Oleh: Gandi Teguh Ardiansyah
Pemikiran KH. Ahmad Dahlan sering digambarkan sebagai model berpikir yang realistis, yaitu kemampuan untuk menghubungkan teori dengan kenyataan sosial secara langsung. Meskipun ia banyak terinspirasi oleh pembaharu Timur Tengah seperti Muhammad Abduh dan Rashid Rida, namun ketika kembali ke tanah air ia tidak serta-merta menyalin semua gagasan itu. Dahlan mengemas ulang pembaharuannya sesuai kebutuhan masyarakat masa itu, dengan pendekatan dakwah kultural yang tetap setia pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Pendekatan inilah yang menunjukkan bahwa gagasan universal harus diterapkan melalui cara yang relevan dengan budaya setempat.
Seperti yang dikemukakan Mutohharun Jinan, pemikiran Ahmad Dahlan tidak berhenti pada ruang konseptual, melainkan langsung diturunkan menjadi aksi nyata. Karena itulah ia disebut the man of action. Contoh paling terkenal adalah interpretasinya terhadap surat al-Ma’un. Dahlan tidak berhenti pada pembacaan tekstual, tetapi mengajak murid-muridnya untuk mengasuh anak yatim, membantu fakir-miskin, dan menciptakan institusi amal sosial. Inilah bentuk praksis pemikiran: teori yang diturunkan menjadi gerakan sosial.
“Pemikiran Ahmad Dahlan mungkin banyak diambil dari negara Timur Tengah, namun dalam aplikasi dakwahya saat pulang ke tanah air, penerapannya tetap sesuai dengan konsep kultur pendekatan yang ada di tengah masyarakat, dengan tetap berpegang pada Khazanah pemikiran yang bersumber al-Qur’an dan as-Sunnah,” kata Mutohharun Jinan.
Model berpikir realistis ini menjadi ruh yang diwarisi oleh Muhammadiyah dan organisasi otonomnya, termasuk Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Dalam konteks organisasi modern, IMM tidak boleh bergerak di luar keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sikap politik, arah gerakan, dan strategi dakwah harus mengacu pada keputusan resmi Persyarikatan.
Peristiwa kontroversial yang terjadi di Malang menjadi pengingat penting bahwa ortom tidak boleh berdiri di luar koordinasi pusat karena hal itu dapat memunculkan bias kepentingan serta merusak integritas organisasi.
Di dalam tubuh IMM sendiri, kepatuhan terhadap keputusan pimpinan ikatan hasil musyawarah adalah prinsip dasar. Tidak boleh ada agenda pribadi, kepentingan kelompok, atau ambisi tersembunyi yang memengaruhi arah gerakan. Ruh ikatan berarti ketaatan struktural dibangun di atas kesadaran kolektif, bukan dominasi individu. Di sinilah relevansi pemikiran Djazman Al-Kindi dari karya Ilmu Amaliah Amal Ilmiah, yakni pentingnya keselarasan antara kerja organisatoris, landasan ilmiah, dan etika pengabdian sosial.
Menurut Djazman, ilmu amaliah adalah pengetahuan yang diarahkan untuk amal nyata, sementara amal ilmiah adalah tindakan yang didasarkan pada pertimbangan rasional dan metodologi ilmiah. Dua konsep ini tidak boleh dipisahkan. Jika ilmu tidak diamalkan, ia menjadi beku; tetapi jika amal tidak dilandasi ilmu, ia menjadi rapuh dan tidak terarah. Kerangka inilah yang membuat kader Muhammadiyah, termasuk IMM, dituntut untuk membangun karakter intelektual yang kuat sekaligus respons sosial yang kokoh.
Menginstitusikan pola pikir seperti itu bukanlah hal mudah. Institusionalisasi atau pelembagaan membutuhkan proses panjang, pembiasaan, dan evaluasi berkelanjutan. Muhammadiyah sendiri merupakan gerakan pemikiran yang tidak hanya menawarkan ide perubahan, tetapi juga bergerak melalui sistem organisasi yang mapan. Tantangannya adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara idealisme dan realisme sosial. Organisasi harus tetap kritis terhadap kondisi masyarakat, namun sekaligus mampu menyesuaikan strategi agar dakwah tetap relevan dan membumi.
Amien Rais pernah menggambarkan perubahan yang diperjuangkan Muhammadiyah seperti pertandingan tinju. Kadang harus memukul keras, kadang menghindar dengan teknik, sesekali menggunakan pukulan tipuan, dan selalu memikirkan langkah efektif yang sesuai situasi. Analogi ini menegaskan bahwa perubahan sosial bukanlah proses linier, melainkan medan strategi yang membutuhkan kecerdasan membaca momentum, keberanian mengambil risiko, serta kedisiplinan dalam setiap langkah.
Dalam konteks IMM saat ini, tantangan terbesar adalah memastikan bahwa gerakan kader tetap otentik, bersih dari kepentingan pragmatis, dan berorientasi pada kemajuan umat. IMM harus melahirkan kader yang kritis, ilmiah, namun juga disiplin dalam bertindak. Menghidupkan formula Djazman berarti membiasakan diri dengan riset, membaca fenomena sosial secara tajam, berdialog dengan gagasan besar, dan menciptakan aksi nyata yang dapat dirasakan masyarakat.
Model berpikir realistis ala Dahlan harus dipahami bukan sekadar sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai metodologi gerakan. Setiap gagasan harus diuji melalui dua ruang: rasionalitas ilmiah dan efektivitas praksis. Dengan cara itu, IMM dapat menjaga marwahnya sebagai organisasi kader yang melahirkan pemimpin berkarakter, bukan sekadar aktivis yang bergerak tanpa arah.
Keteladanan Dahlan menunjukkan bahwa perubahan besar lahir dari tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus. Realisme Dahlan bukan penerimaan pasif pada keadaan, tetapi keberanian menghubungkan teori dengan aksi secara konsisten. IMM sebagai pewaris tradisi intelektual Muhammadiyah harus menjaga warisan ini dengan memadukan pemikiran kritis, kerja nyata, dan kesetiaan pada keputusan organisasi. Dengan demikian, gerakan mahasiswa dapat berdiri sebagai kekuatan moral yang membawa perubahan yang lebih luas dan berkelanjutan.