Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Kebaikan yang Terorganisir: Jalan Memutus Lingkaran Setan di Era Disrupsi

Hikari Aufa Rofiqi by Hikari Aufa Rofiqi
Desember 4, 2025
in Esai, Narasi
0
Kebaikan yang Terorganisir: Jalan Memutus Lingkaran Setan di Era Disrupsi
24
SHARES
143
VIEWS

Oleh: Hikari Aufa Rofiqi

Kemajuan zaman menjadikan para manusia yang hidup di zaman tersebut mengalami perubahan demi perubahan. Era saat ini merupakan era disrupsi yang merupakan era dimana teknologi berkembang pesat, cara lama sudah tergantikan dengan cara baru dalam tempo yang singkat.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Pada hari ini, kita mendapat kabar baru, baik lokal, nasional, maupun internasional dapat diakses dengan jauh lebih cepat, yang semula kita mendapat kabar terkini melalui surat kabar dan sejenisnya, saat ini kita mendapat berita dari isu–isu terkini melalui platform media sosial.

Kabar yang beredar sedari tahun ini dan beberapa tahun sebelumnya, menjadikan kengerian tersendiri bagi para pembaca dan para pengamat isu. Setiap hari kita disuguhkan dengan berbagai macam kabar yang tidak mengenakkan, kabar tentang tindak kriminal selalu berseliweran bak air yang mengalir di kanal berita kita, mulai dari kasus lokal sampai kasus internasional.

Kemanusiaan makin jauh dan asing dari kita, empati semakin mati, dan peduli dianggap wahabi. Memang lucu era saat ini. Seakan-akan orang yang berbuat baik dianggap kaku dan kurang sosial. Seringkali kita dapati beberapa anggapan yang mengatakan kalau orang yang memiliki prinsip kuat dan visi perubahan dianggap idealis, yang mana anggapan tersebut seringkali diberi tambahan bahwasanya orang yang idealis tidak akan awet di suatu instansi. Pastinya ada dua pilihan, mau mengubah visinya dan mengikuti alur yang ada, atau keluar dari instansi tersebut, suatu pilihan yang sudah diwajarkan.

Seakan – akan kalau kita selalu baik, semua akan berantakan, kita harus jahat untuk tetap hidup, sekali lagi, kita harus jahat untuk bertahan hidup. Sehingga kebaikan hanya janji manis di awal, semua pasti ada maunya, tidak ada yang gratis di dunia ini. “Jangan terlalu baik, nanti kamu di manfaatkan” “jangan terlalu baik, kamu nanti disingkirkan” kemungkinan seperti itu kata-kata yang dilontarkan orang yang sudah masuk dalam sistem neraka tersebut.

Lawan Sistem Tersebut

Seorang muslim diharuskan menjadi sosok yang dapat melawan arus kemungkaran, hal ini sebagaimana yang termaktub dalam Surah Ali Imran ayat 110, yang menjelaskan bahwasanya kita (umat muslim) merupakan umat terbaik, jikalau kita senantiasa menyeru pada kebaikan, menumpas daripada yang buruk, dan beriman kepada Allah SWT.

Kali ini kita akan menyorot bagian “memberantas yang buruk”, hal tersebut merupakan sesuatu yang akan menimbulkan pro-kontra. Aktivitas yang mencegah dan menumpas merupakan aktivitas yang melibatkan banyak pihak, atau sekurang-kurangnya melibatkan dua kepala dengan pemikiran yang berbeda.

Memberantas yang buruk atau lebih singkatnya kita kenal dengan “Nahi Munkar” merupakan suatu yang memerlukan seni dalam menerapkannya. Dikarenakan dalam Nahi Munkar memerlukan seni dalam penerapannya, Syakih Muhammad bin Abdul Wahhab menulis buku yang berjudul Fikih Dakwah, meskipun Amar Ma’ruf juga merupakan bagian dalam dakwah, namun “Nahi Munkar” merupakan bagian dakwah yang memerlukan kiat-kiat yang runtut dalam pelaksanaannya.

Saya pernah mendengar kutipan “Kebaikan yang tidak terorganisir, akan kalah dengan kejahatan yang terorganisir”, saya langsung berpikir, ohya! Ternyata selama ini kita mudah berpuas hati seusai melakukan satu kebaikan, coba kita tilik bagaimana proyeksi bantuan kemanusiaan yang ada di Palestina, seringkali kita merasa sudah cukup hanya sebatas share pamflet open donasi untuk Palestina, seakan-akan jika foto kita sudah terpampang di banner kemanusiaan merasa sudah puas dan merasa cukup berperan dalam aksi tersebut.

Sedangkan, pernahkah kita terbayang bagaimana Israel menyusun strategi genosida sampai sematang ini, bahkan sekelas genosida yang brutal mereka masih sempat playing victim dan menuai dukungan dari berbagai negara pro Israel, sedangkan kita, hanya bisa melakukan galang dana dan membuka donasi online, bahkan sekelas bantuan logistik yang kita upayakan saja masih tertahan di perbatasan dan memerlukan proses loading yang panjang.

Pernahkah kita mulai memikirkan, apa yang sebenarnya manusia butuhkan saat ini? Apa solusi konkrit untuk permasalahan yang amat kompleks ini? Sebenarnya kalau kita ingin melawan sistem buas ini, sistem yang mana mengatakan kalau kita tidak jahat kita tidak hidup.

