Seorang akademisi asal Jepang datang ke Yogyakarta bertujuan meneliti geliat sebuah komunitas keagamaan di Kotagede pada medio 1970. Ia tertarik pada komunitas itu yang menurutnya modern dan dinamis, tetapi bisa tumbuh subur di Kota Yogyakarta yang lekat dengan budaya Jawa.
Komunitas agama itu adalah Muhammadiyah, sementara akademisi Jepang tersebut yakni Mitsuo Nakamura, antropolog dari Universitas Chiba, Jepang. Sekian waktu, penelitian Nakamura di Kotagede itu terbit menjadi buku berjudul Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin: Studi Tentang Pergerakan Muhammadiyah di Kotagede 1910-2010.
Selepas karya Mitsuo Nakamura terbit, kader dan warga Muhammadiyah telah berdiaspora di berbagai benua, baik untuk belajar maupun bekerja. Bahkan, Muhammadiyah kini memiliki 30 Pimpinan Cabang Istimewa (PCIM) dan 4 Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang tersebar di banyak negara. Artinya, organisasi yang telah berdiri sejak 1912 ini sudah berkontribusi secara sosial dan ekonomi di luar negeri.
Karya Nakamura memang bukan faktor utama dalam perkembangan Muhammadiyah di mancanegara. Namun, tulisan Nakamura tentang Muhammadiyah membuka peluang bagi peneliti lainnya untuk datang dan mengenal organisasi ini lebih dekat. Kedatangan para peneliti ini bisa membawa Muhammadiyah ke dalam pergaulan global yang lebih luas.
Kurang lebih demikian cara diplomasi lewat tulisan berjalan menurut Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti. Hal itu disampaikan pada acara “Pelatihan Diplomasi untuk Perdamaian dan Kemanusiaan” yang digelar oleh Lembaga Hubungan Kerja Sama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, di Universitas Muhammadiyah Jakarta, (8/7).
Sebelumnya, Mu’ti menyebut sosok selain Nakamura yang telah berkontribusi mengenalkan Muhammadiyah ke luar negeri, yakni akademisi dari Universitas Boston Amerika Serikat, Robert W. Hefner. Sebagaimana Nakamura, Hefner adalah antropolog. Ia berfokus pada tema demokratisasi dan masyarakat sipil.
“Pak Hefner itu juga salah satu contoh diplomat Muhammadiyah. Tentu saja berbagai tulisan dan pendapatnya tentang Muhammadiyah akan membuat organisasi kita lebih dikenal di mancanegara. Dia bisa jadi salah satu juru bicara Muhammadiyah di panggung internasional,” ungkap Mu’ti.
Guru Besar Pendidikan Agama Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut mengatakan, relasi dengan para peneliti bisa membuka jalan Muhammadiyah ke ruang dialog dan negosiasi di isu-isu internasional. Tulisan para peneliti itu membantu diplomasi Muhammadiyah yang dalam kajian hubungan internasional disebut second-track diplomacy, yaitu kerja diplomasi dari pihak non-pemerintah
“Bukan hanya Pak Hefner, ada berbagai peneliti luar lainnya. Ini membuktikan tulisan adalah salah satu cara diplomasi itu,” ujar Mu’ti yang saat itu mengenakan batik berwarna cokelat.
Walter J. Ong, dalam bukunya Kelisanan dan Keaksaraan menyebut tulisan mampu menggambarkan kata-kata yang disampaikan seseorang. Kendati era digital membuat kelisanan dalam bentuk audio-visual lebih populer, tulisan masih menjadi dasar penting dalam penyampaian gagasan.
Buku yang sama menjelaskan, tulisan dapat mengalihkan suara ke dalam bentuk arsip atau dokumen tertulis yang disebut oleh Ong sebagai “Ingatan keaksaraan”. Ikhwal yang tersimpan dalam ingatan keaksaraan itu antara lain bisa berupa sejarah, perspektif, hingga nilai-nilai. Tatkala berdiplomasi, ingatan keaksaraan itu akan muncul dan tersampaikan sesuai konteks kebutuhan saat itu.
Hal senada diutarakan oleh Duta Besar Indonesia untuk Bulgaria, Bunyan Saptomo. Menurutnya, tulisan dan buku mampu menjelaskan lebih lanjut posisi dan sikap sebuah lembaga saat berdiplomasi. Buku yang ditulis dan diterbitkan dari pengalaman berdiplomasi warga Muhammadiyah juga bisa menjadi dokumentasi maupun bahan pembelajaran di masa mendatang.
“Buku menghidupkan diplomasi. Pengalaman selama melakukan diplomasi di berbagai negara juga bisa dituangkan ke dalam tulisan, kemudian dibukukan, sehingga menjadi dokumentasi dan pembelajaran bagi kader Muhammadiyah lainnya di masa depan,” kata Bunyamin di sesi keempat hari pertama, (8/7).
Adapun, anggota Dewan Pers Asep Setiawan mengatakan, saat ini dunia sedang memasuki era diplomasi media, sebuah kondisi ketika media bisa mempengaruhi kebijakan diplomasi. Ia juga meyakini bahwa narasi sebuah tulisan di media massa hingga sosial berpengaruh besar dalam diplomasi.
“Salah satu fungsi media itu adalah inspirasi. Itu perlu diperhatikan ketika menulis. Selain itu jika ingin mendirikan media komunitas dari kalangan warga Muhammadiyah, tentukan segmentasi pembacanya,” kata Asep yang telah berpengalaman sebagai jurnalis di berbagai media nasional itu, dalam sesi hari kedua, (9/7).
Muhammad Taufik Nandito (Alumni Mahasiswa UMS)