Oleh: Khonsa Nur Zatilhidayah (Mahasiswi Ilmu Al-qur’an dan Tafsir, UMS)
Sebagaimana kita ketahui, saat ini teknologi telah berkembang sangat pesat. Era ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi umat beragama. Aktivitas spiritual seperti belajar Al-Quran, berdakwah, bahkan kegiatan sosial kini banyak dilakukan secara daring.
Namun, dari kemudahan tersebut muncul persoalan baru: apakah motivasi kita dalam menjalankannya benar-benar karena Allah (lillah), atau hanya sekadar mengejar popularitas dan jumlah like di media sosial?Hal ini merupakan persoalan penting, sebab dalam Islam niat menjadi penentu utama diterimanya amal.
Budaya like di media sosial telah menciptakan ruang baru yang berpotensi menggeser niat spiritual seseorang. Dalam konteks ini, refleksi terhadap konsep keikhlasan dan spiritualitas menjadi sangat penting.
Menurut Nasrullah (2017), media sosial membentuk budaya komunikasi baru yang berorientasi pada pencitraan diri. Jumlah like, komentar, dan pengikut menjadi ukuran keberhasilan, bukan lagi kualitas pesan. Dalam konteks keagamaan, hal ini berpotensi menumbuhkan riya’ – keinginan untuk dilihat baik oleh manusia, bukan Allah.
Fenomena tersebut mengindikasikan adanya krisis keikhlasan di era digital. Memang banyak yang berdakwah murni karena Allah Ta’ala, namun tak dapat dipungkiri bahwa banyak terjadi penggeseran orientasi konten. Bermula dari konten dakwah dengan niat baik kemudian hanya menjadi sarana mencari validasi sosial. Dalam situasi ini, konsep lillah harus kembali ditegaskan sebagai fondasi setiap amal.
Konsep Lillah dan Penyucian Jiwa Dalam Islam
Dalam khazanah islam klasik, keikhlasan (Ikhlas) adalah inti dari semua amal. Imam Al-Ghazali dalam ihya’ ulumuddin menegaskan bahwa amal tanpa keikhlasan bagaikan tubuh tanpa ruh. Keikhlasan berarti memusatkan niat hanya kepada Allah, bukan kepada pandangan manusia.
Pandangan ini sejalan dengan gagasan Ahmad Nurrohim (2016) yang menyatakan bahwa inti dari pendidikan karakter Adalah penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs). Ia menjelaskan bahwa aspek tazkiyah al-nafs merupakan titik integrasi antara Kesehatan jiwa dan Pendidikan karakter, dalam rangka membangun individu yang sehat dan berkarakter. Dengan kata lain, Kesehatan mental dan spiritual seseorang tidak dapat dipisahkan dari proses pembersihan hati dan niat.
Dalam konteks media sosial,menjaga keikhlasan dapat dipahami sebagai bentuk tazkiyah al-nafs modern, yaitu Upaya penyucian jiwa di tengah derasnya arus pencitraan digital. Seseorang yang Ikhlas akan beramal karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau diakui oleh manusia.
Karakter dan Spiritualitas
Ahmad Nurrohim (2016) menegaskan bahwa karakter merupakan ukuran utama kualitas manusia. Menurutnya, karakter yang baik tidak hanya tercermin dari perilaku lahiriah, tetapi juga orientasi batin yang Ikhlas. Ia menjelaskan bahwa kualitas ilmu ditandai dengan iman, yang mencakup ranah kognitif dan konatif, sedangkan kualitas amal ditandai dengan amal saleh yang mencakup ranah psikomotorik. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu dan amal harus disertai kesaadaran iman agar bernilai ibadah.
Tanpa niat lillah, seluruh aktivitas manusia–termasuk dakwah digital-kehilangan makna spiritualnya. Dalam penjelasannya tentang dinamika kejiwaan manusia, Nurrohim juga menguraikan tiga tingkatan nafs yang menjadi pusat Pendidikan spiritual, yaitu nafs ammarah bi al-su’, nafs lawwamah, dan nafs muthmainnah. Jika dikaitkan dengan perilaku digital, seseorang yang masih dikuasai nafs ammarah akan mencari pujian dan pengakuan, sedangkan seseorang yang telah mencapai nafs muthmainnah akan beramal tulus karena Allah semata.
Dengan demikian, Pendidikan spiritual yang sejati menuntun manusia untuk naik dari dorongan hawa nafsu menuju ketenangan jiwa, termasuk dalam penggunaan media sosial.
Dalam pandangannya yang lain, Nurrohim (2016) menyebut bahwa konsep karakter bertemu dengan konsep adab pada wilayah interaksi antarsesama manusia, tetapi berpisah ketika memasuki wilayah interaksi spiritual dengan Allah. Artinya, karakter dan adab berperan penting dalam mengatur hubungan sosial, sementara niat lillah menjadi pedoman utama dalam hubungan vertical dengan Sang Pencipta.
Dalam konteks dunia digital, adab dan karakter menjadi panduan agar interaksi tetap soapn dan beretika. Namun, agar aktivitas daring bernilai ibadah, seseorang juga perlu menanamkan kesadaran spiritual. Ketika menulis, berdakwah atau berbagi inspirasi di dunia maya, seorang muslim hendaknya menyeimbangkan adab digital dengan orientasi lillah, sehingga aktivitasnya tidak hanya baik dimata manusia, tetapi juga bernilai di sisi Allah.
Refleksi: Menuju Lillah di Tengah Budaya Like
Untuk menjaga niat lillah di era digital, umat perlu melakukan muhasabah (introspeksi diri). Ahmad Nurrohim (2016) menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan spiritual dalam membentuk manusia utuh. Dengan kesadaran ini, setiap tindakan di media sosial dapat diarahkan untuk mencari ridha Allah, bukan sekedar popularitas.
Langkah sederhana menuju lillah dapat dilakukan dengan menetapkan niat sebelum beraktivitas digital, menyaring konten agar bermanfaat, menghindari riya’ dan pamer amal, serta melakukan evaluasi diri setelah berinteraksi di dunia maya. Dengan cara ini, like bukan lagi tujuan, tetapi sarana menyebarkan kebaikan. Dari like menuju lillah berarti mengembalikan setiap amal kepada orientasi spiritual yang sejati.
Budaya like telah menjadi fenomena sosial yang memengaruhi motivasi keagamaan umat islam di era digital. Namun, islam mengajarkan bahwa amal tanpa keikhlasan tidak bernilai di sisi Allah. Oleh karena itu, aktivitas digital yang dilakukan dengan niat tulus dapat menjadi ladang pahala dan sarana mendekatkan diri kepada-Nya.
Dengan menanamkan nilai lillah dalam setiap Langkah, dunia digital tidak lagi menjadi arena pencitraan, melainkan ruang untuk beribadah dan menebar kebaikan. Di Tengah derasnya arus like dan popularitas, keikhlasan tetap menjadi kunci agar amal kita bernilai di sisi Allah.
Editor: Dwi Kurniadi