Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Hilangnya Rasa Malu di Era Digital

Jovi Fernando Setiawan by Jovi Fernando Setiawan
Januari 17, 2026
in Esai, Narasi
0
Hilangnya Rasa Malu di Era Digital
19
SHARES
110
VIEWS

Oleh: Jovi Fernando Setiawan

​

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Kita hidup di era di mana batas antara ruang privat dan publik semakin kabur dan tipis. Dulu, masalah rumah tangga atau konflik pribadi disimpan rapat di balik pintu rumah yang terkunci. Kini, semuanya digelar bebas di etalase digital untuk dikonsumsi siapa saja yang lewat di linimasa.

​Media sosial, yang awalnya dirancang untuk menjalin koneksi, kini berevolusi menjadi panggung drama realitas tanpa skenario. Rasa malu, yang dulunya menjadi rem alami bagi perilaku manusia beradab, perlahan terkikis oleh notifikasi like dan komentar yang membuai ego kita setiap hari.

​Fenomena ini sungguh menarik sekaligus miris untuk diamati secara sosiologis. Seseorang tak lagi segan mengumbar aib, baik milik sendiri maupun orang lain. Seolah ada kepuasan batin ketika masalah dapur menjadi konsumsi publik, dan validasi dari orang asing dianggap lebih berharga.

​Kita melihat wanita dan pria sama-sama terjebak dalam pusaran arus narsisme ini. Tidak ada gender yang dominan dalam hal perilaku oversharing. Semuanya berlomba menjadi yang paling tersakiti atau paling “benar” dalam narasi konflik yang seharusnya bisa diselesaikan secara empat mata.

​Tengok saja bagaimana pertengkaran suami istri kini disiarkan secara live atau lewat unggahan story berlatar hitam. Tangkapan layar percakapan pribadi, yang seharusnya menjadi rahasia, kini disebar semudah membalikkan telapak tangan demi mencari dukungan dari pengikut yang tak dikenal.

​Istilah “aib” telah mengalami pergeseran makna yang cukup radikal dalam satu dekade terakhir. Dulu, aib adalah sesuatu yang harus ditutupi demi menjaga martabat keluarga. Sekarang, aib justru dikapitalisasi menjadi konten yang mendatangkan engagement dan potensi keuntungan materi.

​Ada ilusi keintiman yang diciptakan oleh layar gawai yang kita pegang setiap saat. Saat mengetik status atau mengunggah video curhatan sambil menangis, seseorang merasa sedang berbicara pada teman dekat. Padahal, ia sedang berbicara pada ribuan, bahkan jutaan mata yang siap menghakimi.

​Hilangnya rasa malu ini juga dipicu oleh budaya “spill the tea” yang kian mewabah. Membuka rahasia orang lain dianggap sebagai bentuk keberanian atau transparansi. Padahal, seringkali itu hanyalah bentuk balas dendam digital yang pengecut karena ketidakmampuan berkomunikasi dewasa.

​Pria yang seharusnya menjaga kehormatan pasangannya, kini tak ragu membeberkan kekurangan sang istri atau pacar saat hubungan kandas. Begitu pula sebaliknya, wanita dengan mudah mengumbar keburukan mantan pasangannya, menciptakan jejak digital yang kelak akan sulit untuk dihapus.

​Kita seakan lupa bahwa internet adalah arsip raksasa yang tidak pernah benar-benar lupa. Apa yang kita unggah saat emosi memuncak akan abadi di sana. Anak cucu kita di masa depan mungkin akan menemukan jejak digital di mana orang tua mereka saling menjatuhkan martabat di depan umum.

​Sistem algoritma media sosial juga turut “berdosa” dalam melanggengkan budaya ini. Konten yang memicu emosi, amarah, dan kontroversi cenderung lebih cepat viral dibandingkan konten damai. Akibatnya, pengguna terpacu untuk menjadi semakin dramatis demi mendapatkan sorotan algoritma.

