Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Intelektual yang Terkungkung

Aufa Ubadah An Noeman by Aufa Ubadah An Noeman
Desember 1, 2025
in Esai, Narasi
0
Intelektual yang Terkungkung
19
SHARES
114
VIEWS

Oleh: Aufa Ubadah An Nu’man (Mahasiswa UMS)


Izin saya memulai dengan puisi yang berjudul:

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?


Apa Guna


Oleh Widji Tukhul


Apa gunanya punya ilmu tinggi
Kalau hanya untuk mengibuli
Apa guna banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu
Di mana-mana moncong senjata
berdiri gagah
kongkalikong
Dengan kaum cukong
Di desa-desa rakyat dipaksa
Menjual tanah
Tapi, tapi, tapi, tapi
Dengan harga murah
Apa gunanya punya ilmu tinggi
Kalau hanya untuk mengibuli
Apa guna banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu


Siapa yang tak tahu puisi ini? Sebuah puisi fenomenal dari salah seorang aktifis perjuangan, Widji Tukhul Namanya. Puisi tersebut seakan menampar para pembaca, para akademisi, para Intelektual dan para elit yang beridiri di tiang-tiang menara kekuasaan. Namun, apakah memang pesan tersebut mengajak kita untuk lepas dari buku dan ilmu pengetahuan?

Menjadi fenomena lumrah perhari ini. Bahwa para aktivis yang dahulu menyuarakan kepentingan-kepentingan rakyat, keadilan dan juga kesejahteraan menjadi ingkar Ketika diberikan posisi-posisi strategis di pemerintahan. Seakan dibungkam, mereka lupa akan ucapan-ucapan manis perjuangan yang dahulu mereka ucapkan. Pada bait “apa gunanya baca buku, kalau mulut kau bungkam melulu” seakan menjadi riil rasanya bila kita coba merefleksikan hal tersebut. Namun, pembungkaman apa saja sih yang dimaksud?

Lalu, mengenai makna “Intelektual”, apasih sebenarnya makna dari seorang “intelek”. Seakan perhari ini siapa saja dapat menjadi “intelek” hanya dengan membayar sekolah dan mendapatkan ijazah dan tercantum pada namanya gelar-gelar. Pada tulisan kali ini, penulis ingin coba berbagi pemaknaan subjektif Ketika mengamati fenomena-fenomena yang perhari ini lumrah. Terkhusus para pengaku dan terlabel “Intelek” perhari ini. Namun, apakah wajar untuk kita biarkan hal tersebut terus menjadi?

Pembungkaman


Pembungkaman, sebuah seruan yang tak asing bagi para aktifis. Kata tersebut identik dengan kasus-kasus penangkapan para aktifis dan pembatasan pers media ketika ingin meliput atau memberitakan suatu warta, berita atau peristiwa. Terutama, mengenai tindak ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang terjadi di negeri ini yang dilakukan oleh pihak yang berkuasa, contoh pada kasus aktifis seperti Widji Tukhul(enforced disappeared, 1998), Lembaga warta(Sinar Matahari, masa pendudukan Jepang atas Indonesia), atau tercopotnya status Guru Besar (dikarenakan membawakan narasi anti politik praktis oleh Institusi Pendidikan terkemuka).

Namun, perhari ini terdapat pembungkaman yang jarang tersoroti atau lebih tepatnya, jarang dibicarakan pada warta-warta yang memperbincangkan pembungkaman. Yaitu, pembungkaman simbolik dengan bentuk pelbagai kekuasaan, seperti bahasa, pendidikan, ideologi, hingga jabatan. Saya kira hal tersebut menjadi hal yang sesuai dengan peristiwa yang terjadi, terutama bagi para aktifis maupun Intelek yang sekarang duduk di kursi pemerintahan.


Pertama, satu per satu dari mereka seakan takut akan tercopotnya dari kursi kekuasaan mereka dan yang kedua akan ketakutan bernarasi yang bersinggungan dengan kelompok yang perhari ini ia masuki. Begitu pula perihal ideologis. Para intelek tak lagi dalam wujud intelek bagi dirinya, namun menjadi intelek bagi suatu kelompok, sehingga ia harus berhati-hati supaya tak bertentangan tanpa izin maupun arahan dari kelompok yang dimasukinya.