Kejahatan yang merajalela saat ini dikarenakan orang yang berperilaku baik cenderung bodoh, ya saya katakan bodoh. Mereka tidak memikirkan bagaimana lingkaran setan ini cepat terputus.

Lagi – lagi saya membawa statement yang sudah sejak zaman kuno dilontarkan, tapi sampai saat ini masih saja ada yang melestarikan. Begini kurang lebih “Goblok rapopo, sing penting ora ngrusohi wong akeh” bodoh tak apa, asalkan kita tidak menyusahkan orang banyak.

Seakan – akan kita dibuat pasrah dengan kebodohan, dibuat pasrah dengan ketertinggalan, berbeda dengan orang – orang jahat memiliki ambisi, coba kita belajar dari legalisasi klab malam, dahulu adanya klab malam merupakan hal yang tabu, sekarang orang yang frustasi saja datangnya ke klab malam, bahkan klab malam menjadi standar orang kaya, crazy rich dengan bangganya memposting partynya yang tiap malam habis jutaan rupiah. Ya, mereka berhasil melegalkan dan menormalisasi sektor maksiat dengan strategi marketing mereka, bisnis tetaplah bisnis.

Bahkan, coba lihat diri kita, umat muslim yang notabene masih bersih dan tidak terkontaminasi dengan hal-hal tersebutu justru diam saja.

Kita tengok saja bagaimana manajemen masjid. Masjid yang dikelola di pedalaman dan di kebanyakan daerah hanya berfungsi sebagai tempat sholat saja, bahkan mirisnya, ada kabar seorang mahasiswa yang rehat  sejenak di masjid justru dianiaya sampai meninggal dunia. Kita belum bisa melabeli masjid sebagai sektor kebermanfaatan yang luas, kita masih kolot dan kaku dalam menginovasi kebaikan yang memiliki peluang strategis. Lantas, dimana umat bisa pulang dari riuhnya kehidupan dunia.

Bangun dan Mulai Bergerak

Kebaikan yang terorganisir, akan membabat habis kemungkaran yang sudah beredar. Sekarang kita balik statement di awal. Yang semula kebaikan yang tidak terorganisir, kita ubah menjadi kebaikan yang terorganisir. Hal ini menjadi titik awal penanaman ide dan penanaman paham mengenai awal gerak untuk mewujudkan perubahan jangka panjang. Karena kita tahu, memulai dan merintis itu lebih mudah daripada menjaga.

Maka, kita sudah selayaknya menyadari bahwa suatu kebaikan harus dilakukan secara terorganisir, bahkan dalam surah Ali Imran ayat 104, menegaskan bahwa “Hendaklah ada segolongan dari kalian”, dari kata hendaklah ini sudah menekankan bahwa memang harus ada gerakan yang bersifat jamaah/kelompok, untuk menunaikan amar ma’ruf dan nahi munkar. Sehingga jika kita ambil, salah satu dari strategi supaya gerakan kita lebih terorganisir adalah dengan berjamaah, dengan berkelompok, dan dengan bersama-sama.

Ditekankan lagi dengan “Yadullahu ma’a jamaah” tangan Allah bersama orang-orang yang berjamaah, dan dalam surah As-Shaf ayat 04, yang menguatkan bahwa Allah SWT mencintai orang – orang yang berperang/berjuang di jalan-Nya sebagaimana bangunan yang tersusun rapi Di sinilah letak urgensi daripada suatu gerakan kebaikan harus terorganisir dan kompak, sehingga akan mudah bagi kita untuk menumpas kejahatan.

Baitul Maqdis jatuh di tangan orang kafir pada masa Salahuddin Al-Ayyubi diakibatkan kaum muslimin terpecah dan tercerai berai, sehingga menjadi peluang bagi kaum kafir untuk merebut kembali Baitul Maqdis.

Menanggapi hal itu, upaya yang dilakukan Sholahuddin Al-Ayyubi adalah menyatukan kembali kaum muslimin yang terpecah belah, menjadikan mereka satu persepsi dan satu tujuan, sehingga dalam merebut kembali Baitul Maqdis akan menjadi lebih mudah.

Dari sini, kita tahu dalam melakukan kiat-kiat kebaikan. Sendiri tidak cukup, merasa puas dengan kebaikan juga tidak cukup, yang harus dilakukan dalam menegakkan kebenaran adalah sinergi, kebersamaan, kopetensi dan daya pikir yang kuat, serta daya juang yang tanpa pamrih, semua itu harus dimiliki. Karena jika tidak sistem lingkaran setan itu tidak akan terputus, mereka yang saat ini menjadi pentolan pada sistem tersebut merupakan seorang pakar, orang-orang pintar yang terus menerus menyusun strategi, kita harus seimbang bahkan lebih radikal lagi dalam berjuang.

Editor: Astyra Gita Kinanti

Terkait

Tags: AgamaIslamMuhammadiyahpemerintahanPeradaban
Previous Post

Jalan “Dialektik-Etik” Buya Syafii untuk Indonesia

Next Post

“Opini Berdaya, Organisasi Berkarya”: HMP IQT UMS Asah Kemampuan Menulis Mahasiswa

Hikari Aufa Rofiqi

Hikari Aufa Rofiqi

Next Post
“Opini Berdaya, Organisasi Berkarya”: HMP IQT UMS Asah Kemampuan Menulis Mahasiswa

“Opini Berdaya, Organisasi Berkarya”: HMP IQT UMS Asah Kemampuan Menulis Mahasiswa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.