Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Sudarnoto: Problem Historiografi Indonesia

RedaksiKS by RedaksiKS
Agustus 17, 2020
in Report
0
Sudarnoto
26
SHARES
151
VIEWS

Kalimahsawa.id – Bangsa Indonesia menghadapi problem historiografi. Problem ini merupakan sesuatu yang belum selesai hingga dewasa ini. Banyak sekali yang kita temukan terkait dengan permasalahan ketika menyusun catatan sejarah.

Sudarnoto menyebut bahwa sejarah harus ditulis secara otentik. Dalam teori sejarah ada yang menyebutkan bahwa sejarah itu berulang. Selain itu, sejarah juga tidak cukup dipahami sebagai kumpulan fakta dari berbagai peristiwa. Namun yang lebih penting adalah narasi apa yang bisa diambil dari berbagai peristiwa sejarah tersebut.

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

“Semua orang tahu bahwa Pangeran Diponegoro melakukan perlawanan terhadap Belanda. Namun, di mata Belanda, perlawanan Diponegoro dianggap sebagai suatu pemberontakan. Sehingga, makna sejarah sangat tergantung kepada siapa yang melihat. Problem historiografi juga meliputi bagaimana masyarakat membaca peristiwa-peristiwa sejarah yang ada,” ujarnya.

***

Hal ini ia sampaikan dalam Pengajian Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengajian dengan tema “Muhammadiyah, Pancasila, dan Kemerdekaan Indonesia” ini diselenggarakan secara daring pada Jumat (14/8) malam.

Ia bercerita ketika melakukan riset tentang Ki Bagus Hadikusumo sangat sulit mencari dokumen-dokumen tentang Ki Bagus Hadikusumo.

“Saya menemukan buku kecil berjudul Islam sebagai Dasar Negara. Buku kecil itu adalah teks pidato yang disampaikan Ki Bagus pada sidang BPUPKI. Banyak peneliti yang membahas tentang Piagam Jakarta merujuk ke buku ini,” jelasnya.

Sementara, menurutnya buku lain yang menggunakan bahasa Jawa tidak banyak yang menelaah atau mengutip untuk mengkonstruksi gagasan keislaman Ki Bagus Hadikusumo.

Hal tersebut menandakan masih banyak dokumen-dokumen yang belum diketahui secara umum. “Kajian-kajian ilmiah yang terkait dengan Ki Bagus belum banyak. Artinya, informasi tentang peranan Ki Bagus tidak banyak diketahui,” imbuhnya.

Inilah yang dimaksud dengan problem historiografi secara umum, tidak hanya Ki Bagus. Upaya Muhammadiyah mengajukan tiga tokohnya untuk menjadi pahlawan sempat mengalami kesulitan. Kasman Singodimejo diganjal karena ada catatan bahwa Kasman Singodimejo pernah dipenjara.

***

Namun, Sudarnoto mengatakan bahwa setelah ditelusuri bukti-bukti hukum dan fakta historis, ditemukan catatan bahwa penahanan Kasman bukan tindakan kriminal. Ia dipenjara karena melakukan perlawanan terhadap otoritarianisme Soekarno. Sehingga tidak ada persoalan dengan Kasman Singodimejo.

Menurutnya, di dalam penulisan sejarah, memang ada elemen-elemen politik. Jadi, fakta menjadi hal yang penting untuk dibaca dengan baik. Masyarakat sedang menghadapi perebutan sejarah. Termasuk pengusulan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai pengganti dari tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

Maka harus ada kekuatan menuliskan sejarah dengan baik sesuai kaedah-kaedah kesejarahan, sehingga tidak ada ruang pembelokan sejarah. “RUU HIP yang tiba-tiba merujuk pada 1 Juni berarti ingin mengubur fakta-fakta historis penting seperti peristiwa tanggal 22 Juni tentang Piagam Jakarta dan juga 18 Agustus,” tegasnya.

Ia mengaku jika hal ini dibiarkan, maka akan terjadi perampokan sejarah. Karena fakta-fakta sesugguhnya dikubur untuk kepentingan-kepentingan politik. Muhammadiyah misalnya, mempunyai peluang yang sangat besar untuk melakukan riset-riset sejarah dengan memanfaatkan Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

“Fakta-fakta sejarah harus dibangun dalam konteks kekinian. Misalnya, kritik yang dilakukan oleh Kasman terhadap otoritarianisme Soekarno menjadi pelajaran yang sangat berharga,” ujarnya.

Bahwa diperlukan pandangan dan pemikiran yang jujur dan diarahkan untuk kemaslahatan bersama. Maka, perilaku kekuasaan yang cenderung otoriter, tidak menghargai prinsip demokrasi, dan tidak peduli dengan keadilan harus menjadi bagian penting dan harus dikritik dengan jujur.

Sejarah dari Ki Bagus, Kasman, dan lain-lain memberikan pelajaran yang penting tentang kejujuran sekaligus secara leluasa melakukan peringatan dan kritik kepada penguasa yang cenderung korup. Indonesia yang dibangun ke depan adalah Indonesia yang bebas dari tindakan-tindakan koruptif, menciptakan sistem kekuasaan yang berkeadilan, sesuai dengan prinsip-prinsip Pancasila, dan tidak jumawa.

“Sayangnya, spirit kita bukan spirit memberi, tapi spirit mengambil. Dan ini diperawet dengan sistem politik oligarki yang memungkinkan pemilik modal untuk menguasai negara. Ini adalah penyelewengan yang tidak memberikan perhatian terhadap kemaslahatan bersama,” tutupnya.

Reporter: Yusuf

Terkait

Tags: historiografiMuhammadiyahSejarah
Previous Post

Toleransi dan Artinya Menurut Buya Hamka

Next Post

Air Mata Fatmawati Jatuh Berkali-kali di Atas Sang Saka Merah Putih

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Air Mata Fatmawati Jatuh Berkali-kali di Atas Sang Saka Merah Putih

Air Mata Fatmawati Jatuh Berkali-kali di Atas Sang Saka Merah Putih

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.