Pada hari Senin, (18/5), 164 Channel Nahdlatul Ulama mengadakan kajian online bersama Prof. Noorhaidi Hasan, pakar politik Islam dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Noorhaidi Hasan telah menekuni fenomena politik Islam selama 20 tahun terakhir. Ia telah melahirkan Banyak sekali publikasi tentang hal tersebut. Menurutnya, salah satu strategi yang dipakai oleh kelompok Islamis untuk bergabung kepada kelompok mereka adalah melalui hijrah. Dimulai dengan pengenalan konsep al-wala wa al-barra’ (loyalitas dan berlepas diri) , kemudian, takfir (pengkafiran), lalu jihad. Hal ini sudah lama disampaikan oleh para sarjana.
Perkawinan Puritanisme Wahabi dan Radikalis Ikhwan
Noorhaidi menyampaikan bahwa muncul fenomena post-Islamisme. Islamisme identik dengan gerakan yang berupaya untuk menempatkan Islam dalam pusat kekuasaan. Paham ini dekat dengan gerakan Ikhwanul Muslimin yang radikal. Hassan Al-Banna, sebagai pendiri Ikhwan, tidak terlalu bermasalah. Ia berargumen bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh. Namun, setelah Quthb datang, ikut aktif di Ikhwan, logika yang dikembangkan Al-Banna ditarik ke titik yang ekstrim sampai jatuh pada takfir dan jihad.
Menurut Noorhaidi, inilah pertama kalinya masuk konsep hijrah sebagai salah satu strategi untuk mengajak anak muda kedalam gerakan Ikhwan yang radikal versi Quthb. Ini konteksnya adalah ketika para sarjana melihat bahaya hijrah yang disalahpahami kearah politis, yang bisa mendukung konsep takfir dan jihad.
Noorhaidi menceritakan bahwa Saudi Arabia sudah merasakan dampak dari pengaruh gerakan Ikhwan yang radikal. Pada tahun 1979 terjadi pemberontakan di Saudi. Pemberontakan ini terinspirasi secara tidak langsung oleh puritanisme Wahabi yang dikawinkan dengan radikalisme Ikhwan. Namun, karena Saudi belajar dari peristiwa ini, Saudi kemudian berusaha untuk mengembalikan doktrin hijrah ke porsinya yang tidak terlalu politis. Saudi berusaha agar doktrin hijrah tidak berkembang kearah takfir dan jihad.
Caranya adalah dengan menjelaskan bahwa setelah belajar tauhid, seorang muslim harus mengikuti doktrin al wala’ wa al-barra’, kami dan mereka. Maka dunia pun dibelah. Melalui doktrin itu dipahami hijrah berarti perubahan dari yang tidak berjenggot menjadi berjenggot. Yang tidak memakai jalabiyah menjadi memakai jalabiyah, perempuan yang terbuka menjadi memakai cadar. Itu yang ditekankan oleh gerakan yang diberi nama oleh saudi dengan salafisme. Gerakan yang tidak mengganggu gugat kekuasaan politik, tetapi memberikan penekanan pada usaha transmisi diri ke dalam manhaj salafi yang diperlihatkan melalui simbol-simbol pakaian.
Perkembangan Gerakan Hijrah di Indonesia & Timur Tengah
Pria kelahiran Kalimantan Selatan ini menyampaikan bahwa paham ini sudah masuk ke Indonesia sejak sekitar tahun 1970, ketika gagasan Ikhwan masuk ke Indonesia. Pada periode ini, ideologi transnasional masih sayup-sayup terdengar karena ditekan oleh rezim otoriter. Lalu salafi berkembang pada sekitar tahun 1980. Salafi tidak lagi menyoal tentang takfir dan jihad. Mereka yang bergabung dengan gerakan salafi yang asal namanya adalah abangan seperti nama Jawa dirubah menjadi nama Arab. Biasanya dengan memberikan tambahan Abu dan nama belakang anaknya di belakang. Misalnya ia memiliki anak bernama Umar, ia akan menyebut dirinya dengan Abu Umar. Mereka juga membiasakan diri dengan panggilan akhi, ukhti, dan lain-lain.
“Walaupun Saudi dengan usahanya yang keras mengurangi unsur politik, dibawah bendera salafi, namun tetap kewalahan juga menghadapi gelombang percampuran puritanisme Wahabi dan radikalisme Ikhwan. Anak-anak muda yang sudah terpengaruh ini darahnya menjadi bergejolak. Untungnya terjadi perang Afghanistan pada tahun 1980 akhir. Perang ini kesempatan bagi Saudi, Mesir, dan lain-lain untuk mengkanalisasi anak-anak muda yang sudah bergelora syahwat revolusinya, untuk mengekspresikan hasrat mereka di Afganistan”, ujar Noorhaidi.
Di Afghanistan banyak orang dan tokoh yang datang seperti Az-Zawahiri dan Abdullah Azzam. Al-Qaeda kemudian muncul pada sekitar penghujung tahun 1990.Saudi kerepotan ketika Bin Laden mengusulkan agar para veteran Afganistan harus diminta untuk mengawal Saudi dari serangan Saddam Husein. Justru Saudi mengundang tentara Amerika, dan menolak usulan Bin Laden. Al-Qaeda kemudian marah dan ia menjadi gerakan transnasional yang ada di berbagai tempat.
