Oleh: Dwi Kurniadi (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta)
“Antara Empati dan Revolusi “
Di sudut sebuah kafe kota, di mana suara gelas beradu dan musik mengalun pelan, sepasang mata muda menatap layar ponsel dengan raut serius. Ia tidak sedang mencari promo kopi susu kekinian atau menyusun caption estetis. Ia sedang membaca kisah seorang ayah buruh harian yang menjual sepeda tuanya demi biaya pengobatan anaknya. Ia termenung, menimbang. Lalu, dengan satu ketukan jari, ia menyumbangkan lima puluh ribu rupiah—uang yang semestinya bisa untuk nongkrong dua kali.
Begitulah potret baru filantropi hari ini. Ia bukan lagi milik kalangan berada yang menuliskan nama di plakat marmer yayasan. Ia hadir dalam tindakan-tindakan kecil, nyaris sunyi, yang dilakukan oleh generasi yang dulu sering dituduh terlalu sibuk bermain gawai dan tak peduli pada sekitar (Jusuf 2007).
Generasi muda, dari milenial hingga Gen Z, ternyata menyimpan sesuatu yang tidak banyak dipahami oleh generasi sebelumnya: kepekaan yang diam-diam tumbuh, dan cara mencintai dunia dengan caranya sendiri. Mereka tak mengenakan jas formal saat memberi. Mereka mengenakan hoodie, memegang ponsel, dan menyalakan empati lewat layar.
Dari Jari ke Hati bentuk Wujud Baru Kepedulian
Jika kita kembali ke masa lalu, filantropi adalah kata megah, yang identik dengan pengusaha sukses, politisi besar, dan para dermawan dengan rekening gemuk. Ia berbicara tentang donasi masif, yayasan besar, gala dinner amal, atau iklan televisi dengan nama donatur terpampang jelas. Memberi adalah simbol status. Dan yang diberi, seringkali menjadi objek pasif, sekadar penerima uluran tangan.
Namun hari ini, filantropi telah berubah wajah. Ia menjadi cair, inklusif, dan tak lagi bertumpu pada hierarki kekayaan. Generasi muda membawanya turun dari menara gading ke jalanan, ke ruang-ruang digital, ke kolom komentar, ke hashtag yang viral. Mereka menyentuhnya dengan jari-jari mereka, mengetikkannya dengan gawai, dan menyebarkannya lewat gelombang internet.
Kita melihat mahasiswa yang membuka donasi untuk korban banjir lewat Instagram Story, pelajar SMA yang membuat akun komunitas untuk membantu anak-anak jalanan, atau pekerja muda yang menyisihkan penghasilan bulanan bukan untuk liburan, tapi untuk biaya pendidikan anak yatim. Bahkan, tak jarang kita menjumpai anak muda yang menjual karya berupa lukisan, musik, tulisan dan seluruh hasilnya ia sumbangkan tanpa sepeser pun untuk dirinya.
Tak berhenti di sana. Mereka pun menciptakan tren sosial: #PatunganBuku, #NasiGratisSetiapJumat, #BerbagiMaskerSaatPandemi, hingga kampanye digital untuk isu-isu yang lebih luas seperti perubahan iklim, kesehatan mental, dan hak pendidikan perempuan.
Filantropi bukan lagi peristiwa besar yang menunggu momen. Ia menjadi kebiasaan kecil, tindakan sehari-hari, bahkan gaya hidup. Memberi bukanlah kewajiban moral yang berat. Ia menjadi kelegaan batin, pelipur kegelisahan, atau barangkali cara sederhana untuk tetap merasa manusia di dunia yang semakin dingin dan cepat (Makhrus dan Saepudin 2023).
