Oleh: Astyra Gita Kinanti
Catatan sederhana ini lahir dari sebuah pemikiran sederhana. Pada suatu hari, aku terpikirkan tentang para ilmuwan muslim yang jarang diketahui dunia. Mereka yang kaya dengan ilmu, keberanian, sekaligus keimanan kalah tenar dengan para ilmuwan barat yang dibalik kepintaran mereka, menyimpan banyak pemikiran yang menyimpang dari fitrah manusia —seperti homoseksual dan diskriminasi wanita misalnya—. Maka aku mengajak beberapa teman untuk berdiskusi dengan pertanyaan sederhana, “Sipapakah manusia paling pintar di dunia? Kamu boleh sebut orang dari masa lalu ataupun masa kini”. Tadinya aku berharap mereka akan menjawab dengan jawaban seperti Einstein, atau Wright bersaudara. Agar setelah itu, aku bisa mengingatkan mereka bahwa umat islam juga punya ilmuwan yang tak kalah keren seperti Al-Kindi, Al-Farabi, atau Al-Khawarizmi.
Tapi ternyata aku keliru.
Di suatu Musala kecil, aku bertanya pada beberapa temanku. Ada yang enggan menjawab, ada juga yang menjawab dengan bangga, ‘’Ayahku” katanya.
Lalu percakapan mulai menjadi seru setelah temanku yang lain melontarkan jawabannya. Ia menjawab “Leonardo da Vinci”. Karena menurutnya, selain pelukis, da Vinci juga merupakan penemu, arsitek, ilmuwan, penulis, juga filsuf yang hebat. Lain lagi dengan seorang lainnya yang ketika kutanya, jawabannya “Orang terpintar di dunia adalah Nabi Muhammad saw.”. Sebabnya, Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam hidup di zaman yang serba keterbatasan, belum ada teknologi canggih. Namun beliau mengetahui banyak fakta sains yang jika dibuktikan dengan sains masa kini, itu adalah hal yang benar. Contoh saja seperti teori mencelupkan kedua sayap lalat sebelum mengeluarkan lalat yang jatuh ke air, juga seperti tahapan perkembangan bayi dalam janin.
Tapi temanku si penggemar da Vinci itu menyanggah. “Ah, yakin jawabanmu Nabi Muhammad? Wong baca tulis aja nggak bisa kok“. Jawaban ini tentu hanyalah ceplosan spontan yang bukan bermaksud lebih memuliakan da Vinci dari Rasulullah. Lalu aku menambahkan, “Kalau Nabi Muhammad ‘kan punya wahyu”. Si penggemar da Vinci malah menggunakan perkataanku sebagai alasannya, “Nah iya kan, pakai wahyu. Nge-cheat ituu”. Diskusi pun berakhir tanpa penyelesaian.
Yap, begitulah kira-kira cuplikan cerita yang melahirkan pertanyaan di benakku, “Pantaskah kita menyebut Nabi Muhammad bukan orang pintar, hanya karena beliau tidak bisa membaca dan menulis?”. Padahal dalam bukunya, “100 tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah” Michael H. Hart menempatkan Muhammad pada urutan pertama sekalipun dia bukan seorang muslim.
Setelah aku baca-baca beberapa artikel dan diskusi dengan temanku yang lain, akhirnya aku mendapatkan jawaban. Bahwa wahyu ada di atas ilmu. Jadi, sepintar apapun para ilmuwan dengan ilmunya, para nabi dan rasul sudah tentu ada diatas mereka karena mereka memiliki sumber dari segala sumber ilmu. Sumber pengetahuan mereka ‘alaihimussalam adalah wahyu. Dan wahyu merupakan hal yang datang langsung dari Tuhan untuk mereka. Maka tak perlu kita membandingkan wahyu dengan ilmu, karna sudah tentu wahyu ada diatas ilmu.
Adapun hal-hal dalam wahyu yang seolah tak masuk akal, merupakan keterbatasan akal manusia dalam memahaminya. Contoh pada zaman Rasul, para sahabat r.a. tentu akan menurut saja pada rasul ketika rasul melarang mereka memakai perhiasan emas sebagai bentuk iman mereka. Karena memang pada masa itu, belum ada informasi ilmiah tentang bahayanya pemakaian emas bagi laki-laki. Hingga baru diketahui pada masa kini bahwa memang ternyata mengenakan emas bagi pria dapat menyebabkan berbagai macam penyakit seperti alzheimer.
Kita kembali ke topik. Lantas bagaimana dengan Nabi Muhammad yang tidak bisa menulis dan membaca, bukankan ayat pertama yang diturunkan adalah perintah untuk membaca? Jawaban yang aku dapatkan adalah, bahwa buta huruf nya rasulullah adalah salah satu ketentuan Allah yang dengan itu, manusia dapat mengetahui bahwa Al-Qur’an itu benar-benar wahyu yang datang dari Allah. Bukan karangan Nabi Muhammad saw. sendiri.
Lalu, apakah beliau bodoh? Oh tentu tidak. Baca dan tulis bukanlah tolak ukur kepintaran seseorang. Karena kecerdasan dalam ilmu psikologi ada banyak jenisnya. Contoh saja dari segi kecerdasan linguistik misalnya, jelas sekali Rasul memiliki kemampuan bertutur yang amat baik. Terlihat dari banyak hadits beliau yang memiliki tatanan bahasa yang terstruktur dengan frasa kata yang begitu sopan. Dari segi lain seperti kecerdasan interpersonal misalnya, Rasul memiliki kemampuan bermuamalah yang amat baik. Bahkan beliau menjadi kepercayaan banyak orang hingga mendapat julukan “Al-Amin”. Sedangkan dari segi kecerdasan kinestetik, dalam banyak riwayat dijelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. Merupakan sesosok lelaki dewasa yang memiliki postur tegap berotot. Ini merupakan tanda bahwa Rasul memiliki kebiasaan berolahraga rutin. Beliau juga tampak memiliki kecerdasan matematis dan logika yang amat baik. Hal ini terlihat dari cara beliau memperkirakan strategi perang, dan cara beliau berdagang. Sedangkan dari segi kecerdasan intrapersonal, yaitu kemampuan mengenali potensi dan memotivasi diri sendiri, Rasulullah saw. memiliki kecerdasan tersebut dengan cukup baik. Terlihat dari kebiasannya ber-muhasabah ketika sebelum pengangkatannya menjadi Nabi.
Begitulah contoh kecil dari banyaknya kecerdasan Nabi Muhammad saw. sebagai Insan Kamil. Kemampuan nabi dalam menyerap informasi pun sama sekali tak dapat dipandang remeh. Contoh saja dari setiap wahyu turun kepadanya, beliau menyampaikan wahyu tersebut kepada para sahabat, itu berarti beliau memiliki daya ingat yang amat luar biasa. Beliau juga merupakan pemimpin pertama salah satu negara —yaitu Madinah—. Beliau juga orang yang menulis konstitusi tertulis pertama di dunia, yaitu Piagam Madinah. Maka jelas, Rasulullah saw. adalah seorang manusia terbaik sebagaimana yang kita ketahui. Dan tak pantas bagi kita memandang rendah kepintaran rasul hanya karena beliau tak bisa membaca dan menulis.
Wa shallallahu ‘ala Muhammad, Wallahu a’lam bish shawab
Editor: Astyra Gita Kinanti