Kamis, Oktober 8, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Ancaman Senyap Bernama Terorisme Lone Wolf

Putu Ayu Suniadewi by Putu Ayu Suniadewi
Agustus 2, 2025
in Esai, Narasi
0
Ancaman Senyap Bernama Terorisme Lone Wolf
14
SHARES
83
VIEWS

Oleh: Putu Ayu Suniadewi (Mahasiswi pascasarjana jurusan IT Universitas INTI Malaysia)

“Bergerak secara kolektif menjadikanmu lambat maka bergeraklah seorang diri” begitulah penggalan tulisan dari buklet yang diterbitkan oleh kelompok Anarkis berjudul Cell of Fire perihal serangan seorang diri atau kalau dalam konteks kajian terorisme kita sebut sebagai terorisme lone wolf.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Kalau menelisik dari sejarah, terorisme lone wolf bermula dari kelompok Anarkis di awal abad ke-20. Kajian dari Mark Hamm dan Tammy Ayres (2022) pernah mendedahkan tentang praktik terorisme lone wolf selama masa-masa Perang Dunia yang dilakukan oleh kelompok Anarkis kemudian dicontoh oleh kaum fasis.

Contoh kasus dari terorisme lone wolf oleh kaum Anarkis di awal abad ke-20 seperti pengeboman prosesi Corpus Christi di Barcelona pada tahun 1896, pembunuhan Presiden McKinley pada tahun 1901, pengeboman di Livorno (Leghorn), Italia pada tahun 1902, dan upaya pembunuhan terhadap Raja Italia Victor Emmanuel III pada tahun 1912. Kemudian di penghujung abad ke-20 ada Ted Kaczynski, yang dikenal sebagai “Unabomber.” Kaczynski melancarkan serangan bom selama hampir dua dekade (1978–1995), menargetkan ilmuwan dan pebisnis karena ketidaksetujuannya terhadap perkembangan teknologi modern.

Kaczynski sama seperti teroris lone wolf pada umumnya yang beroperasi secara independen, tanpa hubungan langsung dengan kelompok radikal mana pun, meskipun Ted dianggap terkoneksi dengan kelompok anarko. Akan tetapi, motivasinya berasal dari ideologi antiindustri dan antiteknologi.

Saat ini, tulisan-tulisan dari Ted Kaczynski masih menjadi rujukan untuk membahas gerakan antiteknologi. Sementara contoh kasus terorisme lone wolf yang dilakukan kelompok fasis yang sangat rasis, antimigran, dan antiminoritas seperti kasus David Copeland di London pada tahun 1999, di mana ia memasang bom di beberapa lokasi sebagai bagian dari kampanye kebencian terhadap kaum minoritas. Memasuki abad ke-21, ada tragedi penembakan brutal di Oslo yang menyasar aktivis-aktivis kiri promigrasi dan kemudian tragedi penembakan di Masjid Christchurch di Selandia Baru yang memviralkan aksinya sebagai bagian dari kampanye anti-Islam. Dalam konteks agama, terorisme lone wolf menjadi bentuk baru dari serangan terorisme yang sulit terlacak karena tidak terafiliasi dengan kelompok mana pun dari mulai persiapan hingga penyerangan.


Fenomena terorisme lone wolf di masa kini

Sudut pandang kajian terorisme lone wolf di masa lalu memang selalu berkutat pada psikologis dari pelakunya dan ideologi yang mendasarinya, namun seiring dengan perkembangan dunia digital, persoalan akses pelaku terhadap informasi tertentu di ruang digital menjadi tumpuan kajian.

Apalagi saat ini ada tren di mana pelakunya sendiri memviralkan perbuatannya sebelum, selama, dan sesudah kejadian. Viralitas menjadi kunci utama untuk meraih atensi sehingga membuat seolah-olah tindakan yang dilakukan besar. Selain itu, bentuk serangannya juga tidak selalu menarget di dunia nyata. Para teroris lone wolf saat ini dan nanti dapat melakukan serangan di dunia maya dalam bentuk peretasan yang menghancurkan sistem-sistem dari target yang mereka bidik.

Oleh karena itu, memahami terorisme lone wolf di masa kini apalagi masa depan akan jauh lebih kompleks, karena di masa-masa yang akan datang disinyalir akan mengarah pada fenomena transhumanisme. Bisa saja pelaku terorisme lone wolf bukanlah entitas manusia sebagaimana yang diceritakan dalam film sci-fi I, Robot dan Terminator itu. Bahkan ketika serangan itu terjadi, si pelaku dapat saja menggunakan medium yang tidak perlu mengorbankan dirinya seperti penggunaan drone atau kecerdasan buatan seperti dalam artikel “Exploitation of Generative AI by Terrorist Groups” karangan Clarisa Nelu (2024) yang secara gamblang mengurai potensi kecerdasan buatan sebagai medium baru yang dapat digunakan oleh kelompok teror, sehingga perlawanan terhadap terorisme sendiri mestilah menelaah kecerdasan buatan itu sendiri.

Pada dasarnya fenomena terorisme lone wolf juga tidaklah terjadi di ruang hampa tanpa adanya peran pihak lain. Kalau dari sudut pandang proxy war, yaitu sebuah metode konfrontasi dengan memakai pihak ketiga agar pihak pertama tidak menderita kerugian besar. Proxy war memang identik dengan cara-cara manipulatif termasuk berperang dengan menggunakan tangan orang lain.

Saat ini proxy war berpotensi merasuk ke berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi, meskipun di permukaan lone wolf bergerak seorang diri, namun ajaran yang mempengaruhi tindakan dan pikiran mereka sebenarnya merupakan koordinasi tidak langsung dari pihak-pihak tertentu sebagaimana mekanisme umum dari rekayasa sosial.

Lalu apa yang mesti kita lakukan? Jawaban paling sederhananya selain mencoba memahami, kita pun perlu menerapkan deradikalisasi secara masif dan sistematis. Di samping itu, perlu adanya aksi-aksi kultural dengan pendekatan yang dialogis dan humanis yang menelaah kembali wawasan kebangsaan. Kita juga harus melawan racun individualisme yang menyebabkan kita terkurung satu sama lain dengan cara menggiatkan gotong royong dan musyawarah yang sudah menjadi budaya bangsa Indonesia sejak dari zaman dahulu.

Editor: Rafidah Azis

Terkait

Tags: lonewolfmediasosialTeknologi
Previous Post

Antara Militerisme dan Pendidikan: Pendidikan sebagai Instrumen Kekuasaan

Next Post

Mahasiswa KKNMAS 2025 di Riau, Jalin Silaturahmi dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah di Tualang Kabupaten Siak

Putu Ayu Suniadewi

Putu Ayu Suniadewi

Next Post
Mahasiswa KKNMAS 2025 di Riau, Jalin Silaturahmi dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah di Tualang Kabupaten Siak

Mahasiswa KKNMAS 2025 di Riau, Jalin Silaturahmi dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah di Tualang Kabupaten Siak

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.