Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Gugatan Malaikat dan Bumi yang Menangis

RedaksiKS by RedaksiKS
Desember 9, 2025
in Esai, Narasi
0
Gugatan Malaikat dan Bumi yang Menangis
18
SHARES
106
VIEWS

​Oleh: M. Islahuddin

​Ribuan tahun sebelum hutan Sumatra digunduli, sebelum lubang-lubang tambang menganga di Kalimantan, dan sebelum deru mesin pengeruk pasir meraung di pesisir Tanah Air, sebuah dialog purba terjadi di langit. Sebuah “protes” diajukan oleh para malaikat makhluk yang tak memiliki nafsu kepada Sang Pencipta.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

​”Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu siapa yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?”

​Pertanyaan retoris itu kini terasa bukan lagi sekadar kekhawatiran, melainkan sebuah ramalan yang presisi. Hari ini, ketika kita melihat banjir bandang menyapu pemukiman di Sumatra, tanah longsor mengubur mimpi-mimpi penduduk desa, hingga perang yang tak kunjung usai memperebutkan sumber daya, kita terpaksa menunduk dan bertanya pada diri sendiri: Apakah malaikat benar? Apakah manusia sesungguhnya produk gagal yang tak layak memimpin bumi?

​Jawabannya mungkin tersembunyi di balik lumpur yang mengering di rumah-rumah korban bencana, dan di dalam ayat-ayat yang sering kita baca namun jarang kita “baca”.

Jejak Tangan yang “طَغَوۡاْ”

​Bencana ekologis yang melanda Indonesia belakangan ini bukanlah “takdir” dalam artian fatalistik yang membebaskan manusia dari tanggung jawab. Islam, agama yang dipeluk mayoritas penghuni negeri ini, menolak narasi bahwa kerusakan alam adalah hukuman buta dari Tuhan. Sebaliknya, Al-Qur’an dengan jernih menunjuk hidung pelakunya: tangan manusia.

​Dalam Surah Ar-Rum ayat 41, Allah berfirman: 

 ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ 

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

​Ayat ini adalah sebuah kausalitas ilmiah yang dibungkus bahasa wahyu. Kerusakan (fasaad) tidak turun dari langit, ia tumbuh dari benih keserakahan yang kita tanam. Ketika kita melihat deforestasi yang brutal demi perkebunan sawit atau pengerukan batu bara yang tak kenal ampun, kita sedang menyaksikan manifestasi dari apa yang disebut Al-Qur’an sebagai perilaku thagha—melampaui batas.

​Surah Al-Fajr ayat 11-12:

 ٱلَّذِينَ طَغَوۡاْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ 

“yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri,’

فَأَكۡثَرُواْ فِيهَا ٱلۡفَسَادَ 

“lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu,”

Ayat memberikan ilustrasi yang mengerikan tentang korelasi antara kekuasaan dan kerusakan: “Yang berbuat sewenang-wenang(طَغَوۡاْ ) dalam negeri, lalu mereka banyak berbuat kerusakan  (ٱلۡفَسَادَ) dalam negeri itu.”

​Kata ‘thagha’ di sini menarik untuk dibedah. Ia bukan sekadar dosa ritual. Ia adalah dosa struktural. Ia adalah mentalitas “mentang-mentang”. Mentang-mentang berkuasa, mentang-mentang memiliki izin konsesi, mentang-mentang memiliki teknologi raksasa, manusia merasa berhak mengubah lanskap bumi sesuka hati.

​Definisi “kerusakan” dalam teologi Islam, seperti yang kerap disalahpahami, tidak sempit pada maksiat personal seperti zina atau mabuk-mabukan. Kerusakan adalah spektrum luas yang mencakup kezaliman sosial dan ekologis. Menggunduli hutan yang menjadi paru-paru dunia adalah kemaksiatan. Mengeruk pasir pantai hingga pulau-pulau kecil tenggelam adalah dosa besar. Itu adalah bentuk “pembunuhan” terhadap ekosistem yang semestinya bertasbih kepada Tuhan.

​Ekologi sebagai Teologi

​Di sinilah letak ironi terbesar kita. Kita sering kali memisahkan kesalehan ritual dengan kesalehan ekologis. Seseorang bisa saja khusyuk di atas sajadah, namun di saat yang sama perusahaannya membuang limbah ke sungai. Padahal, ulama kontemporer Syaikh Yusuf al-Qaradhawi dalam magnum opus-nya, Islam Agama Ramah Lingkungan, menegaskan tesis yang radikal: tindakan pelestarian alam sejatinya setara dengan usaha memelihara agama (hifdz ad-din).

​Al-Qaradhawi mengingatkan bahwa kepedulian ekologis adalah prinsip fundamental. Islam bukan agama yang mengajarkan pelarian ke langit dengan melupakan bumi. Sebaliknya, Islam menempatkan bumi sebagai amanah sakral.

​Konsep kuncinya adalah Khalifah. Manusia dipilih menjadi khalifah (wakil/pemimpin) di muka bumi bukan untuk menjadi tiran yang eksploitatif, melainkan menjadi manajer yang welas asih. Misi utama manusia adalah menjadi rahmatan lil ‘alamin rahmat bagi semesta alam, bukan bencana bagi alam.

