Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Tantangan Modernitas dalam Kehidupan Beragama

Muhammad Davan Fernanda by Muhammad Davan Fernanda
Februari 15, 2023
in Narasi
0
beretika media sosial

Kalimahsawa.id

62
SHARES
363
VIEWS

Perkembangan teknologi semakin tidak terbendung, setiap momen kehidupan saat ini merupakan wujud semakin canggihnya kehidupan. Teknologi yang semakin berkembang memaksa zaman untuk kian modern. Perubahan kehidupan yang semakin modern, tentu berdampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk pola hidup dan karakteristik tiap individu.

Namun nyatanya, zaman yang semakin modern ternyata menjadi tantangan baru dalam karakteristik modernitas. Sebutlah munculnya penafikan atas sisi kemanusiaan dan spiritualitas dan hanya mendasarkan pada kehidupan fisik dan material.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Modernitas kehidupan adalah banyak hal yang berkaitan dengan pandangan masa lampau. Selain sifat pandangan, modernitas juga merupakan sikap hidup yang dianut dalam menghadapi kehidupan masa kini.

Modernitas kehidupan sering kali dipengaruhi oleh pola perilaku kehidupan manusia yang berkaitan dengan perkembangan teknologi yang mengubah cara pandang dan perilaku dalam bermasyarakat.

Modernisme seringkali dipandang sebagai suatu inisiator dalam munculnya suatu gerakan pemikiran. Pada fase perkembangan sejarah manusia dalam hal hubungan sosial dan kemanusiaan.

Modernisme tentu juga dialami oleh Islam beserta tokoh-tokoh di dalamnya. Bahkan beberapa hal adanya modernitas dimanfaatkan untuk menguasai pendidikan, teknologi dan industri.

Meski ada beberapa hal yang menjadikan modernitas kurang sesuai dengan beberapa ajaran Islam, kaum modernis Muslim berusaha melakukan sintesis dan mencari keselarasan yang bertujuan untuk menjadikan keyakinan agama sesuai dengan pemikiran modern.

Diskursus mengenai modernisasi di pandang oleh Nurcholis Madjid sebagai wujud rasionalisasi. Nurcholish Madjid memandang modernisasi sebagai rasionalisasi.

Pengertian modernisasi identik dengan rasionalisasi, yaitu proses perombakan pola berpikir dan tata kerja yang baru yang tidak rasional, dan menggantikannya dengan pola berpikir dan tata kerja yang baru yang rasional. Manfaat adalah untuk memperoleh daya guna yang maksimal.

Jadi tandasnya, sesuatu yang di sebut modern, jika ia bersifat rasional, ilmiah dan bersesuaian dengan hukum-hukum yang berlaku dalam alam. Dalam pandangannya, modernisasi berarti juga penerapan ilmu pengetahuan, dan ini merupakan keharusan “kewajiban yang mutlak”. Oleh sebab itu, modernisasi merupakan perintah dan ajaran Tuhan. Keislaman dan Kemodernan adalah sesuatu yang identik. 

Karakter Modernitas pada Masyarakat

Perkembangan zaman yang tidak dapat di pungkiri dengan mempengaruhi dalam pembentukan karakteristik pada masyarakat. Beberapa karakteristik masyarakat modern antara lain. Pertama, berorientasi pada industrialisasi. Pada zaman modern, industri sumber kehidupan masyarakat modern.

Karakter modern yang berorientasi pada industri yaitu berusaha dalam memanfaatkan sumber daya yang ada untuk kepentingan manusia. Bahkan pada karakter ini, pekerjaan yang di lakukan di alihkan dengan memanfaatkan mesin-mesin atau robot.

Kedua, masyarakat modern lebih mengedepankan kemajuan sains dan teknologi (IPTEK). Pada pengembangan IPTEK di harapkan dapat membantu meningkatkan atau melipat gandakan hasil produksi industrial.

Ketiga, masyarakat bercirikan perubahan. Perubahan memang menjadi hal yang pasti, terlebih pada zaman modern ini. Manusia di tuntut untuk adaptif pada perkembangan zaman yang memanfaatkan kecanggihan teknologi.

Keempat, berkembangnya pola pikir yang mendasar terutama dalam hubungan manusia dan humanism. Pada zaman ini, timbul suatu pemikiran yang memandang manusia sebagai pusat (antroposentrisme) dan akhirnya timbul pemikiran rasionalisme yang menjadi karakter masyarakat modern.

