Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Siapa Bilang Jadi Janda itu Nasib?

Ageni Trifi Kasih by Ageni Trifi Kasih
Juli 10, 2021
in Esai
0
janda keluarga
264
SHARES
1.6k
VIEWS

 “Dadi rondo kui pancen nasib, ngetan ngulon wong do ndeloke, seakan koyo lagi ngomongke awake dewe.” Begitu kata bulek saya kepada ibu-ibu yang sedang nongkrong di warung sayur Yu Rob dekat rumah saya.

Bulek saya yang menyandang status janda ini, merasa insecure dengan status yang menurutnya cukup buruk dimata masyarakat. Namun, bukan hanya bulek saya. Janda-janda yang ada di desa saya, cukup merasa tidak nyaman dengan adanya peminggiran status janda. Baik secara ekonomi, sosial, politik maupun budaya. Karena itu, para janda di desa saya mengatakan jadi janda itu nasib!

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Diskriminasi Janda

Janda dianggap tidak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Langkahnya tidak selebar laki-laki. Kemampuannya terbatas. Bahkan andai bekerjapun, penghasilannya tak seberapa. Karena itu, janda dituduh bekerja sebagai pekerja seks komersial, penggoda laki-laki orang, dan sebagainya.

Dalam kehidupan sosial pun begitu, agaknya dalih ekonomi di atas membuat harga diri janda kian tercabik. Di dalam masyarakat kita, janda sulit untuk di akui di dalam kegiatan sosial. Misalkan saja dalam acara ronda, rapat pembangunan jalan, hingga panitia kurban. Kegiatan semacam itu merupakan kegiatan yang laki-laki banget, yang seakan tidak pantas jika perempuan apalagi janda ikut campur. Rasanya sedikit sekali dalam acara sosial kemasyarakatan, janda diikutsertakan, pun begitu, dalam dunia perpolitikan dan budaya.

Peminggiran status janda ini, tidak hanya dilontarkan oleh laki-laki, perempuan dengan status istri, dan keluarga terdekat juga kerap meminggirkan perempuan dengan status janda. Hal ini merupakan hasil dari kelanggengan budaya patriarki yang semakin menebal. Walaupun emansipasi perempuan telah dikoar-koarkan, peperangan dengan budaya patriarki ini memang sulit diredakan.

Tidak hanya di desa saya, diberbagai belahan Indonesia, perempuan berstatus janda juga ternyata didiskriminasi, disudutkan, bahkan diobjektifikasi. Lagi-lagi adalah soal stigma, bahwa janda itu kesepian, manusia rendahan, kotor, objek seksual, pelakor, penggoda, serta “menyenangkan” kaum laki-laki. Padahal status janda itu ya biasa saja atau alamiah. Setara dengan status duda, perjaka, perawan, yatim, piatu, dan status-status yang lain.

Perbedaan Nasib Janda di Indonesia dan Eropa

Seperti manusia pada umumnya, janda juga butuh makan, butuh rasa aman, butuh bersosial, butuh kasih sayang antar sesama dan juga butuh diakui sebagai manusia. Namun, terkadang kita lupa. Menganggap janda, single parent, dan difabel sebagai manusia kelas bawah yang patut didiskriminasi dan juga diobjektifikasi. Janda termasuk kelompok rentan dalam sosial.

Saya kira, budaya peminggiran perempuan dengan status janda yang masih terus dilanggengkan hanya di Indonesia. Sedangkan di Amerika Serikat, Eropa, Inggris, perempuan dengan status janda, statusnya sama dengan perempuan lain. Mereka menganggap kegagalan dalam suatu hubungan, murni gagal dalam hubungan itu, dan tidak memantik kegagalan dunia yang lain seperti ekonomi, sosial, politik dan budaya.

Banyak di AS, Eropa dan Inggris, janda-janda yang berhasil dalam bidang ekonomi. Bahkan mereka bisa menjadi janda terkaya. Dilansir dari Lampost.co salah satunya MacKenzie Scott mantan istri pendiri Amazon Jeff Bezos. Kekayaan bersihnya mencapai USD 68 miliar atau Rp. 1.005 triliun (kurs Rp. 14.784 per USD). Scott merupakan orang terkaya no. 12 di dunia. Seorang penulis dan filantropis Giving Pledge yang mendanai kelompok yang bekerja untuk mengatasi pengentasan kemiskinan, bantuan pengungsi, bantuan bencana, kesehatan global dan pendidikan.

Selain itu, dalam sejarah islam, Bunda Khadijah juga merupakan seorang janda kaya raya. turut membantu mendanai perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW sampai tuntas. Bunda Khadijah juga mempunyai karyawan-karyawan laki-laki yang membantu mengurus perniagaannya hingga ke luar negeri dan memberikan separuh keuntungannya untuk karyawan.

Janda : Wanita Hebat!

Lalu, apakah jadi janda itu nasib? Tentu tidak. Menjadi janda karena ditinggal mati adalah takdir dan suatu keniscayaan. Sama halnya dengan menjadi duda karena ditinggal mati. Mau tidak mau, ketika manusia hidup maka harus berpulang, dan status apapun itu, tidak membuat dirinya rendah dan hina.

Lalu, bagaimana dengan janda yang diceraikan, atau ditinggalkan suaminya? Mereka juga tetap janda yang terhormat dan bermartabat. Bagaimana tidak? seorang janda atau ibu tunggal yang diceraikan atau ditinggalkan suaminya, adalah seorang janda yang kuat, seorang ibu yang merangkap menjadi kepala keluarga. mencari nafkah sekaligus mendidik anak-anaknya. Bukankah janda lebih hebat?

Menjadi janda karena perceraian juga merupakan sebuah pilihan. Daripada bertahan berumah tangga seperti neraka, mereka memilih lebih baik menjanda. Karena berumah tangga belum tentu bahagia, seperti misal terjadi KDRT, perselingkuhan, ataupun masalah lain. Dalam hal ini, mana yang lebih bernasib buruk antara menjadi istri dalam lingkungan toxic relationship atau menjanda? ya menjadi istri dalam lingkungan toxic relationship! Janda yang bisa membuat keputusan dan keluar dari toxic relationship merupakan wanita hebat.

Belum lagi terpaan psikologis atas problem perceraian. Mau diakui atau tidak. Beban psikologis merupakan permasalahan yang lebih berat dari pada yang lain. Stress, depresi, hingga gangguan mental yang lain harus diredam seorang diri dan juga harus tetap tampil baik dan bahagia di depan anak-anaknya. Tentu ini bukan tugas yang ringan bagi seorang janda! Oleh karena itu, bisa jadi janda merupakan manusia yang terhormat dan lebih bermartabat di hadapan Tuhan, dan sebagai manusia laki-laki ataupun perempuan dengan status istri, mari kita sama-sama manusiakan janda seperti manusia lainnya, yang patut dihargai dan diakui eksistensinya.

Editor : Irawan

Terkait

Tags: jandanasibsiapa bilang
Previous Post

Nietzsche: Kematian Tuhan untuk Kehidupan yang Merdeka

Next Post

Mengkaji Takdir Dalam Alquran

Ageni Trifi Kasih

Ageni Trifi Kasih

Next Post
Aqidah

Mengkaji Takdir Dalam Alquran

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.