Oleh: Agita Asri Kusumawardani
Pernah nggak sih merasa di titik sampai bertanya dalam hati, “Kenapa semua harus aku yang jalani sendiri?” Rasanya tanggung jawab datang bersamaan, pikiran penuh, hati sesak. Padahal setiap memulai sesuatu, kita terbiasa mengucap, “Bismillah.” Tapi jujur, aku merasa apakah itu benar-benar kesadaran atau hanya kata pembuka yang lewat begitu saja di lisan?
Kita sering ingat mengucapkannya saat presentasi, memulai pekerjaan baru, atau mengambil keputusan penting. Namun, untuk hal kecil seperti membuka HP, membalas chat, membaca buku, atau melangkah masuk kelas, seringkali kita lupa. Padahal, justru di hal-hal kecil itulah letak rahasianya.
Dalam ayat pertama Al-Fatihah, tersembunyi pelajaran tentang bagaimana kita memposisikan Allah dalam hidup. Dalam kaidah bahasa, ada perbedaan antara kalimat
“Aku makan dengan sendok” dan
“Dengan sendok, aku makan.”
Ketika alatnya diletakkan di depan, fokusnya bukan lagi pada aktivitasnya, tetapi pada perantaranya. Begitu pula dengan kata “bi” yang berarti “dengan”.
Saat kita mengucapkan Bismillah, sejatinya kita sedang berkata, “Dengan Allah, aku melakukan ini.” Bukan, “Aku melakukan ini lalu semoga Allah membantu,” tetapi sejak awal kita sudah menempatkan Allah di depan. Dari “aku bisa” menjadi “aku bersama.” Kita sedang mengakui bahwa tanpaNya, kita tidak punya daya apa-apa.
Lalu mengapa harus nama “Allah”? Mengapa tidak cukup dengan menyebut salah satu sifatNya saja? Karena nama Allah adalah nama yang paling lengkap. Di dalamnya sudah mencakup seluruh Asmaul Husna. Maha Mengetahui, Maha Menyembuhkan, Maha Menguatkan, Maha Melindungi semuanya ada dalam satu nama itu. Dan sering kali kita sendiri tidak tahu sifat mana yang sedang paling kita butuhkan.
Kita merasa hanya ingin belajar, padahal yang kita butuhkan sebenarnya ketenangan. Kita merasa hanya ingin bekerja, padahal kita sedang butuh kesabaran. Kita merasa hanya ingin bertahan, padahal kita sedang perlu dikuatkan.
Dengan menyebut “Allah”, kita seperti berkata, “Ya Allah, aku tidak tahu apa yang paling aku perlukan, tapi Engkau tahu. Maka aku libatkan Engkau sepenuhnya.”
Bismillah itu sederhana, tapi dalam. Ia bukan mantra, bukan sekadar religius di awal aktivitas. Ia adalah keputusan sadar untuk menempelkan setiap langkah dengan nama Allah.
Mau belajar, tempelkan dengan Allah. Mau bekerja, tempelkan dengan Allah. Mau berbicara, bahkan mau beristirahat, tempelkan dengan Allah. Di situlah yang duniawi berubah menjadi ibadah. Yang terlihat receh menjadi bermakna. Yang terasa sepi menjadi ditemani.
Mungkin selama ini kita bukan lelah karena terlalu banyak hal yang harus dikerjakan, tetapi karena terlalu sering merasa mengerjakannya sendirian. Padahal sejak awal, jika kita benar-benar memahami makna Bismillah, kita sudah menyatakan bahwa kita tidak sendiri. Kita berjalan dengan Allah. Jadi mari mulai lagi, pelan-pelan, dengan kesadaran yang utuh. Bukan hanya di lisan, tetapi di hati.
Bismillahirrahmanirrahim (بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ)
Editor: Arsy Sekar Kemuning