Oleh: Dwi Kurniadi
Di sebuah negeri yang katanya telah merdeka tujuh dekade lebih, selembar kain lusuh bergambar tengkorak tiba-tiba menjadi ancaman nasional. Ia tidak berbicara, tidak melawan, tidak membawa bom molotov atau selebaran agitasi. Ia hanya bergoyang pelan ditiup angin, menggantung di ujung bambu, di antara riuh massa yang meneriakkan harapan. Tapi entah bagaimana, bendera itu memantik kegelisahan. Ada yang mengernyit, ada yang panik. Aparat bersiaga, kamera media menyala, dan kata “radikal” mulai dilontarkan.
Itu bukan bendera ISIS. Bukan juga lambang partai terlarang. Itu hanya Jolly Roger, bendera bajak laut dari dunia fiksi, milik sekelompok karakter kartun bernama Straw Hat Pirates, ciptaan seorang mangaka Jepang bernama Eiichiro Oda. Tapi di mata mereka yang sedang menggenggam tongkat kekuasaan, bendera itu bukan lagi sekadar dekorasi pop culture. Ia berubah menjadi lambang perlawanan, simbol bahaya yang tersembunyi di balik senyum anak muda yang tak lagi tunduk pada mitos negara.
Ironis, bukan? Dalam dunia One Piece, bendera bajak laut adalah simbol dari kru yang memilih hidup bebas, setia kawan, dan menolak ketundukan pada sistem dunia yang korup. Dan di negeri ini, yang katanya menjunjung tinggi demokrasi dan kebebasan ekspresi, bendera yang sama justru diperlakukan seperti ancaman. Apakah negara ini begitu rapuh hingga takut pada kain bergambar tengkorak?
Tapi mungkin justru di sanalah jawabannya. Negara ini bukan takut pada gambar, melainkan pada makna. Pada apa yang disampaikan oleh simbol itu secara diam-diam. Bahwa kebebasan tak harus tunduk, bahwa tawa bisa lebih kuat dari pidato, dan bahwa cita-cita bisa hidup dalam bentuk apa pun, bahkan dalam bendera bajak laut.
Negara yang Takut Imajinasi
Apa yang membuat penguasa gentar pada sehelai bendera kartun? Jawabannya terletak pada satu kata, imajinasi. Karena dalam tiap potongan imajinasi yang belum mati, ada kemungkinan lahirnya dunia yang lain, dunia yang tidak tunduk pada aturan tua, tidak berlutut pada dogma, dan tidak mendewakan birokrasi.
Jolly Roger bukan sekadar gambar. Ia adalah lambang dari satu dunia alternatif yang tidak diatur oleh SK menteri, tidak dibatasi oleh izin demo, dan tidak ditentukan oleh survei elektabilitas. Di dunia One Piece, kru Bajak Laut Topi Jerami hidup dengan nilai-nilai yang luhur namun sederhana. Kesetiaan, keberanian, mimpi, dan cinta pada kebebasan. Dan nilai-nilai itu, ketika dipeluk oleh anak-anak muda di dunia nyata, bisa menjadi bara di tengah reruntuhan harapan.
Negara tidak takut pada bendera itu. Negara takut karena ia tahu bahwa imajinasi adalah pelarian terakhir dari manusia yang kecewa. Ketika hukum tidak adil, ketika politik tak berpihak, dan ketika institusi hanya mengulang kegagalan yang sama, manusia berlari ke fiksi. Dan dalam fiksi, mereka menemukan kebenaran yang lebih jujur daripada pidato kenegaraan.
Maka wajar jika mereka gusar. Karena sekali manusia mulai membayangkan dunia yang lebih baik, dunia lama akan segera dipertanyakan. Mereka tahu, tak ada peluru yang mampu menghentikan narasi. Tak ada aparat yang mampu membungkam mimpi. Bahkan jika bendera itu dibakar, ia akan terus hidup di kepala, di puisi, di grafiti tembok kampus, dan di sudut TikTok yang viral.
Socrates dibunuh bukan karena ia punya senjata, tapi karena ia mengajarkan cara berpikir. Galileo dikucilkan bukan karena memberontak, tapi karena berani bilang bahwa bumi itu bulat. Dan hari ini, anak-anak muda yang membawa Jolly Roger dimarahi bukan karena mereka berbahaya, tapi karena mereka terlalu berani bermimpi.
Kita yang Mengibarkan Angin
Ada generasi baru yang tidak lahir dari pabrik-pabrik ideologi. Mereka tidak percaya pada upacara yang sunyi, pada lagu kebangsaan yang dinyanyikan dengan suara kosong. Mereka tumbuh dalam pusaran informasi, menyerap nilai dari manga, video YouTube, podcast, dan komentar netizen yang lebih jujur dari koran pagi. Dan mereka, dalam segala keterbatasannya, memilih jalan sunyi, mengibarkan bendera imajinasi.
Mereka tidak membawa peluru. Mereka membawa simbol. Dan dalam simbol itu, mereka menggantungkan keresahan, keinginan untuk hidup lebih utuh, dan kebebasan untuk menjadi diri sendiri tanpa takut distigma. Mereka adalah bajak laut dalam arti yang paling luhur. Mereka tak ingin menjarah, hanya ingin berlayar dengan kapal milik sendiri.
Tapi dunia lama tidak suka itu. Dunia lama suka ketundukan. Ia suka generasi yang patuh, yang duduk rapi dalam sistem, yang menjawab ujian dengan jawaban textbook dan tidak mempertanyakan kurikulum. Maka bendera itu, yang sederhana namun penuh muatan simbolik, harus dilabeli radikal, anarkis, bahkan kafir. Karena jika tidak, bagaimana mereka bisa tetap mengendalikan dunia yang semakin cair ini?
Namun sejarah punya lidah sendiri. Ia mencatat bahwa dunia tak pernah berubah oleh orang-orang yang patuh. Dunia berubah karena orang-orang yang dianggap gila. Karena mereka yang menolak diam. Karena mereka yang mau membawa bendera aneh ke tempat yang seharusnya suci dan steril dari kegaduhan.
Dan kini, kita generasi yang dicekik oleh realitas, mulai berani membawa angin perubahan. Kita tak butuh SK. Kita tak menunggu sidang. Kita hanya perlu keberanian untuk terus mengibarkan simbol, sekecil dan seabsurd apapun itu. Karena di ujung tiap simbol, ada manusia yang sedang berjuang untuk tidak tenggelam.
Bendera Jolly Roger mungkin akan dilupakan lima tahun lagi. Mungkin akan digantikan simbol lain. Tapi gelombang yang ia timbulkan hari ini, ketakutan yang ia hadirkan pada kekuasaan, semangat yang ia bangkitkan di dada yang nyaris padam itulah yang abadi. Dan gelombang itu tidak bisa dihentikan.
Bajak Laut atau Pejuang?
Kita hidup di zaman di mana simbol lebih tajam dari senjata. Di mana meme lebih viral dari manifesto, dan di mana fiksi lebih dipercaya daripada berita. Maka jangan heran jika bendera bajak laut bisa membuat negara panik. Karena mungkin, diam-diam, negara tahu bahwa para bajak laut yang mengibarkan simbol itu adalah orang-orang yang tak bisa lagi ditundukkan.
Bukan karena mereka ingin merusak. Tapi karena mereka ingin hidup.
Dan jika negara takut pada kehidupan, mungkin sudah waktunya kita bertanya “siapa “sebenarnya yang sedang tenggelam?