Gus Pur, sapaan akrab Agus Purwanto, turut menjadi pembicara dalam Seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Acara ini mengangkat tema “Pendidikan Holistik: Ijtihad Muhammadiyah Abad Kedua”. Agus Purwanto adalah pendiri Trensains sekaligus penulis buku Ayat-Ayat Semesta.
Gus Pur memulai dengan penjelasan tentang sejarah kepesantrenan. Kalau dilihat dari sisi sejarah kepesantrenan, Pendidikan tertua di Indonesia adalah Pendidikan salaf, yang muncul di Klaten sekitar 500 tahun yang lalu. Pesantren Sidogiri kemudian menyusul berdiri sekitar tahun 1745 M. Pesantren ini fokus pada pengkajian kitab-kitab salaf klasik.
Era selanjutnya muncul. Ini terjadi ketika ada perlawanan terhadap kolonialisme yang dipelopori oleh Gontor. Di era ini mulai dimasukkan kurikulum modern kedalam pesantren. Benar bahwa Gontor masih fenomenal sampai hari ini. Namun, Gontor belum berbicara masa depan yang lebih jauh.
Baca Juga: Memupuk Kemesraan: Refleksi Singkat Film “Jejak Langkah Dua Ulama”
“Masa depan yang lebih jauh, yang tidak dapat dijawab oleh Gontor, akan coba dijawab oleh Trensains” ujar Gus Pur. Gus Pur bertanya kepada peserta, “apa itu masa depan yang lebih jauh?” Masa depan kita adalah ilmu pengetahuan. Kita tidak bisa lepas dari ilmu pengetahuan. Gus Pur menceritakan 3 benda fenomenal.
3 Contoh Peranti Kemajuan
Pertama, Lack Hadron Collider. Lab ini beberapa waktu yang lalu digunakan untuk mengetahui partikel Tuhan. Terletak di Jenewa, Swiss. Ini adalah laboratorium dengan keliling 27 Km, berada pada kedalaman 100 M dibawah permukaan tanah. Ini tidak pernah di bayangkan oleh anak didik di Indonesia, tidak pernah dibayangkan oleh sekolah unggulan Muhammadiyah manapun.
Kedua, laboratorium bernama Super-Kamiokande. Ini adalah lab yang terletak 1 Km di bawah permukaan tanah. “Disekelilingnya ada multiplayer berjumlah 11.146 biji. Masing-masing berdiameter 51 Cm. Yang digunakan untuk memperkuat sinyal, karena sinyal di bawah permukaan tanah sangat lemah. Di bawah lab itu ada 50 ribu ton air murni H2O tanpa karbon, nitrogen, tisu, cotton bud, dan lain-lain”. Kelakar Gus Pur yang disambut gelak tawa peserta seminar.
Ketiga, Gus Pur, menceritakan tentang Teleskop yang mengorbit 500 Km di atas bumi. Teleskop ini dibuat 10.000 ilmuwan di Amerika dalam kurun waktu 20 tahun, dan menghabiskan anggaran sebanyak 2 Mliar dolar.
Gus Pur melanjutkan bahwa teleskop tadi mampu menghasilkan gambar yang mempermudah umat Islam memahami ayat-ayat alam. Di mana tanpa alat tersebut, ayat itu terlihat seperti dongeng. Misalnya, dalam surat Ar-Rahman ayat 37, tentang langit yang terbelah dan menjadi merah mawar seperti kilauan minyak. Apa yang dipahami dari ayat ini oleh para ulama? Pemahaman tentang ayat ini hanya bisa didapatkan dari teleskop tadi.
Latar Belakang Munculnya Trensains
“Sekolah unggulan mana di Muhammadiyah yang sudah punya teleskop?” tanya Gus Pur dengan pertanyaan yang menohok. Gus Pur mengatakan bahwa 3 peranti diatas seolah-olah sedang menjalankan perintah surat Ar-Rahman ayat 33 yang artinya “wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan dari Allah”.
Indonesia sudah punya sekian banyak pesantren tahfidz dan memiliki banyak penghafal Alquran. “setelah para santri mengkaji ayat itu tadi, mereka langsung tertidur pulas.” Kelakar Gus Pur.
Gus Pur menampilkan data konsumsi masyarakat Indonesia terhadap sepeda motor. Dari tahun 2006 sampai 2017, 82 juta sepeda motor terjual di pasar Indonesia. Dan semua sepeda motor berasal dari Jepang. Mobil tidak jauh berbeda.
100.000 unit mobil terjual di Indonesia dari tahun 2006 sampai 2017. Dan itu semua bukan produk dalam negri. “Terus kemampuan insinyur kita dari ITB, ITS, UGM, UI, bahkan UMP bisa membuat apa? Terus apa yang kita unggulkan? Apa yang kita banggakan sebenarnya?” Tanya Gus Pur.
Di sisi lain, dunia Islam hanya punya 3 pemenang nobel. Dan mereka bertiga menempuh studi dan menetap di Amerika. Hal ini terjadi karena jika menetap di negara sendiri, kurang dimanfaatkan dengan baik. “Kalau menetap di negara sendiri jadi apa? Seperti saya paling-paling jadi anggota Majelis Tarjih PP Muhammadiyah.” Kelakar Gus Pur.
Untuk menjawab itu semua, maka kemudian Gus Pur membangun Trensains. Yaitu pesantren yang memadukan pecinta Al-Quran dan sains. Sekolah pecinta Al-Quran sudah banyak melalui program tahfidz. Yang menjadi masalah adalah bahwa sampai sekarang masih ada pandangan yang mengatakan bahwa sains itu ilmu kafir.
Baca Juga: Robby Abror: Rancang Bangun Filsafat Pendidikan Muhammadiyah
Mereka berargumen bahwa di kuburan besok, kita tidak ditanyai oleh Malaikat apakah kita sudah hafal hukum Newton atau belum. Menurut Gus Pur, ini adalah problem teologis yang cukup serius. Maka, kurikulum Trensains adalah tidak sekedar sains masuk kedalam kurikulum. Namun, memasukkan dialektika antara agama dan sains. Karena itu, filsafat masuk dalam kurikulum. Visinya adalah memiliki alumni yang masuk dalam bidang-bidang kealaman.
Problem Peradaban
Penulis buku Ayat-Ayat Semesta ini mengatakan bahwa didalam Alquran, terdapat 800 ayat dengan redaksional alam, dan itu 5 kali lebih banyak daripada ayat yang membahas fiqh. Sayangnya para ulama menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan dana untuk membahas ayat-ayat fiqh yang jumlahnya 160 ayat.
Secara tidak langsung inilah yang membuat dunia Islam menjadi lumpuh. Karena, kita tidak dapat mengelola sumber daya alam sendiri. Ketika mengelola SDA kita harus mendapatkan insinyur asing. Sedangkan tidak ada insinyur yang tidak dibayar. Dari sini muncullah kolonialisme. Maka, menurut Gus Pur, sangat perlu untuk didirikan Trensains.
Yang membedakan Trensains dengan pesantren manapun di dunia adalah adanya dialektika sains dan agama, yang lahir dari Muhammadiyah, dimana sebenarnya Muhammadiyah tidak memiliki tradisi pesantren.
Dialektika yang ingin dikembangkan oleh Gus Pur adalah bagaikana teks-teks dalam Kitab Suci dapat menjadi epistemologi. Caranya adalah, setiap teks diberi pertanyaan kritis logis, kemudian diberikan hipotesa. Setelah itu, dilakukan observasi atau eksperimen, kemudian dibuat konseptualisasi.
Redaktur: Yusuf R Yanuri