Tentu, kita tak menutup mata pada sisi gelapnya. Di antara aksi-aksi tulus, selalu ada bayang-bayang pamrih. Ada yang merekam setiap aktivitas donasi untuk konten. Ada yang menjadikan kebaikan sebagai alat branding pribadi. Ada yang memberi hanya demi validasi sosial. Tetapi, apakah ketulusan hanya bisa diukur dari niat tersembunyi? Bila sebuah video berdurasi satu menit bisa membuat ribuan orang tersentuh dan bertindak, tidakkah itu tetap berarti?
Toh, dunia ini tidak kekurangan orang baik. Ia hanya kekurangan panggung bagi kebaikan untuk terlihat. Dan generasi muda, entah sadar atau tidak, telah menciptakan panggung itu di feed, di story, di utas, di kanal-kanal suara yang membanjiri dunia maya dengan pesan kemanusiaan.
Media Sosial sebagai Katalis Perubahan Sunyi
Media sosial, yang sering dicerca sebagai pemicu narsisme dan kebisingan semu, justru menjadi medan subur bagi aksi filantropi generasi muda. Ia adalah pisau bermata dua, tetapi di tangan yang tepat, ia bisa menjadi jembatan kasih.
Lewat satu unggahan, kabar duka dari pelosok Papua bisa sampai ke Jakarta dalam hitungan menit. Lewat satu tagar, kisah nenek pemulung bisa viral dan mengundang bantuan dari ribuan orang yang tak pernah mengenalnya. Media sosial membuat yang tak terlihat menjadi terlihat, yang tak terdengar menjadi terdengar, yang tak dihiraukan menjadi diperjuangkan.
Di balik setiap utas panjang tentang ketidakadilan, ada anak muda yang membaca, menangis, dan bertanya: “Apa yang bisa aku lakukan?” Di balik setiap kampanye daring, ada sekelompok anak muda yang tidur larut, menyusun strategi, dan memutar otak demi bisa membantu lebih banyak. Mereka bukan aktivis formal. Mereka hanyalah manusia biasa yang tak sanggup menutup mata pada derita yang berserak di layar ponsel mereka.
Media sosial juga mengajarkan mereka literasi moral. Mereka belajar tentang ketimpangan struktural, privilese, dan akar dari kemiskinan. Filantropi pun mulai menjauh dari sekadar charity ke arah keadilan. Mereka bukan hanya memberi nasi, tapi bertanya: “Mengapa ia lapar?” Bukan hanya menyumbang buku, tapi mendorong pendidikan yang inklusif. Mereka mulai paham bahwa empati tak cukup tanpa advokasi, bahwa memberi tak cukup tanpa perubahan sistem.
Dan inilah kekuatan sejati mereka: keberanian untuk tidak puas dengan keadaan, dan kegigihan untuk terus bergerak, meski pelan, meski belum sempurna.
Tentu tidak semua generasi muda seperti itu. Ada yang masih terjebak dalam rutinitas konsumtif, ada yang terlalu lelah oleh tekanan hidup sendiri. Tapi satu hal yang jelas: semangat filantropi telah menemukan nyala baru di tengah mereka. Dan nyala itu tak lahir dari suruhan, bukan dari doktrin, melainkan dari kesadaran—bahwa dunia ini tak akan berubah jika bukan mereka yang mengubahnya (Putra 2022).
Di tengah gemuruh zaman yang semakin keras dan individualistik, mereka memilih jalan sunyi. Jalan yang tidak menawarkan tepuk tangan, tidak menjanjikan ketenaran, tetapi memberikan kedamaian, karena tahu bahwa satu tindakan kecil bisa menyentuh hidup seseorang.
Bayangkan seorang pemuda yang menyalakan sepeda motornya dini hari, mengantarkan nasi bungkus ke emperan toko tempat para tunawisma tidur. Atau seorang remaja yang mengirimkan seratus ribu dari uang jajan bulanannya untuk korban gempa. Mereka mungkin tak dikenal, tak disebut namanya, tapi dunia diam-diam menjadi tempat yang lebih hangat karena mereka ada.
