Oleh: Bian Putri Amelya & Muhammad Zulfikri Rohmawansyah (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gresik)
Pagi hari di sebuah sekolah Muhammadiyah, suara bel masuk berbunyi dan diikuti oleh langkah siswa yang berlari menuju kelas. Di balik rutinitas yang sederhana itu, tersembunyi sejarah panjang yang terkait dengan bangsa Indonesia. Bukan hanya sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai gerakan sosial dan keagamaan yang sejak awal berdiri turut serta membantu mengasuh Indonesia. Muhammadiyah didirikan pada 18 November 1912, jauh sebelum Indonesia merdeka. KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi ini bukan hanya untuk mengelola pesantren atau sekolah, tetapi juga untuk membangunkan kesadaran umat agar beragama secara bijak, berkembang, dan bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa.
Sejak awal, Muhammadiyah menganggap bahwa agama tidak bisa dipisahkan dari isu kemanusiaan dan kebangsaan. Jejak kebangsaan Muhammadiyah terlihat jelas dalam perjuangan kemerdekaan. Tokoh-tokoh Muhammadiyah tidak hanya menyampaikan dakwah di tempat ibadah, tetapi juga terlibat dalam dunia politik nasional. KH Mas Mansur aktif dalam pergerakan nasional, sementara Ki Bagus Hadikusumo memainkan peran penting dalam menyusun dasar negara.
Dalam sidang BPUPKI, Ki Bagus Hadikusumo menunjukkan sikap besar dengan menerima perubahan Piagam Jakarta demi menjaga persatuan bangsa. Sikap ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah lebih mengutamakan keutuhan NKRI daripada kepentingan kelompok tertentu. Setelah Indonesia merdeka, peran Muhammadiyah dalam kebangsaan tetap berlanjut. Melalui khittah perjuangannya, Muhammadiyah menegaskan posisinya sebagai gerakan dakwah yang tidak terlibat langsung dalam politik praktis, tetapi tetap aktif mengawasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Muhammadiyah menerima Pancasila sebagai dasar negara dan menganggapnya sesuai dengan nilai-nilai Islam. Inilah bentuk Islam yang berkembang: Islam yang memperkuat persatuan, bukan penyebab perpecahan.
Peran kebangsaan Muhammadiyah paling jelas terlihat melalui kegiatan amal yang dilakukannya. Ribuan sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah ada di berbagai kota hingga pelosok desa, mencerdaskan anak bangsa tanpa memandang latar belakang mereka. Rumah sakit dan klinik Muhammadiyah juga melayani masyarakat dari berbagai agama dan golongan. Ketika terjadi bencana, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) datang sebagai pelindung kemanusiaan, bahkan sampai ke luar negeri. Peran ini semakin terlihat saat terjadi krisis kesehatan, seperti pandemi COVID-19, di mana Muhammadiyah turut membantu pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan, edukasi kepada masyarakat, serta penanganan pasien.
Kontribusi ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak hanya berdakwah melalui lisan, tetapi juga melalui aksi nyata yang bermanfaat bagi bangsa. Namun, di tengah kontribusi yang besar tersebut, Muhammadiyah juga menghadapi tantangan kebangsaan yang cukup berat. Radikalisme, intoleransi, krisis moral, serta ketimpangan sosial adalah masalah yang terus menguji peran organisasi keagamaan itu. Di tengah kondisi seperti ini, Muhammadiyah diharapkan tetap konsisten menyampaikan pesan Islam yang moderat, rasional, dan berpijak pada nilai kemanusiaan.
Dalam konteks demokrasi dan kehidupan politik, Muhammadiyah menempatkan diri sebagai kekuatan moral (moral force), bukan kekuatan politik praktis. Muhammadiyah tidak terlibat langsung dalam politik kekuasaan, tetapi aktif memberikan kritik dan masukan yang konstruktif terhadap kebijakan publik. Sikap ini bertujuan untuk mengawal jalannya demokrasi agar tetap berlandaskan etika, keadilan, dan kepentingan rakyat.
Dengan demikian, Muhammadiyah berkontribusi dalam membangun demokrasi yang berkeadaban. Tanggung jawab kebangsaan Muhammadiyah saat ini tidak hanya berupa menjaga warisan masa lalu, tetapi juga memastikan nilai-nilai tersebut tetap relevan di masa kini. Dakwah tidak cukup berhenti pada ceramah, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memperkuat persatuan, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat. Kritik terhadap kebijakan pemerintah pun harus disampaikan secara etis dan konstruktif, sebagai bagian dari tanggung jawab moral terhadap bangsa.
Peran kebangsaan Muhammadiyah sesungguhnya adalah cermin dari pesan KH Ahmad Dahlan, yaitu agama harus membawa manfaat sosial. Selama amal usaha Muhammadiyah masih ada, selama pendidikan dan pelayanan kemanusiaan terus berjalan, di situlah Muhammadiyah sedang menjaga keberlanjutan bangsa Indonesia.Di tengah perubahan zaman, Muhammadiyah tetap relevan sebagai penyangga nilai moral bangsa. Bukan hanya dengan slogan, tetapi melalui tindakan nyata. Sebab, Indonesia tidak hanya membutuhkan kemajuan ekonomi dan teknologi, tetapi juga nilai, etika, dan keteladanan. Di titik itulah, peran kebangsaan Muhammadiyah menemukan makna yang sejatinya.
Dan sekarang Di era digital dan globalisasi, Muhammadiyah juga dihadapkan pada tantangan baru berupa arus informasi yang sangat cepat, maraknya hoaks, serta degradasi nilai moral di ruang digital. Untuk menjawab tantangan tersebut, Muhammadiyah memanfaatkan teknologi informasi sebagai sarana dakwah, pendidikan, dan literasi digital. Melalui media sosial, platform daring, dan berbagai inovasi digital, Muhammadiyah berupaya membangun masyarakat yang cerdas, kritis, dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan. Secara keseluruhan, peran kebangsaan Muhammadiyah di tengah tantangan zaman sekarang sangatlah luas dan multidimensional.
Muhammadiyah tidak hanya berfungsi sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial, penjaga nilai kebangsaan, dan penggerak kemajuan umat dan bangsa. Dengan berlandaskan Islam Berkemajuan, Muhammadiyah terus berupaya menjaga keseimbangan antara nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan.
Oleh karena itu, Muhammadiyah tetap menjadi salah satu pilar penting dalam membangun Indonesia yang bersatu, adil, dan berkemajuan di tengah dinamika zaman yang terus berubah. Dan Muhammadiyah menghadapi tantangan zaman dengan inovasi di bidang pendidikan (ilmu pengetahuan & teknologi terkini), dakwah digital (media sosial, website moderat), penguatan ekonomi umat, respon kebencanaan global, promosi Islam moderat, serta peran sosial-politik dalam memperkuat demokrasi dan harmoni sosial, menunjukkan adaptasi kuat melalui keilmuan, teknologi, dan aksi nyata untuk mencerdaskan bangsa dan mencerahkan dunia.
Editor: Dwi Kurniadi