Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Masak Sendiri Dapat Menjadi Penyelamat Bagi Kaum Gaji UMR

Jovi Fernando Setiawan by Jovi Fernando Setiawan
Februari 8, 2026
in Esai, Narasi
0
Masak Sendiri Dapat Menjadi Penyelamat Bagi Kaum Gaji UMR
17
SHARES
102
VIEWS

Oleh: Jovi Fernando Setiawan

Tanggal muda adalah momen yang paling menipu bagi kita. Notifikasi transfer gaji masuk membuat hati berbunga-bunga sesaat. Rasanya semua beban hidup terangkat seketika saat melihat saldo. Kita merasa kaya dan bebas membeli apa saja yang diinginkan. Aplikasi pesan antar makanan langsung dibuka dengan penuh semangat.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Namun, euforia itu sering kali lenyap dalam sekejap mata. Masuk minggu kedua, saldo rekening mulai menunjukkan tanda-tanda kritis. Kita bingung ke mana perginya uang jutaan rupiah tersebut. Padahal, kita merasa tidak membeli barang mewah sama sekali. Ternyata, “kebocoran” terbesar ada pada pos pengeluaran makan harian.

Bagi kita kaum pekerja dengan gaji UMR, ini masalah serius. Hidup di kota besar dengan gaji pas-pasan itu keras. Harga kebutuhan pokok terus merangkak naik tanpa henti setiap tahun. Sementara kenaikan gaji sering kali kalah cepat dengan laju inflasi. Mengandalkan beli makan di luar adalah tindakan bunuh diri finansial.

Di sinilah kita perlu bicara serius soal satu skill penyelamat. Skill itu bukan coding canggih atau investasi saham yang rumit. Skill itu adalah kemampuan dasar untuk memasak makanan sendiri. Sayangnya, banyak anak muda yang meremehkan kemampuan vital ini. Ada anggapan bahwa memasak itu ribet dan membuang waktu.

Lebih parah lagi, masih ada stigma gender yang sangat kuno. Memasak sering dianggap hanya tugas perempuan atau ibu rumah tangga. Laki-laki sering merasa tabu atau gengsi jika masuk ke dapur. Padahal, rasa lapar tidak mengenal jenis kelamin sama sekali. Semua manusia, pria atau wanita, butuh makan untuk hidup.

Memasak sejatinya adalah basic life skill atau kemampuan bertahan hidup. Ia setara dengan kemampuan menyetir kendaraan, berenang, atau mencuci baju. Jika kamu bisa masak, kamu tidak bergantung pada orang lain. Kamu tidak akan mati kelaparan saat dompet sedang tipis. Laki-laki yang bisa masak justru terlihat lebih mandiri dan keren.

Mari kita bedah secara matematika sederhana agar lebih masuk akal. Sekali makan di warung atau lewat aplikasi, minimal habis 25 ribu. Itu belum termasuk ongkos kirim dan biaya layanan aplikasi. Jika sehari tiga kali makan, kita habis 75 ribu rupiah. Sebulan, uang makan saja bisa tembus 2,2 juta rupiah.

Bagi gaji UMR yang rata-rata 4 sampai 5 juta, itu fatal. Setengah gaji habis hanya untuk urusan perut dan toilet semata. Sekarang bandingkan jika kita belanja bahan dan masak sendiri di kos. Uang 25 ribu di pasar bisa dapat sayur, tahu, dan telur. Bahan itu cukup untuk makan seharian penuh, bahkan bisa lebih.

Kita bisa memangkas pengeluaran hingga 50% atau lebih setiap bulannya. Sisa uangnya bisa dialokasikan untuk hal yang jauh lebih krusial. Kita bisa menabung untuk dana darurat atau modal nikah nanti. Atau minimal, kita tidak perlu berutang di akhir bulan. Hidup jadi lebih tenang tanpa teror tagihan paylater yang menumpuk.

Sebuah riset terbaru dari Indonesia Consumer Trend Report 2026 menyoroti hal ini. Laporan yang dirilis oleh lembaga riset Jakpat ini sangat relevan. Mereka menemukan pergeseran perilaku masif pada Generasi Z di tahun 2026. Sebanyak 65% responden muda mengaku drastis mengurangi jajan online. Alasan utamanya adalah tekanan biaya hidup yang semakin mencekik leher.