Akhir Kata, Filantropi Bagaikan Puisi Sunyi
Di akhirnya, filantropi di mata generasi muda bukanlah tentang jumlah uang, bukan tentang besar nama, bukan tentang sorotan kamera. Ia adalah tentang kehadiran. Tentang keberanian untuk tetap lembut di dunia yang keras. Tentang memilih peduli, di saat paling banyak orang memilih acuh.
Dan mungkin, dari tangan-tangan yang mengetuk layar ponsel itu, dari kisah-kisah yang mereka unggah, dari aksi-aksi kecil yang mereka lakukan diam-diam, dunia sedang disulam ulang. Dengan benang-benang empati. Dengan sulaman kebaikan. Dengan cinta yang tak mengharap kembali. Karena sejatinya, filantropi bukan sekadar tindakan sosial. Ia adalah puisi. Puisi yang ditulis bukan dengan kata, tapi dengan tindakan. Dan generasi muda hari ini, dengan segala paradoks dan kompleksitasnya, sedang menulis puisi itu setiap hari, dalam diam, dalam cahaya layar (Tamin 2011).
Di tengah semangat itu, hadir lembaga-lembaga yang menjadi jembatan antara empati dan aksi, antara niat dan dampak. Salah satunya adalah Lazismu Muhammadiyah bukan sekadar lembaga zakat, infak, dan sedekah, tetapi perpanjangan tangan dari nilai-nilai kemanusiaan yang hidup dalam gerakan dakwah. Ia tak hanya menghimpun dana, tetapi membina harapan, merawat keberdayaan, dan mengalirkan keberkahan ke titik-titik paling sunyi negeri ini.
Lazismu membuka ruang partisipasi bagi generasi muda yang ingin peduli, tetapi tak tahu dari mana harus memulai. Ia hadir di masjid, di sekolah, di kampus, bahkan di dunia digital menyediakan kanal untuk berbagi, bukan hanya harta, tetapi juga waktu, pikiran, dan cinta. Dengan program-programnya yang adaptif dan berbasis nilai Islam yang inklusif, ia menjadi rumah bagi semangat filantropi yang tak sekadar menolong, tapi juga memberdayakan (Uyun 2015).
Maka ketika jari-jari muda menyentuh layar untuk berbagi, ada kemungkinan besar bahwa di balik itu semua, ada Lazismu yang bekerja dalam senyap, mengelola, menyalurkan, dan menjaga amanah dengan penuh tanggung jawab.
Dan mungkin, itulah bentuk paling luhur dari filantropi masa kini: ketika empati generasi muda bertemu dengan institusi yang kokoh dalam nilai, maka lahirlah harapan. Bukan hanya bagi penerima, tetapi juga bagi masa depan sebuah bangsa.
Refrensi
Jusuf, Chusnan. 2007. “FILANTROPI MODERN UNTUK PEMBANGUNAN SOSIAL.” 12(01).
Makhrus, M., dan Encep Saepudin. 2023. “Gerakan Filantropi Islam Berbasis Media Sosial dan Implikasinya Terhadap Pemberdayaan Masyarakat di Indonesia.” Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam 9(2):1906. doi:10.29040/jiei.v9i2.8911.
Putra, Riza Anggara. 2022. “MEDIA SOSIAL DAN FILANTROPI: KONSTRUKSI WACANA DAN TRANSFORMASI PEMAKNAAN FILANTROPI PADA MEDIA SOSIAL DI INDONESIA.” 2.
Tamin, Imron Hadi. 2011. “PERAN FILANTROPI DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN DI DALAM KOMUNITAS LOKAL.” 1.
Uyun, Qurratul. 2015. “ZAKAT, INFAQ, SHADAQAH, DAN WAKAF SEBAGAI KONFIGURASI FILANTROPI ISLAM.” Islamuna: Jurnal Studi Islam 2(2):218–34. doi:10.19105/islamuna.v2i2.663.