Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Hilangnya Semangat Woman Support Woman dalam Gerakan

Tri Wulandari by Tri Wulandari
November 11, 2023
in Esai
0
Support
26
SHARES
155
VIEWS

Bentuk kepedulian ataukah kesewenangan manusia terhadap manusia lain? Jika kita merasakan sebuah tindakan yang tidak mengenakkan diri. Mendapatkan sebuah kritik atau cacian yang samar terlihat celah bedanya. Tak ayal itu terjadi karena, menurut Hescel, manusia pada hakikatnya memiliki dua sifat yang berlawanan, yakni citra Ilahi dan kebinatangan. Yang tentu pembaca paham akan makna tersirat dari keduannya.

Dinamika semangat dari gerakan mahasiswa selalu menjadi fenomena yang mewarnai anggotanya. Berbagai tokoh dengan berbagai sifat dan sikap tentang bagaimana ia memperlakukan satu sama lain itu menjadi nyawa ikatan. Kelebihan dan kekurangannya, seolah harus terpaksa ditelan meskipun pahit layaknya obat. Namun, di antara obat dan pasien, siapakah yang harus disesuaikan dan mana yang harus menyesuaikan?

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Hakikat Manusia Menurut Etika Aristoteles

Menurut aristoteles, “bentuk” manusia terdiri dari jiwa, yang mempunyai bagian menyerupai tanaman, bagian binatang, dan bagian rasional. Sehingga manusia dapat mencapai kebahagiaan dengan memanfaatkan seluruh kemampuan dan kecakapannya. Aristoteles juga menolak segala bentuk ketidakseimbangan dalam diri manusia, karena baginya, hanya dengan menjaga keseimbangan dan keselarasanlah manusia dapat mencapai titik bahagia “selaras”. Hal ini juga berlaku dalam hubungan antarmanusia, yang di dalamnya Aristoteles mendukung “Jalan Tengah”. Kita tidak boleh bersikap pengecut, dan tidak pula gegabah, tapi berani. Lagi-lagi harus seimbang, jika terlalu sedikit keberanian berarti pengecut, terlalu banyak berarti gegabah.

Bergeser pada kaum manusia yang unik, makhluk ciptaan Allah bernama perempuan. Mereka selalu menarik untuk diperbincangkan. Banyak terlahir perspektif untuk memahaminya, entah tentang luar biasanya ataupun kelemahannya. Yang seharusnya mereka – perempuan dengan sesamanya – bisa lebih saling merasakan apa yang perempuan lain rasakan atas sisi rasional mereka. Semua itu demi mencapai kebahagiaan antarsesama menurut Aristoteles.

Dehumanisasi Gerakan dalam Lingkup Perempuan

Menurut Nick Haslam (2006), definisi dehumanisasi adalah penyangkalan terhadap esensi kemanusiaan. Dari definisi ini, ia mengklasifikasikan dua bentuk dehumanisasi. Pertama, penyangkalan terhadap atribut-atribut yang khas manusiawi, yang menyebabkan satu pihak memandang dan memperlakukan manusia lain seolah-olah binatang. Kedua, penyangkalan terhadap kodrat manusiawi yang membuat satu pihak memandang dan memperlakukan manusia lain seperti objek atau mesin. Yang pada intinya, akan menjadikan satu pihak tersebut esensi kemanusiaannya seperti terserang.

Fenomena nyata yang terjadi ini merupakan tindakan sesama perempuan dalam sebuah ikatan (gerakan mahasiswa). Yakni, aktifnya seorang anggota perempuan dalam melakukan perkaderan yang tidak mendapat respon baik oleh sesama perempuan. Bahkan sebaliknya, yakni mendapat kritik yang tidak mengenakkan hati. Apakah hal demikian terjadi bukan tanpa sebab?

Dalam hal ini, penulis tidak akan mengidentifikasikan faktor yang melatarbelakangi fenomena tersebut. Sebab, hal itu berkaitan dengan kotor dan bersihnya hati. Bagaimana masing-masing anggota – khususnya sesama perempuan – ini turut bangga dan support terhadap prestasi sesama. Hal demikian dapat menjadikan indikasi kita sedang berada dalam sifat kebinatangan. Sifat yang semena-mena terhadap manusia lain, ketika hal yang seharusnya dilakukan untuk saling merangkul dan menyayangi malah sebaliknya.

Jalan tengah yang dimaksud Aristoteles mengenai hubungan antarmanusia itu sedikit dapat menjawab terhadap fenomena dehumanisasi. Yakni, kita dapat mengambil sikap untuk tidak menjadi pengecut dan gegabah terhadap sesama. Menyalahkan atas suatu hal positif yang dilakukan orang lain. Serta tidak gegabah atas dukungan dalam perlakuan buruk terhadap orang lain. Orang lain yang dimaksud tidak lain dalam konteks perempuan, pun demikian dengan laki-laki.

Semangat Woman Support Woman dalam Internalisasi Gerakan

Degradasi kualitas dan kuantitas perempuan dalam suatu gerakan yg semakin hari kian terasa. Tentu, terlihat dalam fenomena yang terjadi di atas. Ada pula fenomena gerakan dalam beberapa event diskusi intelektual ringan di beberapa pekan sekali. Bahwa, peserta perempuan yang turut hadir sangatlah minoritas. Bukan tanpa sebab, beberapa itu karena kurang tertarik dengan hal-hal yang berbau diskusi. Sedang beberapa yang turut hadir lainnya itu nyata kurang memberikan rasa nyaman dalam tubuh ikatan. Meskipun tetap, faktor internal dari diri masing-masinglah yang menjadi penentunnya.

Jargon yang sangat lantang kerap keluar dari lisan kaum perempuan, apakah justru akan menjadi tombak bermata dua baginya sendiri. Sudah tentu hal ini menjadi lelucon panggung bagi para patriarki jika benar terjadi.

Sejauh pengalaman dan beberapa yang dirasakan oleh kader (terkhusus kader perempuan), bahwa penentu terbesar dari semangat sebuah gerakan adalah saling merangkul dan support satu dengan yang lainnya. Jika rasa saling memilki dan bangga atas prestasi kawan itu menghilang, maka fenomena pecah belahnya ikatan akan menyerang. Bukan, kalian bukan sedang saling membentuk atau memanusiakan manusia untuk saat ini.

Kembalilah semua pada instropeksi dari masing-masing kita para perempuan pergerakan. Dimanakah jiwa dan semangat dari jargon tersebut? Banyak yang sedang merasa dirundung caci. Dalam balutan kasih antarsesama, apakah kalian tidak rela? Refleksikan! Setidaknya tulisan ini dapat sampai pada renungan diri.

Terkait

Tags: GERAKANHumanisasiPerempuan
Previous Post

Resistensi Shalat Berjamaah melalui Siaran Televisi

Next Post

Maraknya Kasus Bullying Di Era Digitalisasi

Tri Wulandari

Tri Wulandari

Sekum PK IMM Ma'had Abu Bakar Putri UMS

Next Post
beretika media sosial

Maraknya Kasus Bullying Di Era Digitalisasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.