Pemaknaan Intelektual


Julien Benda(1867-1956), seorang penulis kritis asal Prancis yang pernah menuliskan narasi mengenai para cendekiawan yang berkhianat dalam bukunya yang berjudul Prancis”Trahison des Cleres”. Didalam tulisannya terdapat kutipan menarik yang ia ambil dari filsuf terkemuka asal Yunani, yaitu Sokrates. Dimana ia menyatakan bahwa, “Manusia tidak terikat pada bahasanya maupun rasnya; ia hanya terikat pada dirinya sendiri, karena ia adalah makhluk bebas, yaitu, makhluk bermoral”, yang seakan dalam penjelasan Benda berkata ”Aku Adalah Intelek bagi diriku, bukan intelek negara maupun kelompok” (melihat Benda mengkritik hastrat Nasionalis, Militeristik maupun Etnis) menjadi suatu pernyataan menarik yang memberikan penegasan bahwa Intelektual sejatinya adalah seorang yang bebas, seorang yang tak terkungkung apapun, terutama ketika ia menyuarakan kehendaknya.


Sisi lain Benda sendiri mensubjekkan sorang Intelek sebagai “Clerc” disamping kata “Intellect” terdapat dalam rumpun bahasanya. “Clerc” dalam Bahasa Prancis berarti seorang rohaniawan. Disini Benda menyebut Intelek dengan “Clerc” bukan tanpa sebab. Clerc adalah ia yang membawakan risalah, ia yang mebawakan keadilan tuhan, sebagai perwakilan akan hal-hal universal nan absolut, sisi lain memiliki jiwa-jiwa spiritual transcendental. Sehingga yang dimaksud benda disini Intelek sebagai seseorang yang membawakan kebenaran dan mewakili kebenaran itu sendiri, bukan justru tenggelam dalam hal praktis dan malah dikendalikan oleh politik maupun kekuasaan itu sendiri. Namun kita lihat, intelek sekarang seakan tak tergerak oleh dirinya, pikiran merdekanya, maupun suara hatinya. Intelek perhari ini tergerak oleh hastrat-hatrat kepentingan politis maupun ideologis (meminjam kritik Benda).


Sisi lain tambahan tuntutan-tuntutan pekerjaan, bahkan hingga pendidikan menjadikannya bungkam (lewat institusi-institusinya) karena sebab tak ingin bermusuhan dan tetap ingin menjalin hubungan kerjasama, yang tampaknya dalam urusan materil. Hal tersebut tampak dalam tuntutan-tuntutan kampus yang dalam beberapa warta rela mencopot atau hingga membekukan seorang/sekelompok aktivis yang aktif menyuarakan perlawanan. Sisi lain pun hadir dalam penjaringan-penjaringan berita kepada Lembaga Pers kampus oleh pihak yang berwewenang yang duduk dalam kursi kekuasaan kampus. Menjadikan kampus yang seharusnya sebagai Institusi Ilmu dan Moral, malah melumasi kursi-kursi kekuasaan, hingga bahkan kesewenangan.


Intelek yang Merdeka Adalah Seniman


Seorang intelek yang merdeka, bukan berarti intelek yang tak tergabung dalam institusi maupun kelompok tertentu. Namun, hal tersebut tak menghentikannya dalam menuangkan pikiran serta karyanya. Ia hadir dalam bentuk seorang filsuf (seorang yang berpikir mendalam) dan juga seniman sekaligus. Seperti pandangan Nietzsche mengenai seni. Ia adalah suatu yang trandcend (melampaui) dan murni dari Intuisi sang seniman. Seorang Intelek dengan potensi basis keilmuan, ketajaman rasio, hingga kehalusan hati menjadikannya sebagai seorang seniman sejati.


Tentu yang hadir dalam karyanya merupakan rasa dan karsa yang hadir dari dan melalui dirinya. Tak seperti kritik para ideolog modern terhadap para seniman tak berpihak/seniman murni (dalam artian kelompok), bukan pula kritik Nietzsche terhadap para Idealis yang kabur dari realitas(dekaden), yang mereka kritik merupakan moral dan perilaku yang tampak baginya moral dan bentuk value yang ia sandarkan, bukan sekadar kepentingan kelompok Ideologis belaka. Tampaknya hal ini terlihat pada Sokrates (walau Nietzsche tak menyukai Sokrates dalam pelbagai alasan), layak pernyataan Sokrates yang sempat dikutip oleh Benda pada buku yang ditulisnya hanya karena ia seorang warga Athena, tak menghentikannya untuk mengkritik kekuasaan Athena (yang kala itu dikuasai kaum Sophis), malah justru ia memantik para warga Athena untuk sadar melihat realita dan kembali kepada moral universal yang muncul dalam penalaran serta suara hati Individu.


