Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Soeharto sebagai Pahlawan Nasional: IMM Sukoharjo adakan Diskusi sebagai Bentuk Respon Keputusan Presiden Prabowo

RedaksiKS by RedaksiKS
November 24, 2025
in Report
0
Soeharto sebagai Pahlawan Nasional: IMM Sukoharjo adakan Diskusi sebagai Bentuk Respon Keputusan Presiden Prabowo
13
SHARES
76
VIEWS

KALIMAHSAWA.ID, SURAKARTA – Merespon pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional, IMM Sukoharjo bersama PMII Pabelan UMS dan HMI Ahmad Dahlan 1 mengadakan dialog kebangsaan dengan mengusung tema “Rekonstruksi Legitimasi Kekuasaan: Menimbang Kembali Peran Soeharto dalam Narasi Pahlawan Nasional”, yang dilaksanakan pada Kamis (20/11/25). 

Selaku moderator, Oyan menyampaikan harapan dilaksanakannya acara tersebut, yaitu menjadi jawaban bagi kebingungan-kebingungan terhadap keputusan pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional.

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

“Mungkin dari kita masih cukup bingung terhadap sikap seperti apa yang harus kita bawa dalam merespon persoalan ini, dengan pemateri yang ada diharapkan bisa menjadi jawaban bagi teman-teman dalam kebingungan-kebingungan yang dihadapi mengenai persoalan ini,” ujarnya. 

Pemantik pertama, Aria Gumilang, mengupas proses naiknya Soeharto melalui Supersemar dan dinamika MPRS. Ia membahas tindakan politik Soeharto yang dilegalkan dengan membuat undang-undang terlebih dahulu terkait tindakannya. Berbeda dengan Soekarno yang melakukan suatu tindakan kemudian membuat undang-undang yang melegalkan tindakannnya tersebut. 

Ia juga membahas narasi pembangunan yang digunakan Soeharto. Menurutnya istilah “pembangunan” yang digunakan Soeharto dijadikan sebagai alat legitimasi dalam melaksanakan tindakannya. 

“Memang ia sebenarnya ada jasa dalam pembangunan Indonesia, meskipun akhirnya melahirkan banyak ketimpangan dan kejahatan-kejahatan yang ia buat jauh lebih besar,” ungkapnya.

Pemantik kedua, Ahmad Hakim Maulana, memaparkan bahwa menjadinya Soeharto sebagai bapak pembangunan terdapat banyak kasus-kasus dan nepotisme dibelakangnya yang belum diusut hingga kini. 

“Walaupun Soeharto menjadi bapak pembangunan, dibelakangnya terdapat banyak kasus-kasus nepotisme yang sampai sekarang belum diusut,” paparnya.

Ia juga menyampaikan bahwa upaya pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional pernah dilakukan pada tahun 2007 dan 2014, namun terdapat undang-undang yang menghalanginya.

Pemantik ketiga, Muhammad Zein, menyampaikan kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang yang dijadikan pahlawan nasional. Diantaranya dilihat dari keteladanan moral, integrasi moral, dan perjuangan serang makhluk. Ia juga menjelaskan karakteristik politik etnis yang dihubungkan dengan konsep filsafat oleh Immanuel Kant. Konsep tersebut membahas bagaimana melihat seseorang melakukan sesuatu apakah berdasarkan dengan kewajiban atau formalitas belaka.

Selain dari pemantik, Hasan Abiyyu Abdullah selaku peserta diskusi juga menyampaikan pendapatnya bahwa ilmu pengetahuan dikuasai oleh siapa yang memerintah pada saat itu, begitu pula sejarah yang dalam penulisannya ada ditangan yang berkuasa pada saat itu.

“Siapa yang memegang ilmu pengetahuan maka ialah yang memegang kekuasaan, jika kita relevansikan pada masa itu kekuasaan ada ditangan Soeharto yang mana golkar merupakan partainya sendiri, sehingga golkar dapat mengendalikan ilmu pengetahuan itu sendiri,” jelasnya.

Eky Mu’amar, selaku peserta diskusi juga mempersoalkan siapa yang jujur dalam menulis sejarah. Menurutnya, banyak hal-hal yang tidak dicantumkan atau dikurangkan dalam penulisan sejarah.

“Permasalahannya, dalam penulisan sejarah itu siapa yang dapat dipercaya? Sejarah itu yang bisa diolah dipilih sesuai dengan keinginan mereka, keinginan rezim, lagi-lagi,” ujarnya penuh antusias.

Di penghujung diskusi, para peserta tampak antusias dalam menyampaikan pandangan pandangan mereka mengenai penganugerahan gelar pahlawan kepada Soeharto dengan melihat sejarah-sejarah yang ada.

Terkait

Tags: MuhammadiyahPahlawanPeradaban
Previous Post

Pelatihan Hisab Awal Bulan Metode Kitab Nurul Anwar Oleh UKM Falak Mathla’ul Hilal

Next Post

Guru Adalah Rasul Peradaban, Bukan Tumbal Anggaran: Merayakan Hari Guru 2025 dengan Aksi Nyata

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Guru Adalah Rasul Peradaban, Bukan Tumbal Anggaran: Merayakan Hari Guru 2025 dengan Aksi Nyata

Guru Adalah Rasul Peradaban, Bukan Tumbal Anggaran: Merayakan Hari Guru 2025 dengan Aksi Nyata

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.