Oleh: Muhammad Nurudin Salim
Sebagai mahasiswa pasti relate dengan istilah “scroll”, realita yang akan terpikirkan adalah sebuah kegiatan menjelajahi sosial media. Lalu, apa hubungan scroll dengan berjelajah di sosial media? Kata scroll dalam bahasa inggris berarti “gulungan” atau “menggulung”. Lalu, istilah scroll akrab digunakan oleh pengguna media sosial, merupakan adopsi dari istilah dari antarmuka grafis (graphical user interface). (Santoso, 2019, hlm. 70).
Tentu saja karena, hampir semua platform media sosial memiliki fitur atau beranda yang menyajikan konten-konten, identik memiliki fitur yang mengharuskan kita menggulir layar untuk mendapatkan konten yang lain. Aktivitas menggulir layar inilah yang familiar dengan kata scroll. Selanjutnya, apakah scroll ini memiliki dampak negatif bagi mahasiswa? khususnya kegiatan ini amat sangat menyita waktu?
Sebelum membahas dampak negatif dari budaya scroll sosmed ini, mari kita ulas sedikit tentang beberapa faktor penyebab budaya scroll sosmed ini. Dalam beberapa platform yang menyajikan konten-konten hasil karya para influencer atau content-creator (sebutan untuk pembuat video konten) yang menarik dan asik. Sehingga, secara tidak sadar menyebabkan kecanduan terhadap konsumsi video konten pendek tersebut.(Fatih & Bashori, 2025). Namun dibalik itu, terdapat sisi positif dari penyajian konten video pendek di sosial media, yaitu akses dalam penyerapan informasi terfasilitasi dengan sangat praktis dan mudah.(Alhabash dkk., 2015). Dari segi inilah terbuka kesempatan besar bagi para content-creator yang memiliki visi untuk membagikan ilmunya yang dibungkus dalam sebuah video pendek. Maka terjadilah sebuah timbal balik antara content-creator dan pengguna sosmed. Kemudahan untuk mengakses ini memungkinkan umat muslim di manapun untuk mempelajari dan ayat-ayat suci Al Qur’an tanpa terbatas jarak. (Nurrohim et al., 2024).
Namun, tidak hanya konten berilmu saja yang menyebar luas di sosmed saat ini. Bahkan, tidak sedikit konten-konten receh yang tersebar di sosmed. Tidak hanya itu, bahkan banyak konten yang kurang berfaedah atau malah mengandung unsur negatif. (Agustina, 2020).
Sebagai mahasiswa, scroll sudah menjadi budaya yang sangat susah sekali ditinggalkan, karena dengannya kita bisa mendapatkan hiburan dengan mudah dan praktis tanpa harus mengeluarkan biaya banyak. Contoh umumnya, seorang mahasiswa yang mengikuti kuliah pada hari Senin, mulai dari pagi hingga sore, merasa sangat lelah dengan aktivitas yang begitu padat. Belum lagi ada banyak tugas dari setiap mata kuliah yang diikuti. Maka ketika pulang dan istirahat, sering kali kita scroll sosmed untuk merehatkan pikiran sejenak. Alih-alih memberikan waktu otak dan pikiran untuk istirahat, kita kerap kali terlena dan bahkan lupa waktu, dan seringkali menyita waktu yang seharusnya kita gunakan untuk istirahat. Mengapa demikian? Karena dalam scroll tersebut, kita mendapatkan hiburan yang cukup membuat kita bahagia. Lalu apakah dengan mendapatkan satu – dua video konten akan membuat kita puas? Jawabannya tidak, karena sudah menjadi sifat alamiah dari otak manusia untuk mencari kesenangan, dan cenderung mengambil jarak dari hal-hal yang melelahkan atau bahkan menyakitkan.(ZulkaidaI dkk., 2005).
Menurut laporan dari We Are Social dan Hootsuite tahun 2023 menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan oleh generasi muda (usia 16-24 tahun) di Indonesia untuk menggunakan media sosial rata-rata mencapai lebih dari 3 jam per hari. Juga Kominfo telah melakukan survei bahwa 72% dari generasi muda mengakses media sosial ketika waktu luang, tanpa tujuan produktif yang jelas atau terstruktur atau hanya untuk mencari kesenangan singkat. Tentu saja, berdasarkan data diatas menunjukkan waktu yang dimiliki generasi muda, cenderung dihabiskan untuk mengonsumsi konten yang kurang bermanfaat bahkan sia-sia, dan terus berulang-ulang setiap harinya. Alih-alih digunakan untuk kegiatan bermanfaat lainnya seperti membaca, olahraga, gym, atau lainnya yang bisa bernilai sebagai ibadah.
Bahkan di dalam Al-Qur’an dalam sudah dijelaskan tentang konsep penggunaan waktu yang urgensi nya untuk kemanfaatan hidup dengan sangat bijaksana. Salah satu contoh surat dalam Al-Qur’an yaitu “Demi masa (al-‘Asr), sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian” (QS. al-‘Asr [103]: 1-2). Ini menunjukkan bahwa konsep waktu seperti pisau bermata dua, ketika bisa digunakan dan dimanfaatkan sebaik mungkin, maka akan mendatangkan kesuksesan hidup. Berbanding terbalik ketika hanya digunakan untuk memenuhi hawa nafsu semata, atau kegiatan unfaedah lainnya, maka waktu hanya akan membinasakannya.
Sebagai mahasiswa, keterampilan wajib yang harus dimiliki ialah literasi informasi yang baik. Kemudahan tersebarnya informasi dalam sosial media, akan membanjiri setiap platform dengan konten yang disajikan. Tentu informasi tersebut akan terbaur antara positif dan negatif. Maka kemampuan literasi menjadi urgensi untuk mem-filter setiap informasi yang didapati dalam sosial media.
Efektifitas otak dalam mengolah sesuatu akan lebih maksimal ketika terfokuskan pada satu titik. Selain literasi, prioritas dalam mencari informasi juga harus dibatasi agar menghindari pemborosan energi otak dalam mengolahnya. Sehingga menentukan pola belajar dalam sosial media tidak kalah penting, juga membuat waktu lebih efektif.
Editor: Zahfa Almedina