Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Bunuh Diri dalam Perspektif  Filsafat Islam

RedaksiKS by RedaksiKS
Oktober 30, 2023
in Filsafat
0
Konsep As-Sa’il dan Al-Mahrum Perspektif Hamka
35
SHARES
204
VIEWS

Bunuh diri merupakan suatu cara manusia untuk mengakhiri hidupnya secara terpaksa dengan meyakiti dirinya sendiri. Pada masa yang modern ini, berita bunuh diri sudah sering kali kita dengar, bahkan seperti sudah mandarah daging dalam negeri kita tercinta ini.

Kasus-kasus bunuh diri masih banyak terjadi akhir-akhir ini, tidak memandang usia yang masih dini, remaja atau bahkan usia yang sudah tidak muda lagi. Terdapat berbagai macam penyebab seseorang sehingga memilih melakukan bunuh diri, dengan menyakiti diri melalui cara-cara yang mereka pikirkan sendiri. Bunuh diri seakan sudah menjadi pikiran akhir manusia untuk keluar dari masalah mereka.

TulisanTerkait

Rausyanfikr di Era Digital: Membaca Peran Intelektual Muda melalui Pemikiran Ali Syariati

Membaca Gaya Hidup Generasi Digital melalui Perspektif Jean Baudrillard

Amor Fati: Ketika Mencintai Takdir Menjadi Bentuk Tertinggi dari Kebebasan Jiwa

Tentunya bunuh diri memang tidak di benarkan apalagi dalam islam, karena selain adanya orang yang akan dirugikan, islam juga mengajarkan bahwa suatu masalah yang di bebankan Allah swt kepada seorang hambanya itu sesuai atas kesanggupanya. Sebagaimana kutipan firman Allah swt Surah Al-Baqarah 286:

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ

(Artinya): Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya.

Dari kutipan ayat tadi dapat kita ketahui bahwa Allah tidak akan membebani seorang hamba di luar kemampuannya. Hal itu berarti Allah swt memang memberikan beban (masalah) sebagai wujud cinta kasih kepada hambanya. Oleh karena itu jika Allah swt sangat mencintai diri kita dengan kasih sayangnya, lalu apalagi alasan kita, sehingga rela menolak kasih sayang Allah swt sampai memilih mengakhiri hidup kita?

Kasus bunuh diri di Indonesia

Data WHO( World Health Organization) pengumpulan data tahun 2016 (2018), menunjukkan bahwa kasus bunuh diri di Indonesia mencapai persentase 3,4%. Berdasarkan data Sample Registration System 2016 (Kementerian Kesehatan RI, 2019), terdapat 1.800 kematian pertahunnya di Indonesia akibat bunuh diri. Laki-laki dilaporkan 3x lebih cenderung meninggal karena bunuh diri dibandingkan perempuan.

Cara bunuh diri dibagi menjadi empat, yaitu sebesar 60,9% gantung diri, 18,8% minum racun pestisida dan bahan kimia, 8,7% minum racun obat-obatan, dan 11,6% dengan cara lainnya. Kondisi individu yang melakukan bunuh diri sebesar 71% tidak ada penyakit, 23,2% mengalami penyakit jiwa, dan 5,8% mengalami penyakit kronis.

Sementara itu, data Global School-Based Student Health Survey 2015 (Kementerian Kesehatan RI, 2019) menunjukkan bahwa terdapat 4,3% pelajar laki-laki, 5,9% pelajar perempuan, bertotalkan 5,2% pelajar SMP dan SMA yang ingin melakukan tindakan bunuh diri. Belum lagi banyaknya kasus yang muncul bertebaran akhir-akhir ini bukan hanya pelajar,mahasiwa bahkan orang yang sudah lansiapun melakukan bunuh diri.

Dari data di atas dapat kita tangkap bahwa manusia rela menyiksa serta menyakiti dirinya dengan berbagai cara. Agar mereka bisa lepas dari permasalahan mereka di dunia. Menurut beberapa pendapat penyebab hal tersebut di karenakan depresi. Depresi yang di akibatkan persoalan keluarga, pekerjaan, bullying hingga percintaan.

Hal-hal tersebut bisa terjadi karena manusia zaman modern ini merasa jika ia sudah kehilangan tujuan hidupnya. Lalu ia merasakan kehampaan dalam hidup meskipun mempunyai bergelimang harta. Ataupun manusia yang dalam mengejar kekayaan kemudian mengalami kegagalan, sehingga merasa hidupnya tidak berguna. Inilah efek dari pemikiran manusia zaman sekarang sehingga tanpa sadar telah merugikan dirinya sendiri.

Sebetulnya manusia pada masa sekarang ini terlalu mementingkan kebahagiaan dunia dalam hal kekayaan,materi, atau bahkan percintaan. Akan tetapi setelah mendapatkan itu semua, realitanya manusia tidak mendapatkan kepuasan yang sebenarnya. Semua itu hanyalah menjadi sesuatu hal yang terus menerus di kejar namun akhirnya tidak dapat di raih.

Seharusnya manusia hanya perlu mencari kebahagiaan yang sebenarnya, yaitu kebahagiaan yang dapat menenangkan hati hingga terjauh dari keserakahan akan kenikmatan dunia. Lalu bahagia seperti apakah itu? Kita ambil makna bahagia dari ilmuan dan filusuf, komentator filsafat Yunani yang ulung dalam dunia islam.

Menurut Al-Farabi makna bahagia adalah kebaikan yang di inginkan untuk kebaikan itu sendiri yang menjadi tujuan akhir dari segala aktivitas manusia di dunia. Kebahagiaan tertinggi bisa di raih ketika manusia telah menjadi sempurna yaitu saat materi (kekayaan) tidak mempengaruhi hati, dan pikiran manusia untuk mengingat Allah swt. Mendekatkan dirinya sedekat mungkin dengan Allah swt sampai tidak ada jarak dan batas.

Jika melihat kebahagiaan dunia sebenarnya memang sulit bagi manusia untuk tidak tergiur dengan kebahagiaan dunia yang nikmatnya jelas terlihat oleh mata kita. Tetapi kita sebagai makhluk (hamba) Allah swt harus senantiasa berusaha untuk menjauhkan diri kita dari kegilaan akan kebahagiaan dunia. Dan memfokuskan diri kita terhadap kehabagiaan yang sebenarnya yaitu ketenangan hati yang kita peroleh dalam mendekatkan diri kepada Allah swt.

Dapat di ambil kesimpulan dari beberapa uraian di atas, bahwa bunuh diri bukan satu-satunya cara untuk keluar dari masalah. Karena masalah yang datang dari Allah swt tidak mungkin di luar kemampuan kita (hamba). Jika suatu masalah itu datang dari Allah swt maka carilah pula jalan keluarnya kepada Allah swt.

Kebahagiaan sejati dalam hidupmu ialah kedekatan kepada Allah swt. Dalam perkataan dari as-Sayyid Bakri al-Makki seorang pengarang buku Menambah Jalan Suffi mengatakan dalam bukunya “padatkan waktumu dengan ilmu dan ibadah,dengan mencari nafkah atau suatu yang bermanfaat”. Dunia hanya tempat singgah yang abadi hanya akhirat.

Penulis : Aida hidayatul mustafidah (Mahasiswa UIN Surabaya)

Terkait

Tags: Indonesia
Previous Post

Fenomena Mental Illness Gen Z dalam Kajian Tasawuf

Next Post

Tasawuf: Jembatan Antara Tradisi dan Modernitas

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Inovasi  Pendidikan Pesantren Progresif di Era 4.0

Tasawuf: Jembatan Antara Tradisi dan Modernitas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.