Kecemasan atau kegelisahan hati sering kali muncul dalam diri seseorang yang sedang dirundung masalah. Terutama masalah dalam urusan dunia baik itu berupa masalah rumah tangga, cinta, harta dan lain sebagainya. Kecemasan juga bisa muncul pada diri seseorang akibat melakukan sebuah perbuatan dosa yang mengakibatkan dirinya merasa bersalah kepada Tuhan maupun dirinya sendiri.
Orang yang mengalami kegelisahan hati akan mencari cara untuk mendapatkan sebuah ketenangan hati. Salah satunya adalah dengan meneladani perilaku para sufi dengan cara mengurangi kecintaan pada urusan duniawi dan lebih mendekatkan diri kepada sang Ilahi.
Ketenangan adalah sebuah kebahagiaan yang hakiki bagi setiap individu, menurut para Sufi suatu ketenangan jiwa hanya bisa didapat saat seorang hamba dekat kepada Tuhannya, diantaranya yaitu dengan memperbanyak zikir, Allah berfirman dalam surah Ar-Ra’d ayat 28:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram”.
Secara psikologis, zikir mempunyai beberapa manfaat. Dapat mengarungi kehidupan, menambah rasa keimanan, pengabdian, kejujuran, dan kematangan cita-cita dalam hidup. Selain itu, zikir juga dapat mengendalikan diri dari hawa nafsu yang dapat memicu seseorang untuk melakukan sebuah kesalahan yang berakibat pada kecemasan hati.
Menurut William James, seorang ahli filsafat Amerika yang menganut paham pragmatisme, terapi terbaik bagi kesehatan dan kecemasan adalah keimanan kepada Tuhan. Keimanan dan kedekatan diri kita kepada Tuhan akan membuat kita selalu berhati-hati dalam melakukan segala perbuatan.
Perbuatan yang condong kepada kemaksiatan yang berujung pada rasa bersalah kepada Tuhan dan diri sendiri. Ketenangan hati akan lebih sempurna ketika kita menyibukkan diri dengan berzikir. Dengan mengingat sang Ilahi Robbi dan mengurangi kecintaan kepada urusan duniawi yang fana ini.
Pada zaman ini kita melihat manusia semakin terlena akan kehidupan dunia tanpa di hiasi dengan kegiatan yang dapat menyucikan jiwa. Manusia mulai melupakan hakikat tujuan mereka diciptakan, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Manusia semakin giat berlomba dan bersaing untuk menaikkan taraf hidup mereka yang membuat mereka jatuh pada sifat sombong. Seolah-olah tanpa beribadah pun mereka dapat dengan mudah mendapatkan sebuah kenikmatan dunia. Mereka lupa dengan firman Allah dalam surah Al-Hadid ayat 20:
Artinya: Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.
Al-Qur’an telah jelas menggambarkan bahwa dunia hanyalah sebuah fatamorgana, tempat permainan bagi para manusia yang lupa akan hakikatnya. Orang-orang yang sibuk dengan urusan dunia ibarat sedang menjalankan sebuah permainan yang melalaikan.
Pada akhirnya hanya menyisakan rasa lelah dan kecewa dan kecemasan hati. Kebahagiaan dan kesedihan dunia hanyalah bersifat sementara, sedangkan kebahagiaan dan kesedihan akhirat bersifat abadi. Maka sia-sia orang yang hanya mengejar kesenangan dunia yang semu, yang tak lama lagi akan berakhir pada kematian.
Di dalam kitab Igaatsatul lahfaan, Ibnu Qoyyim menukil perkataan seorang Ulama Salaf “Sungguh kasihan orang-orang yang cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini. Padahal mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar di dunia ini”. Maka ada yang bertanya, “apakah kenikmatan yang paling besar di dunia ini?” Ulama ini menjawab, “Cinta kepada Allah, merasa tenang ketika mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta merasa bahagia ketika berzikir dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya.
Melihat bahwa dunia tidaklah begitu pentingnya dunia yang dapat melalaikan diri kita dan membuat kecemasan dalam jiwa, maka sepatutnya kita mengurangi kecintaan kita pada urusan-urusan dunia yang pada hakikatnya adalah sesuatu yang sementara dan merobek ketenangan jiwa.
Sebagai seorang muslim yang bijak kita harus bisa memilih, antara kebahagiaan sementara atau kebahagiaan yang sempurna. Kebahagiaan yang sempurna hanya bisa kita peroleh melalui ketenangan jiwa, seperti yang di contohkan oleh para Ulama Tasawuf yang menenangkan jiwanya dengan menjauhi sifat cinta dunia dan menerima takdir-Nya tanpa melupakan sebuah usaha.
Kita boleh saja mengejar dunia sebagai sarana untuk menggapai sebuah kebahagiaan. Tapi berhati-hatilah karena tipuan dunia itu sangat kuat hingga membuat kita tidak sadar bahwa kita telah melangkah terlalu jauh. Dan pada akhirnya kita kecewa lagi dengan dunia.
Berbeda dengan ketika kita mengurangi kecintaan pada dunia dan mulai mendekatkan diri kepada sang Pencipta. Kita akan mendapatkan sebuah ketenangan jiwa yang sempurna dan tidak akan di buat kecewa oleh takdir-Nya. Serta memperoleh kebahagiaan hidup yang amat nyata dan sempurna.
Penulis : Hattasal Ma’ruf (Mahasiswa UIN Surabaya)