Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Muhammadiyah dan Seni Melepas Jabatan 

AdminKS by AdminKS
Februari 1, 2026
in Esai, Narasi
0
Muhammadiyah dan Seni Melepas Jabatan 
13
SHARES
76
VIEWS

Oleh: Syifa’ Ma’ruf (PDPM Kab Pekalongan)

Di banyak organisasi, kepemimpinan sering diwariskan seperti pusaka: dari ayah ke anak, dari keluarga ke kerabat. Namun, Muhammadiyah memilih jalan yang berbeda. Di persyarikatan ini, estafet kepemimpinan tidak ditentukan oleh garis darah, tetapi oleh garis amanah, integritas, dan kompetensi.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Muhammadiyah sejak awal berdiri mempraktikkan manajemen modern dalam tata kelola organisasi. Periodesasi kepemimpinan bukan sekadar formalitas administratif, melainkan sistem etis untuk menjaga marwah organisasi dari penyakit klasik: kolusi, korupsi, dan nepotisme. Di sinilah Muhammadiyah menunjukkan dirinya sebagai organisasi Islam yang modern, profesional, dan meritokratis.

Bukan Warisan Darah, Melainkan Warisan Ideologis

Dalam Muhammadiyah, tidak ada konsep monarki organisasi. Tidak ada “dinasti” jabatan. Siapa pun, dari keturunan mana pun, dapat menduduki posisi kepemimpinan—selama memenuhi kaidah persyarikatan, memiliki kapasitas, dan lulus dalam proses kaderisasi.

Tongkat estafet tidak diserahkan kepada yang paling dekat secara keluarga, tetapi kepada yang paling siap memikul amanah. Yang diwariskan bukan jabatan, melainkan ideologi, visi, dan etos perjuangan. Inilah yang membuat Muhammadiyah tetap relevan lintas generasi.

1. Kepemimpinan Bukan Tentang “Siapa”, Tetapi “Apa”

Di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), kepemimpinan tidak dibangun di atas figurisme. Pemimpin yang hebat bukanlah yang membuat institusi bergantung pada dirinya, tetapi yang membangun sistem sehingga institusi tetap berjalan meski dirinya sudah purna tugas.

Sistem yang kuat—dalam bentuk SOP, budaya organisasi, tata kelola profesional, dan standar mutu—menjadi warisan utama. Ketika seorang pemimpin turun, organisasi tidak goyah, karena yang ditinggalkan bukan sekadar instruksi personal, tetapi mekanisme yang sehat dan berkelanjutan.

2. Kaderisasi sebagai Ujian Nyali dan Integritas

Regenerasi kepemimpinan di Muhammadiyah tidak terjadi secara instan. Ia adalah hasil dari proses panjang kaderisasi dan meritokrasi. Seorang calon pemimpin harus melalui penyaringan yang ketat:

  • Teruji integritasnya dalam kehidupan berorganisasi.
  • Terbukti kompetensinya dalam mengelola amal usaha.
  • Memiliki loyalitas ideologis pada visi dan misi persyarikatan.

Kaderisasi bukan sekadar formalitas pelatihan, tetapi laboratorium karakter. Di sinilah kader ditempa bukan hanya sebagai manajer institusi, tetapi sebagai penjaga nilai-nilai dakwah dan tajdid.

3. Keikhlasan Melepas Takhta: Puncak Kepemimpinan

Dalam Muhammadiyah, kekuasaan bukan tujuan, melainkan penugasan sementara. Pemimpin yang hebat justru ditandai oleh kesiapannya untuk menepi ketika masa tugas berakhir. Ia tidak menggenggam jabatan sebagai identitas diri, tetapi sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Lebih dari itu, pemimpin yang sukses adalah yang mampu mencetak pengganti yang lebih baik dari dirinya. Seperti pemanah yang bangga melihat anak panahnya melesat lebih jauh, seorang pemimpin Muhammadiyah merasa bahagia ketika kader yang ia bina melampaui capaian yang pernah ia raih.

Estafet yang Menjamin Keberlanjutan

Sistem periodisasi dan kaderisasi yang dijalankan Muhammadiyah bukan hanya mekanisme organisasi, tetapi filosofi peradaban. Ia memastikan bahwa persyarikatan tidak bergantung pada satu figur, tidak rapuh oleh pergantian generasi, dan tidak terjebak pada kultus individu.

Di tengah krisis kepemimpinan yang melanda banyak organisasi dan institusi, model regenerasi Muhammadiyah menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati bukanlah tentang bertahan di puncak, tetapi tentang menyiapkan puncak itu untuk generasi berikutnya.

Karena dalam Muhammadiyah, yang abadi bukanlah nama seseorang, melainkan nilai dan amanah yang terus diwariskan.

Terkait

Tags: IndonesiaIslamMuhammadiyahpancasilapendidikanPeradaban
Previous Post

Dari Pra-Modern ke Modern: Pesan Kritis Dr. Hamim Ilyas di Studium General Pondok Shabran UMS

Next Post

DPD IMM DIY Periode 2025–2027 Resmi Dikukuhkan, Usung Transformasi Inklusif Gerakan

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
DPD IMM DIY Periode 2025–2027 Resmi Dikukuhkan, Usung Transformasi Inklusif Gerakan

DPD IMM DIY Periode 2025–2027 Resmi Dikukuhkan, Usung Transformasi Inklusif Gerakan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.