Oleh: Intan Zakiah Darojah
Baru-baru ini ini, konsep Quantum Law of Attraction (LoA) semakin dikenal sebagai rahasia mewujudkan impian. Pokoknya, alam semesta akan merespons pikiran dan perasaan kita. Jika kita memancarkan energi positif, maka realitas positif akan datang juga. Sebagai Muslim, adakah konsep serupa dalam Al-Qur’an? Ternyata, Islam dalam kitabnya telah memiliki pandangan yang lebih menyeluruh holistik dan substantif. Melalui konsep “Doa” dan “Ikhtiar” yang tidak hanya bersifat mental, tetapi juga spiritual dan fisik.
Quantum secara sains fisika adalah sebuah teori fisika yang sangat matematis, berkonsep bahwa energi dan materi ada dalam satuan-satuan diskrit yang tidak dapat dibagi lagi, ini menggambarkan dunia yang sangat kecil dengan hukum-hukumnya yang aneh dan kontra. Istilah ini sering di pinjam oleh filsuf seperti “law of attaraction” meski untuk nuansa keilmiahan ini kurang sesuai namun konsep yang di maksud pada pikiran adalah sebagai energi dan keterkaitannya alam semesta akan merespon frekuensi pikiran. Nah, pikiran positif akan menarik pada perilaku kita sebagaimana partikel-partikel kecil yang terikat akan saling memepengaruhi. Dari sini saya ingin membawa pada beberapa tafsiran ayat Al-Qur’an.
Menanggapi Tren: dari “Pikiran” ke “Hati” yang Terhubung dengan Ilahi” Quantum Law of Attraction membicarakan kekuatan pikiran bawah sadar. Dalam Islam, konsep ini mengingatkan kita pada kekuatan mindseding atau “prasangka” (husnudzon su’udzon) serta kekuatan doa yang muncul dari hati yang benar (qalbun salim).
Dalam kitab kita Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 186
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.”
Ayat ini menunjukkan bahwa “hukum tarik-menarik” versi Ilahiah. Allah sangat dekat dan responsif akan doa hamba-hamba-Nya. Namun, doa dalam Islam bukan sekadar “meminta,” melainkan bentuk penghambaan penuh dan pengakuan bahwa kita pasti bergantung sepenuhnya pada Allah.
Mindseding dalam Islam: Husnudzon dan Keyakinan. Ahmad Nurrohim dalam artikelnya tentang Sains dan Alquran menyatakan bahwa dalam konsep Islam, alam semesta tidak berjalan sendiri, melainkan berjalan sesuai sunnatullah yang ditetapkan oleh Allah. Kekuatan pikiran positif yang digaungkan LoA, dalam Islam dimaknai sebagai husnudzon billah (berprasangka baik kepada Allah). Keyakinan ini bukan sekadar positive thinking, tetapi keyakinan yang tertanam dalam hati bahwa Allah Maha Baik, Maha Kuasa, dan Maha Mengabulkan doa.
Keyakinan dan perasangka baik (husnudzon) inilah yang menjadi “frekuensi” yang menghubungkan doa dengan pengabulannya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari & Muslim). Prasangka baik ini melahirkan sikap optimis dan tawakal.
Pada kalimat yang sering kita dengar “segala sesuatu telah ditakdirkan bisa diubah dengan doa”. Ayat yang sering dikaitkan dengan konsep ini adalah QS. Adz-Dzariyat [51]: 23:
فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِّثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنطِقُونَ
“Maka demi Tuhan langit dan bumi, sungguh, apa yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.”
