Oleh: Saniya Zulfa Riyani Sari
Di tengah kesibukan berkuliah, dengan tugas yang menumpuk hingga tekanan yang telah dirasakan oleh mahasiswa, sering kali membuat lupa untuk bersyukur. Padahal, bersyukur bukan hanya ucapan “alhamdulillah” saja, tetapi rasa syukur yaitu sikap hidup yang bisa menguatkan karakter dan mentalitas generasi muda saat ini. Menariknya, Ahmad Nurrohim selaku dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas Muhammadiyah Surakarta bersama rekannya mengulas makna syukur dalam QS. Luqman: 12 dengan membandingkan tafsir Amin al-Khulli dan M. Quraish Shihab.
Menurut Nurrohim, tafsir Amin al-Khulli menekankan pendekatan akademis yang mendalam, sementara Quraish Shihab menghadirkan syukur secara lebih praktis dalam kehidupan sehari-hari. “Tafsir Al-Khulli lebih cocok sebagai rujukan akademik yang mendalam dalam analisis linguistik dan teologis, sedangkan tafsir Quraish Shihab lebih cocok bagi mereka yang ingin memahami aplikasi konsep syukur dalam kehidupan sehari-hari” (Asmoro & Nurrohim, 2025, hlm. 11).
Quraish Shihab menjelaskan bahwa rasa syukur adalah kesadaran penuh atas nikmat yang telah diterima, kemudian dapat menggunakan nikmat itu untuk kebaikan. “Syukur adalah kesadaran manusia terhadap nikmat yang diterima dan bagaimana nikmat tersebut digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah serta memberi manfaat bagi sesama” (Asmoro & Nurrohim, 2025, hlm. 10). Dengan kata lain, bersyukur tidak hanya terucap dengan perkataan saja, tetapi tercermin dalam perbuatan sehari-hari.
Al-Qur’an menyebut kata syukr sebanyak 75 kali yang tersebar dalam 69 ayat dan 37 surat dengan 18 bentuk derivasi. Penggunaan kata tersebut tidak hanya berkaitan dengan perbuatan manusia dalam mensyukuri nikmat Allah, tetapi juga menggambarkan respons Allah terhadap sikap hamba-Nya. Ketika manusia bersyukur atas karunia-Nya, Allah menunjukkan sifat-Nya yang membalas kebaikan tersebut. Istilah syākir (yang bersyukur) dan syakūr (yang sangat bersyukur) tidak hanya disandarkan kepada manusia, melainkan juga digunakan untuk menyifati Allah, sebab salah satu asmaul husna adalah Asy-Syakūr, yaitu Dzat yang Maha Membalas dan Menghargai amal hamba-Nya (Danang Wiharjanto dan Yayat Suharyat, 2022).
Syukur memiliki tiga tingkatan. Pertama, syukur dengan hati, yaitu kesadaran penuh bahwa segala nikmat yang dimiliki berasal dari Allah Swt. Kedua, syukur dengan lisan, yaitu mengekspresikan rasa syukur melalui ucapan pujian kepada-Nya. Ketiga, syukur dengan perbuatan, yaitu memanfaatkan nikmat yang diberikan Allah sesuai dengan tujuan dan kehendak-Nya sehingga bernilai ibadah (Asmoro dan Nurrohim, t.t.).
Syukur memiliki dua dimensi utama. Pertama, syukur kepada Allah Swt. atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada manusia di muka bumi. Dengan kesadaran ini, manusia terdorong untuk menjalankan setiap kewajiban yang telah ditetapkan-Nya. Kedua, syukur kepada sesama manusia sebagai bentuk penghargaan dan terima kasih atas kebaikan maupun bantuan yang diberikan, sehingga tercipta hubungan sosial yang harmonis dan saling menghargai (Asmoro dan Nurrohim, t.t.).
Bagi saya, konsep ini relevan untuk kehidupan sehari-hari. Ketika mendapat kesempatan melanjutkan studi di perguruan tinggi, bersyukur dapat diwujudkan dengan belajar sungguh-sungguh dan menghargai setiap proses perkuliahan. Bagi mahasiswa yang mengajar di TPA, rasa syukur tercermin atas kesabaran membimbing anak-anak dalam membaca Al-Qur’an, mengajarkan sunnah-sunnah Nabi, melatih kedisiplinan, sekaligus menanamkan nilai kebaikan sejak dini. Aktivitas sederhana ini bukan hanya bermanfaat bagi murid-murid, tetapi juga menjadi aksi nyata mahasiswa mensyukuri ilmu yang telah dimiliki dengan mengajarkannya kepada orang lain. Bahkan di era digital, rasa syukur bisa hadir dalam bentuk bijak menggunakan media sosial, menyebarkan konten bermanfaat, dan menjaga etika berinteraksi.
Hikmah yang terkandung dalam Al-Qur’an mengenai syukur, masing-masing mufasir memberikan pandangan yang khas. Amin al-Khulli menekankan bahwa syukur adalah pengingat agar manusia tidak terjerumus pada sikap kufur terhadap nikmat Allah Swt. Dengan bersyukur, seseorang semakin menyadari bahwa segala yang telah diamanahkan kepada kita wajib kita jaga dengan sebaik-baiknya. Kesadaran ini akan menumbuhkan kerendahan hati, menjauhkan dirinya dari sifat sombong, serta mencegahnya meremehkan orang lain. Sementara itu, Quraish Shihab melihat syukur bukan hanya sebagai bentuk kesadaran spiritual, tetapi juga sebagai sarana pendidikan moral. Dengan bersyukur, manusia didorong untuk menjaga nikmat yang dimiliki dan menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab, sehingga tercipta pribadi yang disiplin, optimis, dan penuh tanggung jawab dalam kehidupan sosial (Asmoro dan Nurrohim, t.t.).
Artinya, syukur adalah energi yang menghidupkan. Ia membuat mahasiswa lebih optimis, rendah hati, dan tahan banting menghadapi tantangan zaman. Seperti diingatkan Nurrohim, syukur bukan sekadar ekspresi verbal, tetapi menjadi landasan pendidikan karakter yang selalu segar dan bermakna sepanjang masa.
Editor: Rafidah Azis