Pada hari Selasa, 28 April 2020, Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu mengadakan Pengajian Daring dengan tema Ramadhan untuk Peradaban. Dalam pengajian ini, Muhammad Raqib, Syafiq A Mughni, dan Muhammad Ali menjadi pembicara utamanya. Muhammad Ali, sebagai salah satu pembicara, menyampaikan beberapa hal.
Pertama, ketika membicarakan Ramadhan untuk peradaban, maka harus digali makna peradaban terlebih dahulu. Peradaban itu seperti bangunan. Fondasinya adalah iman, pilar atau tiangnya adalah puasa yang didalamnya ada aspek pengorbanan dan penderitaan. Ini adalah manifestasi dari firman Allah “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas umat sebelum kamu.”
Peradaban Islam tidak sepenuhnya peradaban baru. Namun, ia melanjutkan peradaban-peradaban sebelumnya. Lanjutan dari ayat diatas adalah “agar kamu sekalian bertaqwa.” Artinya ada dimensi kebajikan. Taqwa dalam ayat tersebut menggunakan kata jama’, sehingga kebajikannya harus bersifat kebajikan kolektif, bukan individual. Ayat ini sedikit banyak sudah menunjukkan bangun peradaban Islam.
baca juga: Muhammad Ali: Semua Berebut Klaim Islam
Kedua, menurut Muhammad Ali, bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran. Ini artinya pedoman dalam membangun peradaban adalah Alquran. Alquran mencakup hal-hal yang sifatnya huda, penjelas, petunjuk, dan pembeda. Rincian-rincian peradaban secara praktis dikaitkan dengan ayat yang juga turun pada bulan Ramadhan, yaitu ayat 1-5 dalam surat Al-Alaq.
Menurut Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Amerika ini, peradaban Islam adalah peradaban baca tulis, peradaban nuun, peradaban qolam. Peradaban baca tulis atau teks ini tidak sebatas teks dalam pengertian literal namun juga sekaligus teks kauniyah, teks alam. Pada waktu turun ayat ini, Nabi Muhammad tidak tau apa yang dibaca, karena memang tidak ada teks yang harus dibaca. Artinya, Nabi Muhammad diperintahkan untuk membaca situasi, membaca masyarakat, membaca alam. Maka, strategi untuk membangun peradaban adalah dengan pendidikan.
“Pendidikan tidak sekedar ta’lim atau transfer pengetahuan, tapi juga tarbiyah, perbaikan akhlak, dan juga tahsin, pengajaran kemampuan profesional, lifeskill, kemampuan hidup di dunia. Termasuk berhubungan dengan banyak orang”, ujarnya.
Ketiga, menurut Muhammad Ali, peradaban Islam, dalam konteks ramadhan, adalah peradaban yang lahir dari besarnya pikiran. Ada sebuah hadits yang cukup menarik yang artuinya “orang yang lapar perutnya, itu fikirannya besar”. Jadi, gagasan-gagasan besar muncul ketika seseorang sedang lapar. Di Amerika, lapar justru berarti menderita. Sehingga mereka heran terhadap umat Islam yang tahan untuk tidak minum dan makan selama beberapa jam. Muhammad Ali menceritakan bahwa jika ia sedang lapar dan haus, ia justru bisa produktif menulis.
Ada juga barokah dalam Ramadhan. Konsep barokah bukan hanya bersifat fisik tapi juga psikologis. Pada bulan Ramadhan, semua orang wajib melaksanakan puasa terlepas dari kelas sosialya masing-masing. Menurut marxis, jangan ada kelas. Islam tidak menawarkan classless society, namun menawarkan distribusi kekayaan yang merata, bukan hanya segelintir orang yang merasakan kekayaan peradaban. Muhammad Ali mengutip Al-Hasyr ayat 7 yang artinya “agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja diantara kamu”.
Profesor Islamic Studies di University of California ini mengatakan bahwa yang juga menarik adalah tentang Islam masa awal. Ia mengutip pendapat Robert N Bellah yang menggambarkan kondisi umat Islam pada zaman Nabi Muhammad. Etos masyarakat awal Islam yang paling dominan adalah dunia aktivis sosial politik. Pembangunan Islam merupakan pembangunan yang bukan berorientasi pada ilahiyah transendental semata, tetapi juga dunia.
“Etos masyarakat Islam awal adalah aktivis, tidak pasif, sosial, dan politik. Salah satu kelebihan umat masa awal adalah tingginya tingkat komitmen partisipasi dari semua warga, semua anggota umat. Jadi bukan otoritarianisme atau totalitarianisme, tapi public partisipation. Dari mulai unit yang paling kecil hingga palign besar. Peradaban jamai. Lita’arofu, saling mengenal dan tolong-menolong”, tegasnya.
Muhammad Ali mengutip Said Nursi yang menulis bahwa prinsip-prinsip peradaban Qurani itu bersifat positif. Mengacu pada kebenaran bukan kekuasaan, keadilan dan kesimbangan, cinta dan kebahagiaan, kerjasama bukan konflik dan pembunuhan, solidaritas bukan nafsu. Peradaban Qurani Juga menolak rasisme. Salah satu kelemahan peradaban barat adalah rasisme. Bahwa ras putih lebih tinggi daripada ras lain. Dan Islamophobia adalah salah satu bentuk rasisme.
Muhammad Ali mengajak peserta pengajian untuk melihat 3 blueprint peradaban Islam. 3 blueprint itu adalah ijtihad, tajdid, dan islah. Ijtihad adalah memfokuskan pemikiran. Tajdid berarti reformasi semua bidang kehidupan, islah adalah merekonsiliasi hal-hal yang belum selesa seperti konflik internal umat Islam.
reporter: Yusuf R Yanuri