​Namun, kapitalisme predator yang kita adopsi hari ini mengajarkan sebaliknya: alam adalah komoditas. Alam adalah benda mati yang menunggu untuk diuangkan. Cara pandang ini bertabrakan keras dengan Surah Al-A’raf ayat 128: “Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah. Dia akan mewariskannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya…”

​Bumi bukan milik korporasi. Bumi bukan milik negara. Bumi adalah milik Tuhan yang dipinjamkan. Ketika manusia merasa memiliki mutlak, lahirlah arogansi. Arogansi inilah yang membuat kita lupa pada rumus sederhana di Surah Al-A’raf ayat 56: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik…”

​Kata “setelah diciptakan dengan baik” (ba’da ishlahiha) menyiratkan bahwa bumi ini sudah diserahkan dalam kondisi default setting yang sempurna, seimbang, dan mendukung kehidupan. Tugas manusia hanyalah merawatnya. Namun, kita justru mengacak-acak keseimbangan itu. Kita menebang pohon penyerap air, lalu kita menyalahkan hujan saat banjir datang. Kita mengeruk perut bumi, lalu kita bertanya di mana Tuhan saat tanah longsor menimbun desa.

​Tuhan tidak ke mana-mana. Dia sedang membiarkan hukum sebab-akibat-Nya bekerja, agar—seperti penutup ayat Ar-Rum tadi—kita “merasakan sebagian akibat perbuatan” kita, lalu sadar dan kembali.

​Dari Kerusakan Alam Menuju Perang

​Gugatan malaikat tentang “pertumpahan darah” juga memiliki benang merah dengan kerusakan alam. Sejarah membuktikan, ketika daya dukung lingkungan hancur, konflik manusia meletus.

​Dari Afrika hingga Timur Tengah, dan mungkin kelak di Asia Tenggara, perang masa depan bukan lagi soal ideologi, melainkan soal air bersih, lahan subur, dan energi. Kerusakan lingkungan menciptakan kelangkaan, dan kelangkaan memicu insting purba manusia untuk saling memangsa.

​Kesewenang-wenangan (thagha) terhadap alam hanyalah pintu masuk bagi kesewenang-wenangan terhadap sesama manusia. Ketika kita tega meracuni sungai yang diminum ribuan orang demi efisiensi biaya produksi, sejatinya kita sudah “membunuh” secara perlahan. Jarak antara merusak hutan dan memicu perang hanyalah soal skala dan waktu. Keduanya lahir dari rahim yang sama: hilangnya rasa takut (khauf) dan harap (raja’) kepada Sang Pencipta.

​Kita kehilangan sakralitas hidup. Kita memandang pohon hanya sebagai kayu, sungai hanya sebagai debit air, dan manusia lain hanya sebagai statistik. Inilah bentuk kegagalan terbesar kita sebagai khalifah.

Membuktikan Malaikat Salah 

​Jadi, apakah malaikat benar? Bahwa kita tidak layak diciptakan?

​Jika melihat kondisi Sumatra, Kalimantan, dan berbagai belahan bumi yang terluka hari ini, sulit untuk membantah para malaikat. Data sains dan realitas lapangan mendukung “skepsis” mereka. Kita memang spesies perusak.

​Namun, Allah memiliki jawaban pamungkas atas protes malaikat itu: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

​Jawaban Tuhan ini adalah sebuah misteri sekaligus harapan. Tuhan “bertaruh” pada potensi kebaikan manusia. Tuhan percaya bahwa di tengah para perusak, masih ada golongan Al-Muttaqin (orang-orang yang bertakwa) mereka yang kesudahannya baik, seperti janji dalam Surah Al-A’raf 128.

​Siapakah Orang yang Bertakwa dalam Konteks Krisis Iklim ini?

​Mereka bukan hanya yang rajin ke masjid, tetapi mereka yang menanam pohon meski tak sempat memakan buahnya. Mereka adalah pemimpin yang berani menolak izin tambang demi menjaga mata air rakyatnya. Mereka adalah kita yang menahan diri dari gaya hidup konsumtif yang membebani bumi. Mereka adalah orang-orang yang memahami bahwa “tasbih” alam semesta tidak boleh dibungkam oleh deru buldozer.

​Musibah di Tanah Air adalah alarm nyaring. Alam sedang melakukan perlawanan. Ia sedang menagih janji kekhalifahan kita. Jika kita tidak segera bertaubat dalam arti ekologis, yakni berhenti merusak dan mulai memulihkan maka kita sedang membenarkan keraguan malaikat.

​Kita sedang berjalan menuju tepi jurang kehancuran. Pilihan ada di tangan kita: menjadi Khalifah yang merawat titipan Ilahi, atau menjadi hama yang pada akhirnya akan dimusnahkan oleh inangnya sendiri.

​Sebelum langit runtuh dan bumi menolak kita sepenuhnya, marilah kita kembali pada mandat suci itu: menjadi penjaga, bukan penguasa. Sebab pada akhirnya, manusia butuh bumi, tapi bumi tidak butuh manusia. Ia akan tetap berputar, dengan atau tanpa kita di atas punggungnya.

Terkait

Tags: ekologisKerusakan Bumiteologi
Previous Post

Tunjang Kompetensi Leadership, IMM Shabran Adakan Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi.

Next Post

Spiritualitas Modern: Realitas dan Ilusi di Dunia Digital

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Spiritualitas Modern: Realitas dan Ilusi di Dunia Digital

Spiritualitas Modern: Realitas dan Ilusi di Dunia Digital

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.