Pentingnya Berpengetahuan


Tentu berpendidikan dan berpengetahuan tetaplah penting, namun makna pengetahuan disini lebih saya artikan kepada kesadaran atau yang membawa kepada kesadaran (seperti halnya yang dimaksud oleh Paulo Freire). Bagaimana seseorang mengetahui keburukan tanpa mengetahui kebajikan maupun sebaliknya. Terutama di zaman sekarang yang terkenal dengan “Distruption Era” seperti tulis Prof. Renald Kasali dalam bukunya, lebih-lebih hingga menjadikannya menuju “Post-Truth Era”. Suatu Era dimana kebenaran Absolut runtuh.


Hal ini tak hanya berlaku bagi para pemikir seperti pembelajar Filsafat, bahkan hal ini hadir di tengah masyarakat awam dengan cepatnya arus informasi melalui perkembangan teknologi informasi di Era Digital ini. Tak dipungkiri seseorang akan mudah terbawa arus narasi (apapun) bila tak terdapat dasar value dan basis pengetahuan yang mendasari pola pikir maupun pemaknaan konsep serta pengetahuan keterkaitan preposisi yang baik hingga pada kesadaran sosial dengan pengetahuannya maupun kepekaannya.
Seseorang akan menjadi mudah terperalat maupun menjadi pemeralat akan pelbagai kepentingan. Bila tak memiliki basis pengetahuan, mau tak mau ia akan dipilihkan pada basis hastratnya, dikarenakan kenihilan value sebagai jalan lain suatu pilihan. Namun ingat, lagi-lagi ini ilmu yang menyadarkan. Sehingga menjadi pengaruh keras bagi Ego (meminjam konsep Sigmund) untuk berpihak pada Super ego yang dimilikinya.


Meminjam kutipan perkataan Nabi Isa yang didapati pada Artikel yang ditulis oleh Zamawi Imron (yang terbit pada Jurnal Oetusan Hindia : telaah Pemikiran Kebangsaan Volume 1 no 8 2019). “Alangkah banyaknya pohon, dan tidak semua menghasilkan buah; alangkah banyaknya buah-buahan, tetapi tidak semuanya baik; dan alangkah banyaknya imu dan pengetahuan, tetapi tidak semua berguna”. Jadilah seseorang yang berpengetahuan dan berwawasan, bukan sekadar untuk tumbuh bagi dirinya maupun kepentingan individu semata. Namun, dapat berpengaruh walau sedikit kepada khalayak, sekitar secara universal atau kepentingan umum.


Ilmu pengetahuan merupakan pembendaharaan, Ia yang tahu(berpengetahuan) kan menjadi episentrum pertanggung jawaban atas diamnya dirinya dan setiap abaianya terhadap ke-amoralan sekitar. Ia menjadi bukan sebagai wakil kelompok , ia adalah dirinya, pikirnya, hatinya, wakil moralitas dan wakil tuhan diatas semesta yang ia tegak diatasnya. Bukan sebagai yang dipertukarkan atau diperjual belikan. Semoga menggugah dan menginspirasi.

Editor: Astyra Gita Kinanti

Terkait

Tags: mahasiswaMuhammadiyahpembungkamanPeradabanwidji tukhul
Previous Post

Mahar dalam Islam: Kadar Menurut Ulama dan Tips Praktis untuk Gen Z

Next Post

Pelatihan Hisab Awal Bulan Metode Kitab Nurul Anwar Oleh UKM Falak Mathla’ul Hilal

Aufa Ubadah An Noeman

Aufa Ubadah An Noeman

Next Post
Pelatihan Hisab Awal Bulan Metode Kitab Nurul Anwar Oleh UKM Falak Mathla’ul Hilal

Pelatihan Hisab Awal Bulan Metode Kitab Nurul Anwar Oleh UKM Falak Mathla’ul Hilal

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.