Oleh: Khairunnisa Radhwa Nazihah
Kampus merupakan lingkungan atau tempat yang sangat erat bagi mahasiswa, yang sebagian waktunya dihabiskan untuk mengerjakan tugas, berdiskusi, belajar, mengembangkan diri, berinteraksi antar satu sama lain, dan sebagainya. Di era globalisasi yang semakin kompetitif ini, mahasiswa perlu meningkatkan potensi atau keterampilan dengan mengikuti berbagai organisasi yang ada di dalam universitas. Semangat berorganisasi di kalangan mahasiswa perlu ditanamkan dalam diri sejak menjadi mahasiswa baru.
Saat ini, sedikit mahasiswa yang menyadari bahwa dengan mengikuti organisasi kaderisasi dapat membentuk karakter atau melatih kepemimpinan, baik itu organisasi di luar kampus maupun organisasi di dalam kampus. Peran organisasi kampus dalam membentuk kepemimpinan mahasiswa tidak bisa dipandang sebelah mata. Melalui keterlibatan posisi dalam berorganisasi, seperti ketua, sekretaris, bendahara, atau posisi lain, mahasiswa dapat belajar bagaimana semestinya kita harus menghargai perbedaan pendapat, menyelesaikan konflik, serta mengoordinasi agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar. Cara inilah yang paling kompeten untuk melatih kita sebelum beranjak ke dunia kerja, yaitu melatih kepemimpinan dengan mengikuti organisasi kampus (Yolanda, Sari, Ismail, 2024).
Organisasi kemahasiswaan adalah suatu organisasi yang berada di perguruan tinggi dan anggotanya adalah mahasiswa. Organisasi ini merupakan organisasi kaderisasi di dalam kampus dengan tujuan mengembangkan potensi, yang memiliki peran sebagai sarana untuk meningkatkan tali persaudaraan dan menumbuhkan sikap intelektual menjadi sebuah wadah dalam menyampaikan aspirasi mahasiswa agar tercapai tujuan perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa atau Ormawa mengandung makna sebagai sarana melatih sikap disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras.
Seorang pemimpin di dalam organisasi mahasiswa semestinya memiliki visi yang jelas demi mencapai tujuan bersama. Dalam konteks pendidikan, kepemimpinan akan terlihat pada cara pemimpin menetapkan suatu kebijakan atau keadilan, mengambil keputusan, dan mengawasi anggota. Pemimpin yang baik harus menunjukkan sifat tegas, adil, mampu mengambil keputusan cepat, serta dapat mengayomi satu sama lain (Pertiwi, Septian, Ashifa, Prihantini, 2021).
Belajar Memimpin lewat Organisasi Kampus
Mahasiswa yang aktif dalam bidang akademik atau ekstrakurikuler memiliki manfaat tertentu, seperti meningkatnya kepercayaan diri, kemampuan berinteraksi, berpikir kritis, dan masih banyak lagi manfaat yang dapat diperoleh (Suranto & Rusdianti, 2018). Organisasi kemahasiswaan juga menyediakan tempat atau kegiatan untuk mengembangkan keterampilan dan kerja sama tim, seperti seminar dan workshop yang relevan dengan dunia kerja (Widodo & Susanti, 2018). Pastinya, dalam berorganisasi kita akan mengemban amanah yang sangat besar dengan penuh tanggung jawab. Di situlah karakter atau letak leadership akan terbentuk karena adanya jiwa disiplin dan kepemimpinan.
Menurut Sani dan Widodo (2020), mahasiswa yang menjalankan peran kepemimpinan dalam berorganisasi cenderung lebih percaya diri dalam mengatasi konflik dan menghadapi berbagai kesulitan. Mereka belajar bagaimana cara mengontrol emosi, mencari solusi secara efektif, yang dapat memperkuat karakter mereka sendiri. Maka dari itu, keterampilan kepemimpinan menjadi salah satu syarat keberhasilan bagi mahasiswa saat terjun ke dunia kerja (Afriyenti & Misra, 2019). Efektivitas dalam kepemimpinan organisasi mahasiswa sangat dipengaruhi oleh keadaan dan beberapa faktor yang mendukung pengembangan karakter, antara lain:
- Pembentukan Kepribadian: Melalui pengalaman dalam berorganisasi, mahasiswa dapat membentuk kepribadian yang kuat, termasuk percaya diri, berani mengambil risiko, dan mampu beradaptasi.
- Keterampilan Komunikasi: Organisasi mahasiswa menyediakan wadah untuk melatih kemampuan komunikasi yang efektif, seperti kemampuan mendengarkan, memberikan umpan balik, dan membuka jalur komunikasi dua arah.
- Etika dan Tanggung Jawab: Organisasi mahasiswa berperan dalam menumbuhkan nilai-nilai etika, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian sosial pada mahasiswa.
- Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreativitas: Mahasiswa didorong untuk berpikir kritis, memiliki rasa ingin tahu, serta mampu mengajukan gagasan yang berbeda dan mencoba hal-hal baru.
- Kesadaran Sosial dan Kerja Sama: Melalui interaksi dengan anggota organisasi yang beragam, mahasiswa mengembangkan kesadaran sosial, kemampuan menghargai perbedaan, dan semangat kerja sama tim.
Menurut Kak Shakira, S.Ag. (alumni Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta dan pernah mengikuti organisasi IMM Muh Abduh), sebagian organisasi memang terjebak dalam rutinitas proyek tanpa visi. Jadinya mirip mesin birokrasi kecil, bukan ruang pembebasan. Organisasi bukan beban dan bukan budak proker; ia adalah ruang untuk berlatih menjadi manusia. Manusia merdeka bukanlah manusia yang hanya hidup untuk dirinya sendiri, melainkan yang sanggup berpikir, berjuang, dan berkorban untuk masyarakatnya. Jadi, dengan mengikuti organisasi kemahasiswaan, kepemimpinan kita akan terlatih mulai dari cara memimpin, melatih public speaking, membangun jejaring sosial antarmahasiswa, hingga melatih problem solving yang baik ketika pembelajaran di luar kelas.
Peran penting organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi menjadi langkah strategis untuk mencetak generasi pemimpin yang bertanggung jawab. Kepemimpinan bukan hanya tentang keterampilan, tetapi juga tentang sikap, integritas, dan tanggung jawab. Menurut Northouse (2018) dalam bukunya Leadership: Theory and Practice, kepemimpinan tidak hanya terbatas pada pengaruh personal, tetapi juga mencakup proses interaksi sosial yang kompleks yang melibatkan kemampuan memengaruhi anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama (Saefulloh, Mahardika, Hannanika, 2024).
Editor: Rafidah Azis