KALIMAHSAWA.ID – Pada tanggal 9 April 2020, Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah bersama Jaringan Intelektual Berkemajuan mengadakan diskusi daring dengan tema Nasib Islam Moderat Pasca Reformasi. Yang menjadi pembicara dalam diskusi tersebut adalah Ahmad Fuad Fanani dan Andar Nubowo. Menurut Andar, Islam moderat diambil dari Islam washatiyah, merujuk pada surat Al-Baqoroh ayat 143 yang berbunyi wa kadzalika ja’alnakum ummatan wasathan litakuunu syuhadaa ‘ala an-naas wa yakuuna ar-rasuulu ‘alaikum syahiida… (dan demikianlah kami jadikan kalian sebagai umat pertengahan, agar menjadi saksi bagi semua manusia, dan Rasul menjadi saksi atas kalian semua).
baca juga: Menyoal Kembali Privatisasi Air
Pengertian Islam Moderat
Para ulama menyampaikan bahwa konteks ayat tersebut turun adalah ketika nabi Muhammad sedang salat kemudian turun wahyu. Waktu itu nabi Muhammad salat masih menghadap Masjidil Aqsa, dengan turunnya sekelompok ayat itu, nabi diperintahkan untuk merubah arah kiblat ke Masjidil Haram.
Andar mengutip pendapat Al-Alusi dan az-Zuhaili yang mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa orang Islam adalah umat wasatiyah atau moderat. Islam hadir untuk memvalidasi ajaran-ajaran Yahudi dan Nasrani yang sesuai dengan ajaran monoteisme, sekaligus menjadi saksi atas agama lain terhadap penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan Yahudi dan Nasrani.
“Ayat ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang tengahan (wasath), supaya menjadi saksi atas seluruh manusia. Islam adalah agama yang lahir untuk semua umat manusia, menegaskan tauhid monoteismenya yang berbeda dengan ajaran politeisme. Sinonimnya dalam Lisanul ‘Arob adalah ausat, qosdun, dan iqtisodun yang artinya moderat, tengahan, tidak sembrono, tidak berlebihan, sedang-sedang saja”, ujar Andar.
Andar mengatakan bahwa dalam bahasa arab, wasath disebut dengan fi’il transitif atau fi’il muta’adi yang tidak bisa berdiri sendiri. Wasatiyah bisa menjadi instrumentalisasi politik, karena memang membutuhkan objek yang lain.
Dalam konteks Indonesia, menurut Andar, penggunaan Islam wasatiyah cenderung baru. Karena Islam wasatiyah baru mendapatkan momentum pasca reformasi. Setelah reformasi, muncul kelompok ekstrimisme kanan, yang kemudian menjadikan moderatisme Islam ini sebagai alternatif, meskipun sebelum muncul ekstrimis kanan, Islam Indonesia sudah bercorak wasatiyah. Artinya, Islam wasatiyah ini di konstruksi ulang untuk membendung gerakan ideologi transnasional yang melahirkan ekstrimisme keagamaan.
Ciri-ciri Islam wasatiyah menurut Andar adalah syaja’ah (berani), memiliki pengetahuan, yang dengan pengetahuan ini menjadi dasar keberanian. Kedua, tawazun, tawasuth, menjadi saksi bagi semua karena berada di tengah. Secara ideal, Islam moderat adalah konsep yang menjadi ciri khas dari agama Islam.
Tantangan Islam Moderat
Jokowi, menurut Andar, melakukan instrumentalisasi terhadap Islam wasatiyah. Islam wasatiyah adalah Islam yang seolah-olah diakui oleh negara, yang kemudian digunakan untuk memukul kelompok ekstrimisme keagamaan, untuk kepentingan pemerintah. Instrumentalisasi politik ini berdampak negatif apabila dilakukan oleh rezim. Misalnya Islam moderat digunakan oleh kelompok tertentu, untuk meraup suara politik.
Andar mengatakan bahwa akibat dari instrumentalisasi politik adalah benturan antar kelompok Islam wasatiyah. Contohnya adalah NU & Muhammadiyah yang seolah-olah sedang berebut tafsir Islam wasatiyah. Muhammadiyah menggunakan terminologi Islam Berkemajuan, pun dengan NU yang mengklaim bahwa NU adalah paling moderat dengan Islam Nusantara.
Andar mengatakan:
Instrumentalisasi Islam moderat juga menyebabkan polarisasi kutub keagamaan. Masyarakat beropini bahwa yang moderat hanyalah NU & Muhammadiyah, dan yang lainnya seolah-olah tidak moderat. Kelompok lain ini adalah seperti MMI, HTI, FPI, dan lain sebagainya. Mereka ini, kalau kita tanya juga akan mengaku sebagai Islam moderat. Nah, disini menimbulkan kebingungan mana Islam yang moderat itu. Maka Islam moderat menjadi kontestasi makna.
Trend Ustadz Medsos
Islam moderat juga mendapatkan tantangan dari munculnya kelompok ustadz-ustadz baru melalui media sosial. Dulu, NU & Muhammadiyah awalnya agak kerepotan di sini karena kurang melek media. Namun, menurut Andar, sekarang NU & Muhammadiyah sudah mulai mengakuisisi kembali ruang publik.
baca juga: Di Atas Semuanya adalha Ukhuwah Islamiyah
Islam wasatiyah juga kehilangan resources. Resources yang harus dikembangkan adalah bagaimana mengembangkan atau memperkuat jaringan Islam wasatiyah dalam konteks lokal Indonesia maupun konteks internasional. Ketersediaan dana untuk membangun jaringan Islam wasatiyah dalam konteks internasional menjadi salah satu faktor penting mengapa Islam wasatiyah masih kalah dengan ustadz-ustadz baru yang menguasai media sosial dan kelompok Islam transnasional baru.
Memperluas Lingkaran Islam Moderat
Menurut Andar, Islam wasatiyah perlu dimaknai ulang. Kita harus mencoba untuk bersikap tasammuh terhadap kelompok lain, mencoba membangun komunikasi dengan internal umat Islam. Yusuf Qardhawi dan Wahbah Zuhaili merupakan salah satu penulis Islam wasatiyah. Maka tidak heran jika kelompok tarbiyah yang mengambil referensi dari Yusuf Qardhawi dan Wahbah Zuhaili juga mengklaim sebagai Islam wasatiyah.
Wahdah Islamiyah yang sekarang berkembang luas juga mengklaim sebagai Islam wasatiyah. FPI mengklaim diri sebagai Islam wasatiyah. Kalau kita membaca argumen-argumen dari kelompok salafi, mereka juga mengatakan bahwa mereka adalah Islam wasatiyah. Disinilah tantangan Islam moderat yang sekarang muncul dalam konteks Indonesia dan dunia Islam umumnya.
reporter: Yusuf R Yanuri