Oleh: Tiara khairun Nisa
Jika kita berbicara tentang teknologi, maka apa yang akan terbesit di benak kita? Tentu yang akan kita pikirkan adalah kemudahan-kemudahan yang di berikan teknologi kepada kita seperti kita dapat mengakses informasi, pengetahuan, hiburan, pekerjaan cukup dengan menyentuh layar gawai kita. Tentu dengan semakin canggihnya teknologi, akan memberikan dampak positif dan dampak negatif. Sebagai contoh anak-anak dan remaja, mereka menghabiskan sebagian besar waktunya dengan gawai. Mulai dari belajar, bermain game, menggunakan media sosial, berkomunikasi dengan digital dan lainnya. Dari segi pemamfaatan gawai untuk belajar, mungkin ini salah satu dampak posistif dari canggihnya teknologi. Namun, bagaimana dengan bermain game atau penggunaan sosial media? Seperti yang kita ketahui, bermain game tanpa henti atau penggunaan sosial media yang tidak bijak akan memberikan dampak yang negatif kepada mereka. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah generasi muda cerdas dalam teknologi, tapi mereka miskin secara empati dan moral?
Tentu berkembangnya teknologi menjadi tantangan serius bagi orang tua dan pendidik dalam pembentukan karakter. Karakter tidak dapat timbul begitu saja, disinilah peran pendidikan karakter dan pendidik dibutuhkan. Penanaman pendidikan karakter kepada generasi muda sejak dini, akan menjadi benteng yang dapat melindungi mereka dari pengaruh negatif perkembangan teknologi.
Pendidikan karakter merupakan sebuah bentuk usaha menginternalisasikan dan menyamankan individu dengan karakter-karakter positif.(Nurrohim., 2016) Menurut Zubaedi, pendidikan karakter adalah pendidikan tingkah laku yang pada dasarnya merupakan rancangan pengajaran yang bertujuan membentuk dan mengembangkan karakter peserta didik dengan cara menginternalisasikan nilai-nilai dan keyakinan masyarakat kedalam diri peserta didik supaya peserta didik mempunyai moral yang kuat, jujur, dapat dipercaya, disiplin dan kerja keras serta menekankan aspek afektif (perasaan atau sikap) tanpa meninggalkan aspek kognitif (pengetahuan), dan aspek psikomotorik (keterampilan, kreatif, berani mengemukakan pendapat dan kerja keras).(Iqbal dkk. 2024) Pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang didedikasikan untuk membentuk ataupun meningkatkan karakter pada peserta didik.(Sabrina dkk. 2024)
Perkembangan teknologi yang pesat menjadi tantangan dalam membentuk karakter generasi muda. Saat ini, anak-anak dan remaja mulai kecanduan dengan gawai dan media sosial, sehingga interaksi sosial mereka dengan lingkungan sekitar pun mengurang. Kecanduan dengan gawai menjadi sebab mereka rentan terpapar informasi negatif di internet. Mulai dari ujaran kebencian, konten kekerasan berita palsu(hoax) dan masih banyak lagi. Informasi yang kian membanjir tanpa adanya proses saring dari setiap individu memiliki dampak positif maupun negative (Sovia Dewi Maulita dkk. 2024). Berdasarkan keterangan JPPI(Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia) yang dikutip Goodstats, adanya kenaikan tajam kasus kekerasan di lingkungan pendidikan pada 2024. Jika pada 2023 terdapat 285 kasus, maka pada 2024 jumlahnya melonjak menjadi 573 kasus, naik lebih dari 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan kasus kekerasan ini menunjukkan bahwa kecanggihan teknologi tidak selalu sejalan dengan perkembangan empati dan moral anak.
Era digital tentunya tidak hanya membawa tantangan bagi pendidikan karakter, melainkan juga memberikan peluang dalam memperkuat pendidikan karakter itu sendiri. Salah satu peluang itu adalah dengan memberikan edukasi tentang penggunaan internet yang baik sejak dini kepada anak. Pembelajaran ini dapat dilakukan melalui game edukatif, film yang mengandung pesan moral, e-book bertema nilai-nilai kehidupan dan lainnya.
Dalam pendidikan karakter, peran keluarga dan sekolah sangat penting. Peran sekolah dan keluarga dalam pembentukan karakter adalah: pertama, mengajarkan anak/siswa untuk memilah informasi, menghindari berita bohong (hoax), dan menggunakan media sosial dengan bijaksana,orang tua mengawasi menggunakan gadget dan membatasi penggunaannya (screen time) pada anak. Kedua, memberikan pemahaman kepada mereka mengenai nilai-nilai karakter (seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab). Guru dan orang tua harus menjadi contoh nyata dalam menerapkan nilai-nilai karakter dan etika digital.
Perkembangan teknologi digital memang membawa banyak kemudahan dan manfaat besar bagi kehidupan manusia, terutama bagi generasi muda yang tunbuh ditengah arus digitalisasi. Mereka menjadi lebih cepat dalam mengakses informasi, lebih kreatif, dam memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan zaman. Namun, kecanggihan ini juga menimbulkan tantangan serius, terutama dalam membentuk moral dan karakter. Kemudahan teknologi kadang menbuat generasi muda kehilangan empati, etika, serta tanggung jawab sosial.
Oleh karena itu, Pendidikan karakter menjadi kunci untuk menyeimbangi kecerdasan digital dan kecerdasan moral. Orang tua, guru dan lingkungan, memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai moral seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Teknologi harusnya tidak menjadi ancaman, melainkan dimanfaatkan sebagai sarana untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga berakhlak mulia.
Hanya dengan keseimbangan antara kecerdasan digital dan moral, bangsa ini akan dapat melahirkan insan-insan yang siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri dan nilai kemanusiaan.
Editor: Zahfa Almedina