KALIMAHSWA.ID, Surakarta – Pembentukan karakter religius menjadi salah satu bagian penting dalam pendidikan di sekolah. Hal tersebut tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di dalam kelas, tetapi juga melalui berbagai kegiatan pembiasaan yang dilakukan secara rutin. Salah satunya diterapkan di SMA Batik 2 Surakarta melalui pembiasaan membaca Al-Qur’an dan program wajib Baca Tulis Al-Qur’an (BTA) bagi peserta didik.
Kegiatan pembiasaan Al-Qur’an menjadi salah satu upaya sekolah dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada peserta didik. Melalui kegiatan tersebut, siswa dibiasakan untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an sehingga membaca Al-Qur’an tidak hanya dilakukan ketika pembelajaran PAI, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas keseharian di lingkungan sekolah.
Program BTA juga menjadi salah satu bentuk perhatian sekolah terhadap kemampuan dasar keagamaan peserta didik. Kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an merupakan keterampilan yang penting untuk menunjang pemahaman siswa terhadap ajaran Islam. Oleh karena itu, sekolah memberikan ruang bagi peserta didik untuk belajar dan meningkatkan kemampuan BTA sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Dalam pelaksanaannya, pembiasaan Al-Qur’an tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca, tetapi juga diharapkan dapat membentuk sikap dan karakter peserta didik. Kebiasaan membaca Al-Qur’an secara rutin dapat menjadi sarana untuk menanamkan kedisiplinan, ketekunan, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Nilai-nilai tersebut kemudian diharapkan dapat tercermin dalam perilaku siswa di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Program wajib BTA juga menjadi bagian dari upaya sekolah untuk memberikan pendampingan kepada siswa yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an yang beragam. Setiap peserta didik memiliki latar belakang dan pengalaman belajar Al-Qur’an yang berbeda. Karena itu, kegiatan BTA dapat menjadi sarana untuk membantu siswa meningkatkan kemampuan mereka secara bertahap.
Berdasarkan pengamatan selama kegiatan Praktik Lapangan Persekolahan (PLP), pembiasaan keagamaan tersebut memberikan suasana yang mendukung terbentuknya lingkungan sekolah yang religius. Kegiatan membaca Al-Qur’an dan BTA menjadi bagian dari proses pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga memperhatikan perkembangan sikap dan karakter peserta didik.
Guru PAI memiliki peran penting dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Guru tidak hanya memberikan materi keagamaan di kelas, tetapi juga memberikan arahan dan pendampingan kepada siswa dalam meningkatkan kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an. Keteladanan guru menjadi salah satu faktor penting agar pembiasaan yang dilakukan dapat berjalan secara konsisten.
Pembiasaan Al-Qur’an dan program wajib BTA di SMA Batik 2 Surakarta menunjukkan bahwa pendidikan karakter religius dapat dibangun melalui kegiatan sederhana yang dilakukan secara rutin. Kebiasaan membaca, belajar, dan berinteraksi dengan Al-Qur’an diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta didik dalam menjalani kehidupan sekaligus membentuk generasi yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang baik.
Melalui kegiatan PLP, mahasiswa juga memperoleh pengalaman secara langsung mengenai bagaimana sekolah membangun budaya religius melalui pembiasaan. Pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung melalui kegiatan pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga melalui budaya dan kebiasaan positif yang dibangun bersama oleh seluruh warga sekolah.
Kontributor: M Hasbi