​Rasa malu sebenarnya adalah mekanisme pertahanan sosial yang penting. Ia menjaga kita agar tidak melanggar norma kepatutan. Ketika rasa malu itu mati, kita kembali ke sifat primitif, namun dengan alat yang canggih. Kita menjadi masyarakat yang haus tontonan dari penderitaan orang lain.

​Ironisnya, mereka yang gemar mengumbar aib ini seringkali berlindung di balik dalih “menjadi diri sendiri” atau “apa adanya”. Padahal, menjadi otentik tidak sama dengan menelanjangi privasi. Ada garis tegas antara kejujuran emosional dengan ketidaksopanan yang diumbar ke publik.

​Dampak psikologis dari perilaku ini sangat nyata namun sering diabaikan. Ketika masalah pribadi menjadi konsumsi publik, ruang untuk rekonsiliasi menjadi tertutup. Tekanan dari komentar netizen seringkali memperkeruh suasana, membuat masalah kecil menjadi bola salju yang menghancurkan.

​Tidak jarang kita melihat karier seseorang hancur hanya karena satu unggahan emosional yang tidak terkontrol. Reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam hitungan detik. Anehnya, contoh kasus seperti ini tidak menyurutkan orang lain untuk melakukan kesalahan yang sama.

​Mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri sebelum menekan tombol kirim: Apakah dunia benar-benar perlu tahu masalah ini? Apakah kepuasan sesaat dari dukungan online sebanding dengan hilangnya harga diri? Seringkali, jawabannya adalah tidak, namun jempol kita bergerak lebih cepat.

​Edukasi tentang etika digital rasanya perlu ditanamkan ulang, tidak hanya pada remaja, tapi juga pada orang dewasa. Kedewasaan usia ternyata tidak menjamin kedewasaan dalam bermedia sosial. Banyak orang tua yang justru menjadi pelopor dalam drama-drama media sosial yang memalukan.

​Kita merindukan masa di mana “misteri” masih memiliki daya tarik. Di mana seseorang dikenal karena prestasi atau kebaikannya, bukan karena detail skandal perselingkuhan atau utang piutangnya. Privasi adalah kemewahan baru di era di mana segalanya menjadi transparan dan telanjang.

​Mengembalikan rasa malu bukan berarti kita harus menjadi munafik atau menyembunyikan kebenaran. Ini tentang menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ruang publik untuk hal publik, ruang privat untuk hal privat. Sesederhana itu, namun tampaknya menjadi hal tersulit dilakukan saat ini.

​Mari kita berhenti sejenak dan merenung. Menjaga aib orang lain, dan juga aib diri sendiri, adalah bentuk tertinggi dari menghargai kemanusiaan. Jangan biarkan layar gawai mencuri rasa malu kita, karena itulah sisa terakhir dari adab yang membedakan kita sebagai manusia berbudaya.

​Pada akhirnya, validasi terbaik tidak datang dari jumlah likes atau komentar simpati dari orang asing. Ketenangan sejati datang dari kemampuan kita menyelesaikan masalah dengan bermartabat, tanpa perlu mengubah hidup kita menjadi sirkus tontonan bagi orang-orang yang hanya ingin hiburan.

Editor: Zahfa Almedina

Terkait

Tags: AdabEra DigitalMalupendidikan
Previous Post

Ponpes Raudlatul Muhibbin Surakarta Tegaskan Mutu Keilmuan lewat Peluncuran 14 Kitab Karya Santri pada Khataman Kitab Kuning ke-III 2026

Next Post

Episentrum di Balik Punggung: Gugatan atas Stigma “Kader Kinthilan”

Jovi Fernando Setiawan

Jovi Fernando Setiawan

Next Post
Episentrum di Balik Punggung: Gugatan atas Stigma “Kader Kinthilan”

Episentrum di Balik Punggung: Gugatan atas Stigma “Kader Kinthilan”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.