Pada hari Jumat, (15/5), Piminan Pusat LazisMu mengadakan Kajian Online dengan tema “Ramadhan di Tengah Pandemi”. Yang menjadi pembicara dalam kajian tersebut adalah Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Haedar berpesan kepada peserta kajian agar tidak henti-hentinya bersyukur, baik dikala menerima nikmat dan anugerah maupun menghadapi musibah.
Ada banyak rahasia ketika kita menghadapi musibah. Orang beriman diuji keimanannya justru disaat musibah. Kalau disaat dapat nikmat itu bukan ujian, paling ujiannya hanyalah dia kuat atau tidak dengan nikmat itu, lalu menjadi orang yang mentasarufkan nikmat itu untuk kepentingan orang lain. Jangan merasa beriman kepada Allah sebelum diuji. wala nabluwannakum hatta na’lama al mujahidiina minkum was sabirin (dan Kami akan menguji sampai terlihat orang-orang yang bersungguh-sungguh dan bersabar)”, papar Haedar.
Menghadapi Ujian Allah
Menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah ini, musibah itu tidak terjadi tanpa kuasa Allah. Ia mengutip surat At-Taghabun ayat 11 yang berbunyi: maa ashoba min musibatin illa biidznillah (tidak ada musibah kecuali datang atas izin Allah). Musibah itu selalu ada dalam kuasa Allah. Tinggal sekarang masyarakat mau beriman atau tidak dengan musibah ini.
Ia menyampaikan bahwa dibalik musibah selalu ada rahasia Allah. Karena ada rahasia Allah, maka masyarakat harus berikhtiar. Setelah ikhtiar kemudian tawakal dan sabar. Sabar dikala keadaan sedang normal itu biasa. Namun, sabar di saat seperti inilah yang berat.
Hal ini, menurut Haedar, juga akan menguji apakah keimanan kita ananiyyah bin nafs (egois, individual) atau taawun? (berbagi untuk orang banyak, tolong-menolong). Contohnya, kalau kita tidak ibadah di masjid, padahal di waktu lain biasanya kita ke masjid, tentu ada sesuatu yang hilang. Ujian ibadah di rumah itu berupa apakah kita bisa tetap khusyu’ atau tidak. Selain itu kita masih bisa berbuat kebaikan atau tidak. Karena kebaikan ibadah itu tidak hanya pada rukunnya, tapi juga pada nilai atau hikmahnya. Ia mengutip ayat inna ash-sholata tanha ‘an al-fakhsya’ wa al-munkar (sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan keji dan munkar).
baca juga: Pemuda Ashabul Kahfi, di karantina 309 tahun serasa sehari
Haedar bertanya kepada peserta dengan pertanyaan apakah di saat musibah dan harus diam di rumah, kita tidak peduli dengan orang lain yang menderita? Misalnya kepada mereka yang terkena corona, petugas kesehatan, dan masyarakat yang terdampak secara ekonomi karena penghasilannya hilang. Disaat seperti itu apakah kita harus terus berfikir tentang ibadah di masjid, atau justru kita mencoba mengubah keagamaan kita? Bahwa iman harus ditransformasikan untuk taawun, untuk peduli dan berbagi. Dan itu juga ajaran agama. Dalam Al-Maidah ayat 2 Allah berfirman wa ta’awanu ‘ala al-birri wa at-taqwa (tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketaqwaan).
Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah ini berpesan bahwa jika sudah ada protokol kesehatan dari petugas kesehatan, anjuran dari pemerintah, anjuran dari ulama, ormas, dan lain-lain agar ibadah di rumah, maka harus dipatuhi. Karena itu demi mencegah kedaruratan agar penularan tidak meluas. Ini juga merupakan bentuk taawun. Dengan menahan diri untuk tidak keluar rumah saja sudah taawun. Tapi kalau memaksakan diri untuk keluar justru akhirnya akan bermasalah. Di beberapa tempat misalnya, ada yang memaksakan diri salat berjamaah, justru akhirnya ada penularan.
Masyarakat juga harus membantu meringankan beban para aktivis kemanusiaan, baik dari tenaga medis maupun amil zakat yang terus-menerus mentasarufkan rezki untuk masyarakat terdampak. Masyarakat yang lain harus meringankan dengan cara tidak memperparah penularan virus.
Zakat Infaq Sodakoh sebagai Manifestasi Keimanan yang Membumi
Haedar juga berpesan agar masyarakat mau berbagi rizki. Berbagi rizki juga bagian dari beragama. Salat adalah bagian dari beragama, tetapi berbagi rizki yang disebut zakat, infaq, dan sedekah juga bagian dari keimanan tauhid dan ibadah yang sama nilainya dengan salat. Bahkan ada 42 ayat yang menyamakan posisi salat dengan zakat. Ayat yang berbunyi wa aqimu as-solah wa atu az-zakah (dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat) bertebaran di Alquran. Maka, selain ibadah di rumah dengan kusyu‘, saatnya masyarakat menjalankan dan membuktikan iman kita dengan zakat, infaq, dan sedekah dengan berlipat ganda.
Hal itu tentu akan sangat membantu masyarakat lain yang terdampak. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Allah akan bersama para hambanya yang pada waktu yang sama ia menemani saudaranya yang membutuhkan. Siapa yang tidak ingin ditemani Allah? itu adalah bagian dari iman yan membumi, bukan iman yang melangit. Saatnya masyarakat berbagi dan peduli.
“Jika ada masyarakat yang memiliki sedikit harta, maka tidak perlu berkecil hati. Sebab Allah akan melihat seberapa besar usaha hamba tersebut dalam mengeluarkan hartanya, bukan perkara seberapa besar jumlahnya saja. Inilah hal yang paling bermakna ketika kita menghadapi musibah “, tegasnya.
Haedar berharap kepada Allah agar wabah ini segera berakhir. Bahwa virus ini juga merupakan makhluk Allah. Karena itu umat Islam harus meletakkan posisi sebagai orang beriman untuk memberi maslahat untuk orang lain. Orang terbaik adalah orang yang memberi manfaat.
Di sisi lain, bulan Ramadhan adalah bulan barokah, rahmah, dan anugerah. Umat Islam akan dilipatgandakan amal-amalnya. Ini saatnya umat Islam melipatgandakan amal-amalnya dengan cara memberi yang terbaik. Setidak-tidaknya, kalau tidak punya harta, ringankan beban masyarakat dengan tetap tinggal di rumah, agar tidak memperparah penularan.
“Cintailah yang ada di bumi, maka yang di langit akan mencintaimu”, tutup Haedar.
Reporter: Yusuf R Yanuri