Ustadz Adi Hidayat dalam beberapa kajiannya menafsirkan bahwa sumpah Allah dengan nama-Nya yang mulia (Rabb langit dan bumi) menunjukkan betapa pasti dan benarnya janji Allah. “Seperti perkataan yang kamu ucapkan” memiliki makna yang dalam. Pada kata-kata kita yang lahir dari keyakinan hati memiliki kekuatan, sebagaimana doa yang dipanjatkan dengan yakin akan dikabulkan oleh Dzat yang Menguasai langit dan bumi. Ayat ini menjadi penguat bahwa realitas yang Allah janjikan (seperti pengabulan doa) adalah sesuatu yang nyata, se-nyata kita bisa berbicara (Hidayat Adi. Kajian Tafsir QS. Adz Dzariyat : 23 dan Konsep Doa).
Doa dan Ikhtiar bagaikan Dua Sisi Mata Uang yang Sama
Quantum LoA sering fokus pada visualisasi dan perasaan. Islam melengkapinya dengan “Ikhtiar”. Doa tanpa ikhtiar hanyalah mimpi, dan ikhtiar tanpa doa adalah kesombongan. Sebuah jurnal yang membahas keterkaitan dzikir dan ikhtiar (misalnya, “Dzikir sebagai Modal Spiritual dalam Meningkatkan Etos Kerja” menjelaskan bahwa dzikir (mengingat Allah) berfungsi untuk:
1. Menenteramkan Hati: Membuat pikiran jernih dan fokus, sehingga ikhtiar menjadi lebih terarah dan efektif.
2. Memperkuat Niat: Menjadikan setiap ikhtiar bernilai ibadah.
3. Menghasilkan Energi Positif: Hati yang selalu terhubung dengan Allah akan memancarkan ketenangan dan optimisme, yang pada akhirnya akan memengaruhi semangat dalam berusaha atau berikhtiar itu sendiri.
Doa adalah “jiwa” dari ikhtiar, sementara ikhtiar adalah “bentuk fisik” dari doa. Perubahan diri inilah yang mencakup perubahan pola pikir (mindseding), kebersihan hati melalui dzikir, dan aksi nyata (ikhtiar). Seperti ditegaskan dalam QS. Ar-Ra’d [13]: 11:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
“Quantum Law of Attraction” dari lensa qurani
Dari penjelasan tafsir di atas, kita bisa menyimpulkan cara bagaimana terwujudnya suatu takdir berdasar apa yang kita fikirkan, kita panjatkan dan kita ikhtiarkan dan juga mendatangkan keberkahan dalam hidup menurut Al-Qur’an:
1. Menetapkan Niat dan Perasaan (Pemikiran Rohani): Mulailah dengan memperbaiki niat dan pikiran, yakinlah bahwa Allah selalu mendengar dan bisa memenuhi apa yang kita minta.
2. Berdoa dengan Percaya Penuh (Kekuatan Doa): Rajin berdoa dengan penuh kekhusyukan, harapan, dan percaya, seperti yang disebutkan dalam QS. Adz-Dzariyat: 23. Ucapkan dengan lisan dan rasakan dengan hati.
3. Membaca Dzikir untuk Menjaga Hubungan (Memelihara Hablumminallah): Perbanyak membaca dzikir agar hati tetap tenang dan terjaga dengan hubungan positif, yaitu ketenangan dan tawakal terhadap Allah.
4. Berusaha dengan Semangat Maksimal (Ikhtiar dengan penuh penghambaan diri): Ubah berdoa menjadi tindakan nyata yang terencana, sungguh-sungguh, dan profesional.
5. Bertawakal (Berserah Diri): Setelah berdoa dan berusaha sekuat tenaga, serahkan semuanya kepada Allah. Ini merupakan puncak dari keyakinan yang dalam.
Konsep dalam Al-Qur’an ini jauh lebih dalam daripada sekadar Law of Attraction. Ia bukan hanya tentang “menarik” hal-hal duniawi, tetapi tentang membangun hubungan yang kuat dengan Sang Pencipta Langit dan Bumi, sambil melakukan aksi terbaik di muka bumi. Ini adalah hukum tarik-menarik yang berdimensi transendental dan nyata, menggabungkan kekuatan qalbu, lisan, dan raga dalam satu kesatuan ibadah yang utuh.
Editor: Astyra Gita Kinanti