Oleh: Adram Qaisullah T.
Pelantikan Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden membuka sebuah paradoks menarik dalam hubungan antara intelektual dan kekuasaan. Selama bertahun-tahun Rocky dikenal sebagai figur yang selalu mengambil posisi kritis terhadap kekuasaan. Kini, ia justru berada di dalam struktur yang memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden. Setelah pelantikan, Rocky Gerung menyatakan bahwa wantimpres memiliki fungsi untuk bersikap kritis terhadap kebijakan.
Secara normatif tidak ada kontradiksi di sana. Justru secara kelembagaan wantimpres memang dibentuk untuk memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden. Namun, persoalannya menjadi lebih rumit ketika kita membawa pertanyaan yang lebih mendasar: “apa yang terjadi ketika seorang pengkritik kekuasaan masuk ke dalam struktur yang sebelumnya ia kritik?”
Di sinilah konsep kooptasi intelektual menjadi relevan. Kooptasi tidak selalu berarti seseorang secara sadar meninggalkan prinsipnya. Kekuasaan tidak selalu membungkam kritik dengan represifitas. Terkadang cukup dengan mengundang kritik tersebut masuk ke dalam ruangnya. Kritik yang sebelumnya berada di luar struktur kemudian memperoleh kursi, akses dan posisi institusional. Pada tahap tertentu, kritik tidak lagi berdiri berhadapan dengan kekuasaan, melainkan mulai bekerja di dalam mekanisme kekuasaan.
Asumsikan bahwa Rocky Gerung telah kehilangan daya kritisnya setelah bergabung dengan struktur kekuasaan, persoalannya bukan sekadar bahwa Rocky Gerung berubah. Persoalannya jauh lebih serius: jarak yang memungkinkan seseorang mengkritik kekuasaan telah mengalami perubahan.
Yuval Noah Harari melalui Nexus memberi kita perspektif yang menarik untuk memahami persoalan ini. Harari melihat manusia bukan sebagai individu yang berdiri sepenuhnya di luar sistem, melainkan sebagai bagian dari jaringan informasi yang memungkinkan masyarakat membangun institusi, birokrasi, negara dan berbagai bentuk organisasi. Manusia menciptakan jaringan tersebut, tetapi pada saat yang sama jaringan itu juga membentuk perilaku manusia di dalamnya.
Bayangkan sebuah jaring laba-laba. Kita cenderung membayangkan manusia sebagai laba-laba yang berada di luar jaring dan bebas menentukan ke mana ia bergerak. Padahal, dalam kehidupan sosial, manusia merupakan pembuat dan simpul dari jaring tersebut. Ketika seseorang berpindah posisi di dalam jaringan, bukan hanya tempat duduknya yang berubah tetapi juga relasi, informasi, kepentingan, tanggung jawab dan cara ia memandang realitas juga dapat ikut berubah.
Dalam konteks Rocky Gerung, persoalannya kemudian menjadi lebih kompleks. Ketika seorang kritikus masuk ke dalam institusi kekuasaan, ia tidak sekadar membawa gagasan kritis ke dalam institusi. Ia juga menjadi bagian dari jaringan informasi dan pengambilan keputusan yang sebelumnya ia amati dari luar.
Di sinilah buah pikir Michel Foucault menjadi relevan. Pengetahuan tidak pernah sepenuhnya berada di luar relasi kekuasaan. Ia diproduksi, disebarkan dan digunakan dalam jaringan kekuasaan tertentu. Maka pertanyaannya bukan hanya apakah Rocky masih memiliki pengetahuan kritis, melainkan bagaimana posisi barunya mengubah relasi antara pengetahuan dan kekuasaan.
Harari memperluas persoalan ini: dalam jaringan sosial, informasi dapat membentuk keputusan kolektif, sementara institusi dapat membentuk cara informasi diproduksi dan disirkulasikan. Nexus secara khusus membahas bagaimana masyarakat dan sistem politik menggunakan jaringan informasi untuk mencapai tujuan sekaligus membangun keteraturan.
Dengan demikian, ancaman terhadap daya kritis seorang intelektual tidak selalu datang dalam bentuk larangan berbicara. Ia bisa berubah bentuk menjadi lebih halus: perubahan posisi di dalam jaringan itu sendiri. Namun, masuk ke dalam kekuasaan tidak otomatis berarti kehilangan independensi. Seorang intelektual bahkan mungkin memiliki pengaruh lebih besar ketika berada dekat dengan pusat pengambilan keputusan. Persoalannya adalah apakah ia masih memiliki keberanian epistemik untuk mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar oleh kekuasaan.
Karena itu, ukuran independensi Rocky Gerung nantinya bukan sekadar seberapa tajam pernyataannya di depan kamera, justru terletak pada sesuatu yang mungkin tidak pernah terlihat oleh publik: apakah ia masih mampu mempertahankan ketidaknyamanan intelektual di dalam jaringan yang kini menjadi bagian dari dirinya sendiri?
Sebab, manusia tidak pernah benar-benar berdiri di luar sistem. Kita membangun institusi, lalu institusi membentuk kita: kita menciptakan jaringan informasi, lalu jaringan tersebut menentukan bagaimana informasi sampai kepada kita. Dalam pengertian inilah kritik dapat kehilangan jaraknya bukan karena seseorang berhenti berpikir tetapi karena ia telah menjadi bagian dari struktur yang sebelumnya ia amati dari luar.
Maka persoalan Rocky Gerung bukan hanya tentang dirinya. Ia adalah persoalan yang lebih besar mengenai nasib intelektual ketika berhadapan dengan kekuasaan dan jaringan yang membentuknya.
Pertanyaan pamungkasnya bukan lagi: “Apakah Rocky sekarang menjadi bagian dari pemerintah?” melainkan: “Ketika seorang pengkritik memperoleh tempat di dalam jaring kekuasaan, apakah ia masih mampu membaca jaring tersebut dari luar atau ia telah menjadi salah satu simpul yang membuat jaring itu terus bekerja?”
Pada akhirnya, kegusaran publik terhadap posisi baru Rocky Gerung dapat dipahami sebagai bentuk kewaspadaan terhadap relasi antara intelektual dan kekuasaan. Namun, kegusaran tidak perlu segera berubah menjadi vonis. Masuknya seorang kritikus ke dalam struktur kekuasaan bukan berarti membuktikan bahwa kritiknya telah mati. Sebagaimana manusia menjadi bagian dari jaringan yang ia bangun sendiri, seorang intelektual pun tidak pernah sepenuhnya berada di luar sistem yang hendak ia kritik.
Karena itu, yang perlu dilakukan bukan terburu-buru menjustifikasi “kematian” Rocky Gerung sebagai seorang kritikus, melainkan memberinya ruang untuk membuktikan posisi barunya melalui tindakan. Apakah ia akan menjadi bagian dari mekanisme yang membuat kekuasaan semakin nyaman terhadap kritik, atau justru menjadi suara yang membuat kekuasaan terusik dari dalam, hanya waktu yang dapat menunjukkannya.
Publik tidak perlu kehilangan daya kritisnya tetapi juga tidak perlu kehilangan ketenangannya. Kecurigaan boleh tetap hidup, tetapi penilaian sebaiknya menunggu bukti. Sebab, kritik yang matang tidak lahir dari kegaduhan, melainkan dari kemampuan untuk mengamati, menguji dan kemudian menyimpulkan.