2 Strategi Islamisasi
Gerakan ini biasanya memiliki 2 strategi yang ditempuh. Pertama, mereka menetapkan strategi islamisasi dari atas. Yang kedua adalah Islamisasi dari bawah. “Kalau dari atas itu hantam dulu kekuasaan negara. Ubah dulu format negara, maka semua akan berubah. Kadang-kadang mereka berbenturan dengan rezim yang seperti Gamal Abdul Nasser, Anwar Sadat, Monarki Ibnu Saudi, dan lain-lain. Akhirnya mereka mengubah strategi menjadi Islamisasi dari bawah. Argumennya adalah bahwa kita bisa mencapai tujuan akhir yaitu supremasi Islam sebagai kekuatan politik kalau semua masyarakat sudah diislamkan. Ketika semua orang sudah menganut paham mereka, negara akan menjadi Islam sesuai pemahaman mereka”, tambahnya.
Noorhaidi berpesan kepada seluruh masyarakat agar kita harus tetap paham dengan ini semua. Bahwa hijrah itu seharusnya dimaknai dengan sebuah usaha transenden spiritual untuk menjadi lebih baik, yang kontributif terhadap perkembangan peradaban dunia. Jangan sampai kemudian terbawa oleh pemahaman radikal. Jangan sampai juga terbawa oleh arus Islamisasi dari bawah sebagai kedok yang ujung-ujungnya adalah kekuasaan politik. Sayangnya banyak anak-anak muda yang ikut dengan gerakan-gerakan ini tidak memahami.
Pada tahun 2016, dosen UIN Sunan Kalijaga ini bersama ahli Islam politik dunia menerbitkan buku yang diedit oleh Asef Bayat, berjudul Post-Islamism The Changing Faces of Islamism.
Baca juga: Sukses di Waktu Ashar
Para pakar Islam politik mengaku bahwa kalau perubahan yang mereka dihasilkan oleh gerakan hijrah ini bersifat genuine, mereka akan apresiasi sebagai bagian dari demokrasi. Tetapi kalau perubahannya hanya bersifat praktis yang berujung pada kepentingannya politik tentu harus diingatkan. Noorhaidi Hasan mengatakan:
Bahwa anak-anak muda itu harus dididik menjadi lebih baik, agar mereka dapat menerima situasi pluralisme, mampu menerima perbedaan dan multikultural, tanpa membedakan sekat-sekat primordial. Ini adalah agenda yang seharusnya dilakukan oleh gerakan apapun, termasuk gerakan hijrah. Sehingga Islam bisa tampil sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin.
Anak Muda & Krisis Identitas
Aktor gerakan ini memahami bahwa audiens mereka adalah anak-anak muda. Anak-anak muda adalah orang yang berasa pada fase transisi dari anak-anak menuju dewasa. Biasanya mereka sedang mengalami gejolak batin untuk mencari identitas. Sementara mereka mendengar aneka wacana yang bersifat ketidakpastian masa depan. Mereka yang mendengar ketidakpastian masa depan akan mudah diajak untuk masuk ke gerakan yang akan membantu mereka menemukan identitas yang sedang mereka cari. Identitas berarti meletakkan dirinya dimana didalam ruang interaksi sosial yang begitu luas. Terkait dengan pertanyaan siapa saya dan dimana posisi saya. Kalau orang bisa mendefinisikan hal ini, berarti ia punya identitas.
Untuk bisa menemukan identitas ini, sebagaimana yang dijelaskan oleh Noorhaidi Hasan, ia harus mengklaim ruang (space) didalam ruang interaktif. Untuk mengklaim ruang (space) itu tidak mudah. Akhirnya mereka berbelok kedalam gerakan ini untuk mengklaim identitas. Biasanya dalam gerakan Islamis ini kesempatan untuk mengklaim identitas bisa secara instan dilakukan. Karena dunia dibelah menjadi “dunia kami” dan “dunia mereka”. Otomatis mereka tidak lagi menghitung dunia yang begitu luas tadi, karena dianggap sebagai dunia yang dipenuhi oleh dosa-dosa syirik, kekafiran, dan lain-lain.
Anak-anak muda gampang dipengaruhi dengan isu ini. Lebih-lebih jika dibantu dengan media sosial, pesan-pesan pendek, komik, dan lain-lain. Ini menjadi kunci keberhasilan mereka meraih dukungan anak-anak muda.
Noorhaidi Hasan berpesan kepada aktor gerakan hijrah agar menjauhkan potensi jamaahnya untuk menjadi radikal. Tujuan awal membawa anak muda supaya tidak terjerumus terhadap modernisme dan lain-lain, jangan sampai dibajak oleh pihak tertentu menjadi gerakan radikal.
Sebagai penutup, ia mengatakan:
Jangan sampai ajaran hijrah untuk membangun eksklusivisme. Membangun garis antara “kami” dan “mereka”. Eksklusivisme itu berbahaya bagi negara dan agama. Selanjutnya, konsekuensi-konsekuensi politik yang akan muncul harus dipahami sejak awal. Kalau aktor-aktor hijrah sudah paham, kemudian mereka berupaya membawa anak-anak muda untuk produktif dalam riset, kajian, perkuliahan, menjadi researcher yang bagus, ilmuwan-ilmuwan hebat, dan lain-lain. Ini yang akan memberikan kontribusi terhadap perkembangan Islam di masa yang akan datang.
Reporter: Yusuf R Yanuri