Sebagaimana banyak tulisan tentang guru berseliweran di media sosial, sampai pada pemahaman bahwa betapa banyak orang-orang hebat tercipta dari tangan yang berbalut kasih sayangnya. Banyak orang suksespun tercipta dari didikannya yang berbalut hati yang suci nan bersahaja.
Guru adalah sosok yang mulia. Dalam dirinya banyak begitu banyak uswah. Caranya mengajar, caranya mendidik, caranya meneladani, caranya menjaga diri, caranya saling menghormati dan saling menghargai, dan semuanya itu terangkum dalam kata “Guru”.
Hari ini penulis berkunjung pada Ibu, sedikit bercerita tentang guru, Ibupun bicara, dan ibupun berpesan “Doakanlah para gurumu dahulu, darinya kaupun sekarang menjadi guru. Jadilah guru yang guru, semoga cucu-cucuku kelak menjadi apapun yang mereka inginkan yang berjiwa guru, jika ia menjadi pengusaha, ya jadi pengusaha yang guru, jadi dosen yang guru, jadi dokter yang guru, jadi insinyur yang guru, jadi tentarapun yang guru”.
Pitutur ibu itu terdapat satu hal yang dapat ditangkap, bukankah Ibu adalah seorang guru? Bukankah guru juga mengajarkan berdoa, mengajarkan adab dan etika, mengajarkan kesederhanaan dalam sikap? Memang benar adanya bahwa banyak sekali orang hebat yang tercipta dari tanga sang Guru.
Namun, bukankah guru yang hebat itupun terlahir dari seorang ibu? Penulispun menjadi teringat syair karya Hafidz Ibrahim bahwa “Seorang ibu adalah madrasah yang apabila engkau mempersiapkannya berarti engkau menyiapkan generasi yang hebat. Seorang ibu adalah guru pertama dari semua guru pertama, yang pengaruhnya meliputi seluruh jagat raya”.
Menjadi ibu memang tidak berijazah, tapi bukankah tak butuh ijazah untuk berjasa lebih banyak?
Selamat Hari Guru Mudah-mudahan dengan Ilmu-mu mampu mengantarkan generasi yang lebih maju untuk peradaban yang berkemajuan.
Ditulis oleh Novriyani (seorang Guru di MI Muhammadiyah Srebegan Klaten)