KALIMAHSAWA.ID, SURAKARTA – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Muhammad Abduh Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta https://www.ums.ac.id/ (UMS) menggelar Sekolah Tarjih pada Sabtu – Ahad (10-11/10/2026). Mengangkat tema “Antara Kebijakan Negara dan Kemaslahatan Umat: Bagaimana Tarjih Muhammadiyah Memandangnya?”, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi kader untuk memahami etika bernegara dan kebijakan publik melalui perspektif manhaj Muhammadiyah.
Ketua Panitia Sekolah Tarjih 2026, Muhammad Al Fathin, mengatakan kegiatan tersebut membahas etika bernegara, kebijakan negara dalam perspektif manhaj Muhammadiyah, serta tinjauan maqashid syariah.
Materi yang disampaikan diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta dalam memahami persoalan sosial dan menerapkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat.
“Sekolah Tarjih 2026 ini membahas bagaimana etika bernegara, bagaimana kebijakan negara dari sudut manhaj Muhammadiyah, etika bernegara dan tinjauan dari maqashid syariah, yang di mana bisa kita terapkan di kehidupan sosial masyarakat,” ujarnya, Selasa (13/10/2026).
Ia menambahkan, pemahaman mengenai etika bernegara dan maqashid syariah penting untuk membangun kehidupan sosial yang berkeadaban dan berkeadilan.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memahami hubungan agama dan negara secara teoritis, tetapi juga mampu menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan dalam menyikapi berbagai persoalan di masyarakat.
Sementara itu, Ketua Umum IMM FAI UMS, Handito Putro, menegaskan pentingnya menumbuhkan kesadaran politik di tengah masyarakat dengan menjadikan perspektif Muhammadiyah sebagai salah satu landasan berpikir.
Menurutnya, kesadaran politik diperlukan agar masyarakat mampu memahami dinamika politik secara kritis dan bijaksana, sekaligus mempertimbangkan kepentingan umat dan bangsa.
“Sekarang ini kita perlu menanamkan kesadaran politik, dengan memandang dari perspektif Muhammadiyah, agar kita bisa memahami dinamika politik secara kritis dan bijaksana,” ungkapnya.
Selain penyampaian materi, Sekolah Tarjih 2026 juga diisi dengan Focus Group Discussion (FGD) yang mendorong peserta terlibat aktif dalam diskusi dan debat. Kegiatan tersebut turut mencakup penyetoran ayat-ayat perkaderan serta pembuatan video dakwah dengan beragam tema.
Rangkaian aktivitas ini menjadi sarana bagi peserta untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memperkuat pemahaman keislaman, dan menyampaikan gagasan dakwah secara kreatif.
Salah satu peserta, Inast Nailus Syahidah, mengungkapkan bahwa Sekolah Tarjih memberikan banyak wawasan dan membantu memperdalam pemahaman agama. Baginya, kegiatan tersebut tidak hanya menekankan hafalan, tetapi juga mengajak peserta memahami ajaran Islam secara lebih bijaksana dan kontekstual.
“Menurutku, Sekolah Tarjih adalah tempat yang sangat bermanfaat untuk memperdalam pemahaman agama, bukan sekedar menghafal, tetapi memahami dengan bijak,” tuturnya.
Ia menjelaskan, materi etika bernegara memberinya pemahaman tentang cara menjadi warga negara yang baik tanpa meninggalkan prinsip-prinsip keagamaan. Sementara materi ushul fikih membantunya memahami dasar-dasar penentuan hukum agar tidak mudah terpengaruh oleh pendapat yang belum jelas sumbernya.
Adapun materi etika dan regulasi hukum menyadarkannya tentang pentingnya menegakkan hukum dengan adil, hati-hati, dan tidak merugikan pihak lain.
“Semoga ilmu yang aku dapat bisa aku amalkan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
Melalui Sekolah Tarjih 2026, IMM Muhammad Abduh FAI UMS berupaya memperkuat pemahaman kader terhadap manhaj Muhammadiyah dalam menyikapi kebijakan negara dan persoalan kemasyarakatan.
Kegiatan ini diharapkan dapat melahirkan kader yang memiliki pemahaman keislaman yang mendalam, kesadaran politik yang kritis, serta komitmen untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan bangsa. (Milka/Adi/Humas)