Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Surat Terbuka untuk Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziyah PBNU: NU adalah Aset Bangsa

Nurbani Yusuf by Nurbani Yusuf
November 25, 2025
in Esai, Narasi
0
Surat Terbuka untuk Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziyah PBNU: NU adalah Aset Bangsa
16
SHARES
95
VIEWS

Oleh: Nurbani Yusuf, Komunitas Padhang Makhsyar

Ketika ulama Muhammadiyah berselisih…
saya prihatin dan bersedih atas surat pemecatan atau permintaan pengunduran diri dari Rais Syuriah terhadap Ketua Tanfidziyah PBNU. Saya terus berdoa agar semua segera selesai dengan baik.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

NU adalah cermin bagi Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah cermin bagi NU
Muhammadiyah dan NU adalah sepasang yang saling menggenapi

Hubungan Muhammadiyah dengan negara lagi bermasalah, banyak hal tentang kebijakan negara yang dianggap merugikan umat Islam, Muhammadiyah sedang tak enak hati dengan istana. Soekarno dianggap telah jauh menyimpang, kedekatannya dengan partai komunis sangat mengkhawatirkan umat Islam. Tak sedikit ulama yang melawan, termasuk beberapa ulama Muhammadiyah.

Di puncak selisih itu, Moelyadi Djojomartono, salah seorang Ketua PP Muhammadiyah, diangkat sebagai Menteri Sosial. Suasana kian memanas, polarisasi sikap tak bisa dihindari. Sebagian mendukung dan tidak sedikit yang menolak. Buya HAMKA salah satu yang paling keras menolak. Beliau menulis di harian Abadi, sebuah koran dengan oplah besar. Buya HAMKA, seorang penulis dan pengarang terkemuka, menyampaikan penolakannya lewat media. Jangan tanya pengaruhnya.

Buya HAMKA tegas menolak, ia menulis pengangkatan Moelyadi Djojomartono sebagai Menteri Sosial adalah upaya istana untuk memecah belah Muhammadiyah dari dalam. Farid Ma’ruf tak kalah tangkas, ia mendukung dan berbicara di berbagai forum bahwa pengangkatan Moelyadi Djojomartono sebagai Menteri Sosial sangat dibutuhkan Muhammadiyah sebagai ikhtiar menjaga silaturahim dan hubungan baik dengan istana.

Disparitas sikap ini begitu kuat terasa dan menjadi bahan bincang yang tak pernah habis di Persyarikatan. Perselisihan tak kunjung reda bahkan cenderung kian memanas seiring dengan suasana politik yang tidak kondusif.

Di Gedung Muhammadiyah Jogjakarta sidang Tanwir digelar. Dua kubu saling berhadapan membawa argumen dan hujjah untuk dipertahankan. Para musyawwirin menunggu kedua belah pihak menyampaikan pendapatnya. Buya HAMKA dipersilakan ke mimbar lebih dahulu untuk menjelaskan pendapatnya di harian Abadi. Buya HAMKA berdiri tenang. Wajah dan matanya lebih dulu berbicara ketimbang bibirnya. Air matanya berlinang.

Suaranya tersendat parau. Didorong perasaan cintanya kepada Muhammadiyah yang sangat besar, maka ia ambil pena dan menuliskan sikapnya. Semua yang ia tulis di harian Abadi bermaksud baik, tetapi jika ternyata melukai perasaan Kiai Farid Ma’ruf yang sangat dicintainya, HAMKA minta maaf. Hadirin terdiam.

Giliran Kiai Farid Ma’ruf berdiri di mimbar. Satu map besar disiapkan sebagai persiapan pertahanan untuk menangkis serangan Buya HAMKA. Tetapi tak diduga, sikap Buya HAMKA yang dengan tegar menyatakan maafnya. Map tak jadi dibuka. Kiai Farid Ma’ruf berkata, kesediaan menerima jabatan sebagai Menteri Sosial adalah niat baik agar Muhammadiyah berkembang di amal usahanya, kita masih membutuhkan pemerintah untuk bermitra.

Perbedaan antara dirinya dengan Buya HAMKA sama-sama dengan niat baik. Jika pendiriannya dinyatakan bersalah dan dikhawatirkan membawa Muhammadiyah ke istana, maka dengan ikhlas hati ia akan mengundurkan diri sebagai Ketua Pimpinan Pusat.

Belum lagi Kiai Farid Ma’ruf selesai berpidato, HAMKA berdiri dan berkata: “Pimpinan…” serunya:
“…Jangan Kiai Farid yang mundur, kita sangat membutuhkan dia… Saya, HAMKA, yang harus mundur…”
Kemudian keduanya berangkulan, air mata berlinangan, saling mengikhlaskan dan ridha.

Kiai Moelyadi Djojomartono, Kiai Haji Farid Ma’ruf, Kiai Haji Djarnawi Hadikoesoemo, Buya HAMKA, H. S. Prodjo Koesoemo, sebelumnya ada Ki Bagus, mereka adalah para guru yang patut dijadikan teladan bagaimana kita ber-Muhammadiyah. Menyikapi politik dan perbedaan dalam berkhidmat di Persyarikatan tanpa merasa “paling”.

Nyatanya perbedaan selalu ada dan kita gagal menyikapinya dengan bijak. Kiai Nur Cholish Huda bertutur: “Sering kita berkata membela Muhammadiyah, padahal sejatinya kita sedang membela harga diri. Ketulusan kita sering semu karena ada kepentingan pribadi yang tersembunyi. Membesar-besarkan hal kecil dan kerap bertindak kekanak-kanakan. Meski lantang berkata: ‘demi Muhammadiyah…’.” Wallahu a’lam.

Disarikan dari tulisan Kiai Haji Djarnawi Hadikoesoemo: Mengenang 70 Tahun Buya HAMKA.

Di atas segalanya kita adalah saling mencintai…

Editor: Rafidah Azis

Terkait

Tags: IslamMuhammadiyahNahdlatul UlamaRefleksi
Previous Post

Rindu yang Turun Bersama Azan

Next Post

SUMU Surabaya Selenggarakan Seminar “SEO Mastery” untuk Perkuat Fondasi Digital Pelaku Usaha Muhammadiyah

Nurbani Yusuf

Nurbani Yusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Next Post

SUMU Surabaya Selenggarakan Seminar “SEO Mastery” untuk Perkuat Fondasi Digital Pelaku Usaha Muhammadiyah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.