Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Hajriyanto Thohari: Peran Tokoh Muhammadiyah dalam Kemerdekaan

RedaksiKS by RedaksiKS
Agustus 15, 2020
in Report
0
Anhar Gonggong: Apa yang Tidak Diberikan Muhammadiyah Kepada Bangsa?
65
SHARES
382
VIEWS

Kalimahsawa.id – Muhammadiyah, menjelang tahun 40 an, menunjukkan dinamika yang sangat tinggi sebagai sebuah gerakan Islam. Perkembangan secara nasional juga sangat cepat, terutama setelah Muhammadiyah masuk ke Minangkabau.

Menurut Hajriyanto Y Thohari, Dubes RI untuk Lebanon, pada tahun 1940 Muhammadiyah sudah menjadi gerakan nasional. Muhammadiyah sudah memiliki kepengurusan dan anggota di seluruh wilayah di Indonesia. Sehingga, Muhammadiyah menjadi sangat diperhitungkan pasca Jepang berhasil mengalahkan sekutu.

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

Ia menyebut Jepang yang baru berkuasa di Indonesia segera tahu mana kekuatan yang hidup dan berakar di masyarakat. Ketika terbentuk empat serangkai, yaitu empat tokoh nasional yang menjadi penghubung antara Jepang dengan masyarakat Indonesia, didalamnya ada tokoh Muhammadiyah. Empat Serangkai terdiri dari Bung Karno, Mas Mansur, Hatta, dan Ki Hajar Dewantoro.

“Dari situ sudah nampak betapa Muhammadiyah menjadi salah satu representasi kekuatan riil dari bangsa Indonesia. Itu semua menunjukkan bahwa ketokohan-ketokohan pemimpin Muhammadiyah sangat menonjol,” ujarnya.

Hal ini ia sampaikan dalam Pengajian Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengajian dengan tema “Muhammadiyah, Pancasila, dan Kemerdekaan Indonesia” ini diselenggarakan secara daring pada Jumat (14/8) malam.

Peran Tokoh Muhammadiyah dalam Kemerdekaan

Hajri bercerita bahwa setelah Mas Mansur sangat sibuk di Jakarta, kepemimpinan Muhammadiyah diketuai oleh Ki Bagus. Ketika pemerintah Jepang mengundang dua tokoh Indonesia, mereka memilih Bung Karno dan Ki Bagus Hadikusumo untuk membicarakan persiapan kemerdekaan Indonesia.

“Ki Bagus yang mengusulkan kepada penguasa militer Jepang agar ditambah satu lagi yang diundang. Dan Ki Bagus menyebut nama Hatta. Dari situ sudah terlihat dimana posisi Muhammadiyah dalam kemerdekaan Indonesia,” jelasnya.

Dalam BPUPKI, beberapa tokoh Muhammadiyah masuk. Di antaranya adalah Mas Mansur, Ki Bagus, dan beberapa tokoh Muhammadiyah dan tokoh Islam lain. Ketika itu Dr. Radjiman Widyodiningrat mengajukan pertanyaan “atas dasar apa kita mendirikan negara?”

Menurutnya, pertanyaan Dr. Radjiman itu sangat mengejutkan. Bahkan Hatta mengatakan bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan filosofis yang memancing perdebatan panjang. Maka Hatta tidak memberikan jawaban karena khawatir akan memperpanjang perdebatan.

“Peran pemimpin-pemimpin Muhammadiyah di BPUPKI, panitia Sembilan yang melahirkan Piagam Jakarta, dan pencoretan tujuh kata adalah sangat besar. Bahwa pada saat itu terjadi perdebatan-perdebatan, silang pendapat, kekecewaan, dan lain-lain, tetapi itu semua adalah dinamika permusyawaratan yang pada 18 Agustus telah mencapai puncaknya yang final,” ucap Hajri.

Ia menyebutkan beberapa tokoh bangsa yang berasal dari Muhammadiyah. Ada Bung Karno, Jenderal Soedirman, Kasman Singodimejo yang menjadi ketua Komita Nasional Indonesia Pusat, Perdana Menteri Ir. Juanda, dan Menteri Agama pertama Prof. Rosyidi.

“Maka, sebenarnya sangat sulit untuk kita pahami jika masa-masa setelah kemerdekaan, peranan tokoh-tokoh Muhammadiyah berada pada posisi yang non arus utama. Melihat sejarah yang sedemikian menentukan, menjadi pertanyaan sejarah melihat bagaimana bisa Muhammadiyah berada diluar arus utama penyelenggaraan kenegaraan,” imbuhnya.

Empat Faktor Internal

Beberapa waktu yang lalu, Muhammadiyah menyatakan bahwa Indonesia adalah dar al-‘ahdi wa asy-syahadah. Maka, disamping menghormati konsensus politik, Muhammadiyah juga harus mengisi kemerdekaan. Menjadi saksi di bidang politik, kehidupan bangsa, dan peradaban.

“Jangan sampai ada ideologi atau teologi anti kekuasaan. Dan saya yakin itu tidak ada. Yang ada paling hanya politik yang tidak suka kekuasaan. Politik yang mengharamkan kekuasaan. Tapi kalau ideologi dan teologi, jangan sampai ada,” ujarnya.

Ia menyebutkan beberapa faktor internal yang mempengaruhi peran Muhammadiyah dalam bidang politik dewasa ini. Pertama, Muhammadiyah sedang berada dalam situasi berebut wacana. Kompetisi wacana dan kompetisi panggung. Era dimana kita harus menyatakan pendapat atas sesuatu. Diam dianggap menyetujui sesuatu yang menjadi wacana umum.

“Keluarga Muhammadiyah tidak boleh menjadi keluarga yang diam, tapi harus bersuara menyatakan pendapat. Termasuk orang bisa menyepelekan Muhammadiyah karena Muhammadiyah diam dan tidak pernah mau menyuarakan perannya,” pesannya.

Kedua, Muhammadiyah tidak boleh jumud. Dulu Muhammadiyah sangat mengecam kejumudan. Bung Karno sangat mengecam kejumudan, kemandegan, stagnasi. Ia berpesan agar Muhammadiyah harus modern. Cara berpolitik Muhammadiyah juga harus modern, tidak primordial.

Ketiga, Muhammadiyah harus melakukan pembaharuan, termasuk dalam bidang politik. Jika Muhammadiyah ingin kembali ke mainstream penyelenggaraan negara seperti pada masa awal kemerdekaan, Muhammadiyah harus memiliki semangat pembaharuan.

Keempat, pada abad pertama Muhammadiyah memiliki trisula lama. “Pada abad kedua, kita perlu trisula baru dalam rangka mengokohkan posisi Muhammadiyah, Pancasila, dan Kemerdekaan Indonesia,” tutupnya.

Reporter: Yusuf

Terkait

Tags: KemerdekaanMuhammadiyahpancasila
Previous Post

Anhar Gonggong: Apa yang Tidak Diberikan Muhammadiyah Kepada Bangsa?

Next Post

Toleransi dan Artinya Menurut Buya Hamka

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Toleransi artinya

Toleransi dan Artinya Menurut Buya Hamka

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.