan besar. Kita cepat belajar hal baru, mudah beradaptasi, dan tidak kaget dengan perubahan. Kalau ada aplikasi baru, kita termasuk yang paling cepat mencoba. Kalau ada tren baru, kita langsung tahu. Tapi pertanyaannya, apakah kita hanya akan terus mengikuti tren? Atau kita bisa jadi pencipta tren?
Tokoh pendidikan Muhammadiyah yaitu K.H. Ahmad Dahlan, pernah mengajarkan kita bahwa pendidikan harus melahirkan manusia yang berkemajuan bukan hanya pintar secara teori, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman. Jika dikaitkan dengan kondisi sekarang, maka tantangan zaman itu adalah teknologi. Artinya, pelajar hari ini tidak cukup hanya bisa menggunakan teknologi, tetapi harus mampu memanfaatkannya untuk kemajuan.
Banyak dari kita yang tanpa sadar lebih sering menjadi penonton daripada pemain. Waktu berjam-jam habis untuk scrolling media sosial. Kita melihat orang lain sukses, viral, dan terkenal. Kita ikut tertawa, ikut berkomentar, bahkan ikut membagikan. Namun, jarang bertanya pada diri sendiri: “Apa yang bisa aku buat? Apa yang bisa aku ciptakan?”
Teknologi sebenarnya memberikan peluang besar. Dengan satu smartphone saja, kita bisa belajar desain grafis, membuat video edukasi, bahkan memulai usaha kecil. Banyak pelaku UMKM yang berkembang karena promosi digital. Ini membuktikan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi bisa juga berupa cara baru dalam memasarkan, mengelola, atau menyampaikan ide.
Saya sendiri belajar banyak tentang makna menjadi “pemain” saat aktif di IPM. Di dalam organisasi pelajar seperti IPM, kami tidak hanya diajarkan berbicara di depan umum atau mengadakan kegiatan, tetapi juga bagaimana memanfaatkan teknologi untuk mendukung gerakan pelajar. Misalnya, ketika mengadakan kegiatan, kami belajar membuat desain poster digital, mengelola media sosial organisasi, hingga menyebarkan informasi secara kreatif agar lebih menarik perhatian teman-teman.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, pernah menyampaikan bahwa generasi muda Muhammadiyah harus menjadi generasi yang unggul, berkemajuan, dan mampu menjawab perubahan zaman. Pernyataan ini sangat relevan dengan kondisi sekarang. Menjawab perubahan zaman berarti tidak alergi terhadap teknologi, tetapi juga tidak larut tanpa arah di dalamnya.
Teknologi itu seperti pisau. Kalau digunakan dengan benar, ia sangat bermanfaat. Tapi kalau digunakan sembarangan, bisa merugikan. Media sosial bisa jadi tempat belajar dan promosi karya, tapi juga bisa jadi sumber distraksi dan rasa tidak percaya diri. Karena itu, kita perlu bijak dalam menggunakannya..
Gen Z sebenarnya punya modal yang kuat: kreatif, berani, dan cepat belajar. Kita juga tidak takut mencoba hal baru. Namun, semua potensi itu tidak akan berarti kalau kita hanya sibuk membandingkan diri dengan orang lain di layar. Dunia digital memang penuh persaingan, tetapi juga penuh kesempatan.
Di era sekarang, skill jauh lebih penting daripada sekadar popularitas. Followers bisa bertambah dan berkurang. Tren bisa berubah dalam semalam. Tetapi kemampuan, pengalaman, dan karya akan selalu punya nilai. Ketika kita menggunakan teknologi untuk belajar dan berkarya baik melalui organisasi seperti IPM maupun secara mandiri kita sedang mempersiapkan diri untuk masa depan.
Pada akhirnya, inovasi dan teknologi akan terus berkembang, dengan atau tanpa kesiapan kita. Pilihannya sederhana: menjadi penonton atau menjadi pemain. Menjadi generasi yang hanya menikmati karya orang lain, atau menjadi generasi yang menghasilkan karya.
Masa depan bukan milik mereka yang sekadar aktif di media sosial, tetapi milik mereka yang aktif menciptakan solusi. Sebagai Gen Z dan kader IPM, kita memiliki kesempatan sekaligus tanggung jawab untuk membuktikan bahwa teknologi bukan hanya tempat hiburan, melainkan alat perubahan.
Karena itu, mulai sekarang, jangan hanya bertanya “apa yang sedang viral?”, tetapi tanyakan juga “apa yang bisa aku ciptakan?”. Dari pertanyaan sederhana itulah inovasi lahir. Dan dari langkah kecil itulah perubahan besar bisa dimulai.
Editor: Zahfa Almedina