Sisi Negatif Modernisasi

Modernisasi menjadi fenomena yang dialami oleh seluruh bidang kehidupan. Hal ini telah berlangsung sejak abad 17 M, di mana masyarakat Barat menyingkirkan bahkan membuang sama sekali semua keyakinan agama yang sakral itu. Mereka menolak semua itu, dan hanya percaya kepada ilmu pengetahuan, dan kepercayaan ini telah mencapai tingkat yang amat tinggi.

Puncaknya saintisme, yaitu abad 18 dan 19 M, ilmu telah seperti “berhala” yang menjadi tuhan manusia modern. Seperti Tuhan, ilmu dipandang memiliki ketetapan yang amat kuat dan tidak terdapat keraguan dan kebatilan di dalamnya. Masyarakat modern yang di tuntut untuk adaptif terhadap zaman menjadikan karakter masyarakat modern menjadi sangat progresif dan agresif dalam mengejar kemajuan.

Modernisme terakui telah mendatangkan kekayaan secara material, tetapi sangat kering dan miskin secara etika dan moral. Segala sesuatu cenderung di lihat dari sudut kemajuan material. Ini sesungguhnya dehumanisasi, mengalami degradasi dan reduksi terhadap kualitas hidup manusia.

Akibatnya, nilai-nilai luhur kemanusiaan, seperti kasih sayang, kebersamaan, solidaritas dan persaudaraan sesama manusia, kurang mendapat perhatian, yang menonjol dari masyarakat modern justru individualisme.
 
Pada kenyataanya, modernisasi membentuk sebuah penyakit sosial yang mengesampingkan kehidupan spiritual. Karakter modernitas membentuk sebuah kehampaan pada aspek spiritual yang menjadikan mereka lupa pada dirinya sendiri, juga lupa kepada pusat lingkaran eksistensi, yaitu Allah.

Manusia modern menjadi sangat rentan terhadap penyakit, karena sesungguhnya telah kehilangan salah satu aspek yang paling fundamental, yaitu spiritualisme. Kemajuan lahiriah yang di capai manusia modern telah menjadi berhala yang menghambat komunikasi vertikal dengan sumber kehidupan, yaitu Tuhan, sehingga kehidupan yang di bangunnya terasa sempit dan gelap, serta jauh dari bimbingan dan petunjuk-Nya.

Peradaban modern di tandai juga dalam cara berpikir manusia yang logis dan mampu menggunakan berbagai teknologi dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupannya.

Memang seharusnya, dengan bantuan teknologi tersebut, manusia modern lebih bijak dan arif, dalam menyelesaikan problemnya. Namun pada kenyataannya nurani kemanusiaan manusia modern lebih mundur ketimbang kemajuan pola berpikir dan hasil teknologi yang di capainya.

Akibat dari ketidakseimbangan ini, maka kemudian menimbulkan gangguan kejiwaan. Terlebih lagi, dengan mudahnya mengakses informasi dengan teknologi yang kian canggih, akhirnya manusia hidup dalam pengaruh global dan di kendalikan oleh terjangan arus informasi global, padahal kesiapan mental manusia jauh belum siap. 

Peran Agama dalam Menghadapi Tantangan Modernitas

Berbicara peran agama dalam menjawab tantangan modernitas. Persoalan hidup dan kehidupan manusia semakin kompleks. Untuk persoalan tersebut, perlu adanya usaha dari kelompok yang kompeten guna melahirkan konsep dakwah yang dapat di terima oleh seluruh umat, sehingga pada gilirannya mampu menghadirkan Islam sebagai manhaj atau metode, yang dapat memecahkan problematika kehidupan modern.

Pada hakikatnya, semua manusia dalam realita kehidupan memerlukan ide-ide yang terus berkembang, keahlian tertentu, kebiasaan yang baik dan bermanfaat bagi banyak orang.

Akan tetapi, dalam kenyataannya, implementasi ide-ide tersebut memiliki tata cara atau sistem yang berbeda-beda, terlebih pada zaman modern seperti ini, yang terkadang tidak lagi mengindahkan rambu-rambu ajaran agama dalam membantu merealisasikan ide tersebut. Singkatnya, pada zaman modern ini, mengalami krisis nilai-nilai kemanusiaan dan krisis etika moral pada masyarakat.