Laporan tersebut juga menyebutkan tren positif bernama “Frugal Living” atau hidup hemat. Anak muda mulai bangga membawa bekal masakan sendiri ke kantor. Membawa bekal bukan lagi tanda pelit atau tidak gaul. Justru, itu tanda bahwa kita cerdas dan matang secara finansial. Kita sadar kekayaan dibangun dari kebiasaan kecil sehari-hari.

Memasak juga memberikan kepuasan batin yang unik sebagai self reward. Ada rasa bangga saat kita berhasil menyajikan makanan yang enak. Kita tidak perlu beli barang mahal untuk mengapresiasi diri sendiri. Sepiring nasi goreng buatan tangan sendiri sudah cukup membuat bahagia. Rasanya jauh lebih nikmat karena dibumbui dengan usaha keras.

Bagi laki-laki, kemampuan memasak adalah nilai tambah yang luar biasa. Di mata pasangan atau calon mertua, pria yang bisa masak itu istimewa. Itu menunjukkan bahwa kamu adalah pria yang bertanggung jawab dan pengayom. Kamu bisa mengurus diri sendiri dan orang-orang yang kamu sayangi. Jadi, buang jauh-jauh gengsi “dapur itu tempat wanita”.

Selain hemat, masak sendiri menjamin kebersihan dan kesehatan tubuh kita. Jajan di luar sering kali mengandung MSG atau micin berlebih. Minyak yang dipakai mungkin sudah hitam pekat bekas gorengan kemarin. Gula dan garamnya juga sering kali di luar batas wajar kesehatan. Kita tidak pernah tahu sebersih apa dapur warung tersebut.

Kementerian Kesehatan RI dalam laporan Profil Kesehatan Indonesia 2025 memberikan peringatan. Data menunjukkan peningkatan penyakit tidak menular pada usia muda 20-an. Kasus hipertensi dan diabetes pada remaja akhir meningkat tajam. Salah satu penyebab utamanya adalah konsumsi makanan olahan dan jajanan luar.

Saat masak sendiri, kita adalah bos yang menentukan takaran gizi. Kita bisa mengurangi garam agar tidak kena darah tinggi di masa tua. Kita bisa mengganti minyak sawit dengan opsi menumis yang lebih sehat. Kita memastikan sayuran dicuci bersih sebelum masuk ke wajan panas. Tubuh kita adalah investasi jangka panjang yang harus dijaga.

Banyak anak muda beralasan tidak punya waktu untuk memasak sendiri. “Pulang kerja sudah capek, mana sempat ke dapur?” begitu keluhnya. Solusinya adalah metode Meal Prep atau persiapan makan mingguan yang praktis. Luangkan waktu di hari Minggu pagi untuk masak dalam porsi besar.

Masaklah ayam ungkep, rendang, atau balado telur sekaligus banyak sekalian. Simpan dalam wadah tertutup dan masukkan ke dalam kulkas atau frezeer. Saat pulang kerja, kita tinggal memanaskan lauk tersebut sebentar saja. Praktis, cepat, dan tetap hemat tanpa harus menunggu abang ojol. Waktu yang dipakai pun tidak lebih dari sepuluh menit.

Mulailah dengan alat tempur yang paling sederhana di kamar kos. Rice cooker adalah senjata andalan anak kos sepanjang masa. Alat ini tidak hanya untuk menanak nasi putih saja. Kita bisa merebus mi, mengukus telur, bahkan membuat sup sayur. Dengan satu alat kecil, kebutuhan makan kita bisa terpenuhi.

Belanja bahan makanan juga punya seni tersendiri yang sangat asyik. Cobalah bangun pagi dan pergi ke pasar tradisional terdekat di kampung. Jangan belanja sayur di supermarket yang harganya sudah kena pajak. Di pasar, kita bisa menawar harga dengan pedagang lokal langsung. Kita bisa dapat tempe setebal batu bata dengan harga receh.

