KALIMAHSAWA.ID, KEDIRI – Dalam rangka memperkuat niali toleransi beragama, Mahasiswa KKN Kelompok 4 UIN Syekh Wasil Kediri bersama mahasiswa Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri melaksanakan kunjungan ke Rumah Duka Gie Kie Kong Soe pada Jumat, 30 Januari 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja KKN dengan tema Ekoteologi dan Moderasi Beragama, khususnya melalui kunjungan ke tempat peribadatan dan lembaga sosial keagamaan.
Rumah Duka Gie Kie Kong Soe pada awalnya didirikan untuk melayani masyarakat Tionghoa. Namun, seiring perkembangan zaman dan semangat keterbukaan, rumah duka ini kini melayani masyarakat umum tanpa membedakan latar belakang agama maupun etni. Hal tersebut disampaikan langsung oleh salah satu pengurus rumah duka saat menerima kunjungan mahasiswa.
“Di sini kami melayani semua umat. Mau Konghucu, Buddha, Kristen, Katolik, maupun Islam, semua kami layani sesuai dengan keyakinan terakhir almarhum,” jelasnya.
Dalam proses pengurusan jenazah, pelayanan disesuaikan dengan ajaran agama masing-masing. Untuk jenazah beragama Islam, pengurus rumah duka juga bekerja sama dengan tokoh agama setempat agar prosesnya sesuai dengan syariat.
Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa juga mendapat penjelasan mengenai berbagai ornamen dan simbol budaya yang terdapat di lingkungan rumah duka. Ornamen seperti singa dan qilin dipahami sebagai simbol penjaga dan pelindung, sementara relief-relief dan sajian tradisional memiliki makna filosofis tersendiri, seperti simbol kemakmuran, harapan, kebersamaan keluarga, serta penghormatan kepada leluhur. Tradisi sembayangan dan penyajian sesaji dipahami sebagai bagian dari budaya dan penghormatan terhadap leluhur, bukan semata-mata praktik keagamaan.
Selain itu, mahasiswa juga diperkenalkan pada tradisi Cheng Beng, yaitu waktu khusus untuk berziarah dan merawat makam leluhur yang dilaksanakan setiap tahun pada awal April. Tradisi ini dipahami sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan kepada orang tua dan leluhur yang telah berjasa dalam kehidupan keluarga. Nilai penghormatan terhadap leluhur menjadi salah satu prinsip penting dalam budaya Tionghoa yang terus dijaga hingga kini.
Selain aspek budaya dan moderasi beragama, Rumah Duka Gie Kie Kong Soe juga menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Dalam proses pemandian dan perawatan jenazah, pengurus telah menyiapkan sistem pengolahan limbah (IPAL) untuk mengolah limbah cair agar tidak mencemari lingkungan sekitar. Hal ini sejalan dengan prinsip ekoteologi, yaitu kepedulian terhadap kelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual manusia.
Fasilitas yang dimiliki rumah duka ini cukup lengkap, mulai dari ruang semayam, peti jenazah dengan berbagai jenis, peti pendingin, hingga ambulans. Pelayanan yang diberikan tidak semata bersifat komersial, tetapi juga mengedepankan nilai sosial dan kemanusiaan. Rumah duka ini terbuka untuk membantu keluarga yang kurang mampu, bahkan tanpa pungutan biaya, sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas sosial.
Melalui kunjungan ini, mahasiswa memperoleh pemahaman langsung bahwa moderasi beragama bukan hanya wacana, melainkan praktik nyata dalam kehidupan masyarakat. Rumah Duka Gie Kie Kong Soe menjadi contoh bagaimana perbedaan agama, budaya, dan tradisi dapat dikelola dengan sikap saling menghormati, toleransi, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Kontributor: Alfitri