Agama memang bersifat transcendental, sedangkan ilmu pengetahuan bersifat empiris rasional yang dapat di uji kebenarannya. Ayat-ayat Al-Qur’an bersifat tetap, tetapi tafsirnya dalam mengalami kontekstualisasi sedangkan kebenaran ilmu pengetahuan bersifat relatif. Sebuah teori masih di anggap benar jika belum ada teori baru yang membuktikan teori lama itu salah.

Dalam beragama kita beriman tentang keberadaan tuhan tanpa mempertanyakan bukti-bukti empiris karena panca indera manusia tidak mampu menjangkau hal-hal yang sifatnya adikodrati.

Akal manusia terlalu terbatas untuk memahami kompleksitas jagad raya ini. Tapi bagi kelompok agnostic atau atheis, maka kebenaran di tunjukkan oleh fakta empiris dan rasionalitas. Kelompok ini menguasai perkembangan dan perubahan dunia.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa dampak perubahan yang sangat besar terhadap berbagai tatanan segi kehidupan manusia, mulai dari cara berpikir, bersikap dan berperilaku. Meski ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan yang besar dan luar biasa.

Namun kemajuan itu belum mampu menjawab berbagai problematika kehidupan manusia di era modern. Manusia di era modern ini di hadapkan kepada era baru yang di sebut globalisasi, yang cenderung menghilangkan kepatuhan terhadap nilai-nilai ajaran agama dan norma-norma yang berlaku.

Berdasarkan fenomena yang terjadi pada masyarakat modern sekarang, adalah menurunnya penghayatan atas ajaran dan seruan kebaikan agamanya, melonggarnya ikatan kekeluargaan dan tata pergaulan masyarakat.

Hal ini di sebabkan oleh gaya hidup yang individualistik dan tampak umumnya kehidupan masyarakat modern memiliki kesibukan dengan berbagai hal yang sifatnya duniawi, sehingga perhatian terhadap agama sebatas tradisi yang turun-temurun bersifat verbalistik dan ritualistik berkala.

Kondisi kehidupan dengan manusia sebagai makhluk yang sempurna yang di bekali dengan akal dan nafsu harus di arahkan kepada jalan-jalan kebaikan. Sehingga, kondisi tersebut menyatakan bahwa kebutuhan manusia terhadap agama menjadi mutlak. Dalam hal ini agar nilai-nilai dan ajaran agama dapat diketahui, dihayati dan diamalkan.

Maka diperlukan upaya untuk menumbuh-kembangkan agama pada jiwa manusia, yaitu melalui aktivitas dakwah yang komprehensif dan berkesinambungan.

Oleh sebab itu, perlu me-revitalisasi (penguatan) peran agama dalam rangka menjawab berbagai tantangan dan problematika manusia zaman modern. Karena sesungguhnya ilmu pengetahuan tidak dapat menggantikan peran agama dalam memenuhi kekosongan spiritual manusia modern.

Pada aktivitas kehidupan yang lain, mengacu pada dalil-dalil yang ada pun menjadi sangat di perlukan. Al-Qur’an memberi panduan dalam berbagai aspek kehidupan, tetapi tidak dalam tataran yang sangat teknis. Dan hal itu sangat tepat karena membuka ruang tafsir yang kontekstual sesuai dengan zaman yang ada.

Kehidupan yang kita jalani sekarang ini dengan segala kemudahan teknologinya tak terbayangkan pada era beberapa abad sebelumnya. Selain itu, dalam hal menyebarkan nilai-nilai ajaran agama dan aktivitas dakwah dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk lebih mudah dalam di terima masyarakat.

Editor : Izzul Khaq

Terkait

Previous Post

Khaled M. Abou E-Fadl: Dialektika Islam Moderat vs Puritan

Next Post

Peran Penting Cendekiawan dalam Mengilmukan Islam

Muhammad Davan Fernanda

Muhammad Davan Fernanda

Alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang kini menjadi mahasiswa di Universitas Jember menempuh S1 Fisika.

Next Post
Basis Profetik Sebagai Etos Transformasi Sosial

Peran Penting Cendekiawan dalam Mengilmukan Islam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.