Interaksi dengan pedagang pasar juga melatih kemampuan komunikasi dan negosiasi. Kita jadi tahu mana sayur yang segar dan yang sudah layu. Kita jadi paham fluktuasi harga cabai yang sering naik turun. Pengetahuan lapangan ini tidak diajarkan di bangku kuliah manapun. Ini adalah ilmu jalanan yang sangat berguna seumur hidup.

Jangan malu dibilang “pelit” karena jarang ikut makan siang di luar. Teman kantor yang mengajak boros tidak akan membayar tagihanmu nanti. Kamu harus punya pendirian kuat demi kesehatan dompetmu sendiri. Tolak dengan halus, “Maaf, aku bawa bekal hari ini.” Lama-lama mereka akan mengerti dan bahkan mungkin ikut membawa bekal.

Memasak juga bisa menjadi sarana mempererat hubungan sosial yang murah. Ajak teman kos atau pacar untuk patungan bahan dan masak bersama. Makan bareng dari satu panci itu rasanya nikmat dan hangat. Kita bisa ngobrol santai tanpa harus bayar mahal di kafe. Kebersamaan yang tulus sering kali lahir di meja makan sederhana.

Tekanan ekonomi global diprediksi masih akan berat di tahun-tahun mendatang. Harga beras dan kebutuhan pokok mungkin akan naik lagi tahun depan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan kenaikan gaji UMR yang lambat. Kita harus melakukan efisiensi radikal dari pos pengeluaran terbesar kita. Memasak adalah strategi pertahanan ekonomi yang paling masuk akal.

Coba bayangkan skenario terburuk jika kita kena PHK mendadak. Jika kita terbiasa jajan mahal, kita akan stres dan panik. Tapi jika kita terbiasa masak bahan murah, kita bisa bertahan hidup. Kita bisa makan enak dengan modal telur dan kecap saja. Kemampuan adaptasi inilah yang membuat mental kita kuat menghadapi krisis.

Jadi, berhentilah merasa menjadi korban keadaan ekonomi yang sulit ini. Ambil kendali penuh atas dompetmu mulai dari dapur kosanmu sendiri. Jangan biarkan gaji UMR-mu habis hanya untuk memperkaya pemilik restoran waralaba. Uangmu terlalu berharga untuk ditukar dengan gengsi semata.

Mulailah belajar satu resep sederhana hari ini juga, kawan muda. Buka YouTube atau TikTok, cari tutorial masak simpel yang mudah diikuti. Jangan takut gosong atau keasinan, itu bagian wajar dari belajar. Lidah kita akan beradaptasi dan kemampuan kita pasti akan meningkat.

Jadikan memasak sebagai gaya hidup baru anak muda yang keren. Anak muda yang sadar finansial dan peduli kesehatan badannya sendiri. Anak muda yang tidak manja dan bisa mengurus dirinya sendiri. Laki-laki atau perempuan, semua wajib bisa memegang sutil dan pisau.

Karena pada akhirnya, kitalah yang bertanggung jawab atas hidup kita. Tidak ada yang akan menyuapi kita saat kita tua nanti. Mari kita nyalakan kompor dan mulai meracik masa depan cerah. Masa depan di mana dompet kita tebal dan perut kita kenyang.

Selamat mencoba dan nikmati setiap proses di dapur kecilmu itu. Rasakan betapa nikmatnya makanan yang dibumbui dengan keringat dan usaha sendiri. Kamu hebat, kamu mandiri, dan kamu pasti bisa bertahan hidup.

Salam sobat UMR, mari masak demi masa depan yang mapan!

Editor: Rafidah Azis

Terkait

Tags: FrugalLivingGajiUMRMemasakRefleksiDiri
Previous Post

Membangun Kepemimpinan Kolaboratif di Era Generasi Z dan Generasi Alpha

Next Post

Sambut Ramadhan, PCM Grogol Laksanakan Tarhib Ramadhan di Masjid Baitul Makmur

Jovi Fernando Setiawan

Jovi Fernando Setiawan

Next Post
Sambut Ramadhan, PCM Grogol Laksanakan Tarhib Ramadhan di Masjid Baitul Makmur

Sambut Ramadhan, PCM Grogol Laksanakan Tarhib Ramadhan di Masjid Baitul Makmur

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.