Kamis, Oktober 8, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Menjaga Kedaulatan dan Menegaskan Keindonesiaan

RedaksiKS by RedaksiKS
Oktober 21, 2020
in Report
0
keindonesiaan Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, turut menghadiri Pengajian Umum PP Muhammadiyah yang mengangkat tema “Virus Corona: Masalah dan penanganannya"
42
SHARES
249
VIEWS

Dalam kaitan sumpah pemuda ada kaitan penting dengan ke Indonesiaan dan hubungannya dengan kedaulatan. Sumpah Pemuda menurut Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti menjadi satu diantara 3 peristiwa penting yang berkaitan dengan kedaulatan. Selain proklamasi kemerdekaan 1945 dan kedaulatan wilayah.

“Kalau misalkan tiga peristiwa yang berkaitan dengan tonggak penting sejarah Indonesia itu dikaitkan dengan peran para kader dan tokoh Muhammadiyah, maka dalam tiga persitiwa itu kita bisa melihat para kader Muhammadiyah memiliki kontribusi yang sangat bermakna.” Ungkap Abdul Mu’ti pada Jum’at (16/10) malam.

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

Peran kader dan tokoh Muhammadiyah dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memiliki peran yang sangat bermakna. Dalam Pengajian Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang bertema “Sumpah Pemuda dan Wawasan Kebangsaan Muhammadiyah”, Mu’ti menyebut Sumpah Pemuda adalah proses menjaga kedaulatan budaya dan penegasan ke-Indonesiaan.

Dalam konteks kedaulatan budaya, menurutnya adalah hal penting yang harus dipahami dalam membangun wawasan kebangsaan. Dalam prosesnya, pemuda tidak boleh menghilangkan identitas kedaerah termasuk  identitas ke-Islamannya, tetapi dengan identitas itu pemuda masih tetap bisa menjadi Indonesia. Dari sini dapat dipahami bahwa persatuan itu bukan berarti penyeragaman.

“Persatuan itu tetap mengakomodir adanya keragaman, bahkan keragaman itu yang membuat persatuan menjadi lebih kuat,” imbuhnya.

Sehingga, tidak bisa dikatakan tarian-tarian daerah itu murni milik daerah tersebut, tetapi milik Indonesia yang diberikan oleh satu daerah sebagai bagian dari khasanah ke-Indonesiaan. Termasuk Bahasa Melayu yang menjadi lingua franka yang menghubungkan masyarakat Indonesia yang berbeda-beda suku, dan bahasa daerah.

“Tapi yang menarik dari Bahasa Melayu itu adalah banyak pengaruh Bahasa Arab, sehingga banyak kosa kata memiliki kesamaan. Dari para tokoh waktu itu menjadikan Islam sebagian dari niali dan melakukan inkulturasi Islam sehingga simpul dan ekspresi ke-Islaman itu bisa diterima oleh semua kalangan tanpad ada resistensi dan keberatan dalam menggunakannya,” urai Mu’ti.

Mu’ti menambahkan, ekspresi bahasa tidak bisa dilepaskan dari ritual ibadah yang menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Misalnya pengunaan istilah ‘ba’da dhuhur’ ketika membuat janji, ungkapan ‘ba’da dhuhur’ menjadi universal bagi semua orang beragama apapu bisa menggunakan, padahal istilah dhuhur merupakan istilah yang kental dengan Islam.

Menurutnya, membincangkan wawasan kebangsaan sama saja dengan membincangkan kemampuan dalam menangkap ajaran agama yang bukan hanya secara material, namun lebih dalam dari yakni menyangkut niali-nilai yang melekat di dalam ajaran agama sebagai bagian dari satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

“Sehingga ketika berbicara mengenai Indonesia, maka tidak berarti melepas ke-Islaman kita. Tapi kita mewarnai Indonesia itu dengan ke-Islaman kita. Islam yang bahasa-bahasanya, nilai-nilainya tertanam dalam masyarakat,” ucapnya.

Meminjam istilah Kuntowijoyo, Mu’ti menyebut hal ini terjadi karena adanya universalisasi ajaran Islam. Di mana umat Islam mampu menerjemahkan konsep-konsep ekslusif Islam menjadi sebuah konsep yang bahasanya bisa diterima siapa saja. Misalnya istilah jujur yang diterjemahkan menjadi transparan dan akuntabele, yang kemudian menjadi bahasa universal yang digunakan oleh semua orang untuk memunculkan gerakan anti korupsi.

“Kemampuan seperti ini yang kita butuhkan untuk konteks Indonesia masa kini dan masa depan,” tutur Mu’ti.

Melihat realitas sekarang, Mu’ti mengemukakan bahwa problem yang dihadapi oleh umat Islam adalah ketidak mampuan dan tidak berani untuk keluar dari bingkai ke-Islaman yang jumud, serta tidak percaya diri untuk membawa nilai-nilai ke-Islaman dengan bahasa-bahasa universal yang kemudian bisa diterima oleh semua pihak. Menurutnya, saat ini umat Islam memaknai agamanya hanya sebagai symbol, bukan sebagai fungsi.

“Harusnya justru dengan ke-Islaman itu kita semakin percaya diri menjadi Indonesia, dan justru dengan ke-Islaman itu kita bisa lebih hadir memberikan solusi atas segala masalah bangsa dengan nilai-nilai dan ajaran agama Islam,” tuturnya.

Maka dalam menghadapi dunia masa depan adalah berbicara mengenai kompetisi yang meniscayakan kompetensi. Maka umat Islam harus memiliki kompetensi jika tidak ingin terdepak dari kompetisi atau persaingan di masa depan. Menurut Mu’ti, pada saat inilah pemuda memiliki peran penting karena Indonesia kedepan penentunya adalah para pemuda sekarang.

Selengkapnya lihat disini.

Terkait

Tags: Abdul MutiIndonesiasumpah pemuda
Previous Post

Islam, Solusi Bagi Kemanusiaan

Next Post

Santri Progresif: Menuju Era NU Digital

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
santri NU dan modernitas

Santri Progresif: Menuju Era NU Digital

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.