Genjatan senjata yang dilakukan oleh tentara Israel pada Palestina, semakin menjadi jadi. Hingga saat ini, angka korban jiwa terus meningkat. Kekejaman yang dilakukan oleh Israel membawa perhatian bagi warga seluruh dunia, tak terkecuali negara Indonesia yang sejak dulu telah membantu Palestina dalam menangani korban jiwa.
Bentuk rasa kepedulian dari berbagai negara, Nampak terlihat setelah banyaknya informasi yang tersebar mengenai kondisi terkini warga Palestina. Para relawan dan warga Palestina kerap mulai bersuara dengan adanya Tindakan yang dilakukan oleh tentara Israel. Berbagai bantuan yang digalangkan untuk Palestina, datang dari beberapa negara.
Akhir akhir ini, beberapa aksi dilakukan diberbagai negara. Hal ini membuktikan bahwa mereka masih memiliki kepedulian terhadap korban Palestina. Pembelaan kepada Palestina tidak hanya dilakukan oleh negara berpendudukan Muslim, tetapi juga dari negara dengan penduduk non muslim. Karena bagi mereka, peperangan yang terus menerus terjadi bukan hanya perihal keagamaan, melainkan hal ini merupakan genosida.
Pembelaan terhadap Palestina karena atas dasar kemanusiaan, melihat betapa mirisnya rakyat Palestina tidak memiliki hak atas kebebasan negaranya. Berbagai propaganda terkait isu Israel semakin memanas. Alih alih mencari hamas yang di duga menjadi penyebab tentara Israel menyerang Palestina.
Namun kenyataannya, penyerangan ini juga sampai pada rakyat tak mengerti apapun, hingga pengeboman yang dilakukan di berbagai tempat. Hingga saat ini, Palestina sedang tidak baik baik saja. Tidak ada tempat yang aman untuk menjadi tempat tinggal bagi mereka.
Menanggapi propaganda yang terus terjadi hingga saat ini, Indonesia pun tak kalah diam. Berbagai bantuan mulai dari tenaga kesehatan dan obat obatan yang dapat di gunakan, di kirimkan melalui lembaga penyaluran bantuan untuk korban Palestina. Tak hanya itu, muncul beberapa produk luar yang di duga menjadi donatur terhadap tentara Israel. Produk-produk tersebut banyak tersebar dan di gunakan di Indonesia.
Mengetahui hal ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) tak tinggal diam. Dalam putusannya pada akhir November lalu, MUI menyatakan boikot terhadap produk-produk pro Israel. Pemboikotan tersebut di laksanakan sebagai bentuk usaha Indonesia dalam menghentikan penyaluran donasi untuk Israel. Produk-produk yang di boikot oleh MUI merupakan produk yang biasa di gunakan oleh masyarakat Indonesia dan tersebar luas di Indonesia.
Timbul beberapa kejanggalan terkait pemboikotan yang di lakukan oleh MUI ini. Akankah pemboikotan produk pro Israel menjadi solusi? Lalu solusi apa yang di berikan MUI untuk menggantikan produk tersebut? Apakah produk tersebut benar benar menyalurkan bantuan terhadap Israel?
Mari kita kaji makna dan pembagian kategori “mendukung” yang menjadi pro-kontra selama ini di kalangan banyak orang. Pertama, apakah produk yang telah ada di Indonesia masih memiliki keterkaitan dengan brand pusat dari tempat asalnya? Karena, ketika brand tersebut telah masuk di Indonesia, maka produk yang di gunakan menggunakan produk yang ada di dalam negeri, tidak kemudian mengimpor barang dari luar.
Kedua, ketika produk tersebut di perjual-belikan juga di Israel, produk tersebut tidak menjamin bahwa mereka adalah pendukung Israel. Hal itu bisa menjadi strategi dalam penjualan bagi pemilik perusahaan. Terdapat 2 situs yang menampilkan beberapa produk pro Israel. Situs pertama tidak memaparkan dengan jelas alasan dan proses produk tersebut dalam membantu Israel atau tidak.
Situs kedua menjelaskan bagaimana proses beberapa produk tersebut mendukung dan beberapa produk di antaranya membuka cabang di daerah Israel. Namun hal ini bukan berarti menjadikan kita membenarkan bahwa produk tersebut pro terhadap Israel. Yang lebih menariknya lagi, beberapa produk yang tercantumkan dalam list boikot tersebut, terlihat berbeda pada kedua situs tersebut.
Pada situs pertama, tampak brand dari salah satu produk makanan di nyatakan mendukung Israel, namun pada situs kedua, tidak demikian. Melirik dari sudut pandang para penjual produk produk yang telah di boikot, para penjual mengalami penurunan angka peminat dari konsumen. Sejak di berlakukannya pemboikotan, penghasilan dari pedagang menjadi menurun. Hal ini yang tidak di pertimbangkan matang oleh pihak berwajib dalam mengatasi masalah ini.
Buruknya, beberapa karyawan yang bekerja di tempat tersebut terpaksa di pulangkan paksa karena pemasokan tidak sebanding dengan pengeluaran. Akhirnya, muncul permasalahan krisis ekonoi dari para pedagang dan karyawan yang mengikuti ijtihad para ulama’ dalam memboikot produk pro Israel.
Apabila berbicara kualitas dari brand tersebut, akankah brand lain dapat menyaingi dan memiliki nilai kualitas yang sama? Hal ini perlu mendapat perhatiam lebih bagi masyarakat untuk selalu berpikir luas. Namun, pemboikotan terhadap produk pro Israel ini tetap kembali pada masing masing individu dalam menyikapinya.
Namun, apabila terjadi perbedaan dalam menentukan pilihan dan tetap menggunakan produk tersebut, tidak sepatutnya bagi kita untuk menyimpulkan bahwa orang tersebut dengan terang-terangan mendukung aksi yang di lakukan oleh tentara Israel.
Padahal, ketika kita meninjau ulang proses pemboikotan ini, maka dapat di katakan bawah pemboikotan bukanlah satu-satunya cara untuk membantu korban Palestina, karena hal itu juga berdampak bagi perekonomian masyarakat terkait penurunan angka pembeli bagi pedagang.
Penulis: Izmi Kayla Firdausi (Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya)