KALIMAHSAWA.ID, LAMONGAN – Sosok Helmi Rohmanto menunjukkan bahwa kerja keras tidak mengenal batas profesi. Di tengah kesibukannya memimpin MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi, Lamongan, ia masih menyempatkan diri mengelola usaha cuci motor dan cuci karpet yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun.
Bagi masyarakat sekitar, Helmi dikenal sebagai kepala madrasah. Namun, setelah aktivitas sekolah berakhir, ia berganti peran menjadi pelaku usaha yang melayani pelanggan di tempat cuci motor dan karpet miliknya.
Rutinitas itu dijalaninya untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus mendukung biaya pendidikan yang sedang ditempuhnya. Pagi hari ia mengurus berbagai program pendidikan di madrasah, mendampingi guru, dan memastikan kegiatan belajar mengajar berjalan optimal. Sore harinya, ia kembali bekerja melayani pelanggan yang datang silih berganti.
Dengan selang air di tangan dan pakaian kerja yang berbeda dari kesehariannya di lingkungan sekolah, Helmi menjalani pekerjaan yang tidak lazim dilakukan oleh seorang kepala madrasah. Namun, baginya tidak ada pekerjaan yang rendah selama dilakukan secara halal dan bertanggung jawab.
“Setiap pekerjaan memiliki nilai kemuliaan jika dijalankan dengan jujur. Yang terpenting adalah bagaimana kita tetap berusaha dan memberikan manfaat,” ujar Helmi.
Perjuangan panjang itu akhirnya berbuah hasil. Pada Senin (1/6), Helmi resmi menyandang gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) setelah menuntaskan studi pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).
Gelar tersebut diraih di tengah padatnya aktivitas sebagai kepala madrasah sekaligus pengelola usaha. Berbagai tugas perkuliahan, penelitian, hingga penyusunan karya ilmiah harus diselesaikan di sela kesibukan sehari-hari.
Tidak jarang waktu istirahat harus dikorbankan. Ada kalanya pekerjaan di madrasah, aktivitas usaha, dan tugas akademik datang bersamaan. Meski demikian, kondisi itu tidak menyurutkan tekadnya untuk menyelesaikan pendidikan hingga jenjang magister.
Menurut Helmi, usaha cuci motor dan cuci karpet yang dijalankannya bukan sekadar sumber tambahan penghasilan. Dari usaha tersebut, ia belajar tentang disiplin, kesabaran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Ia meyakini bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh besarnya fasilitas yang dimiliki seseorang. Kemauan untuk terus belajar dan bekerja keras, menurutnya, menjadi kunci penting dalam meraih cita-cita.
“Setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing. Saya hanya berusaha menjalani apa yang menjadi tanggung jawab saya dengan sebaik-baiknya. Yang terpenting adalah tidak berhenti berikhtiar dan tidak berhenti belajar,” katanya.
Bagi keluarga besar MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi, pencapaian tersebut menjadi sumber inspirasi. Para guru dan siswa tidak hanya melihat keberhasilan kepala madrasah mereka meraih gelar magister, tetapi juga menyaksikan langsung bagaimana kerja keras dan semangat belajar dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Kisah Helmi menjadi pengingat bahwa keberhasilan sering kali lahir dari proses panjang yang dijalani dengan konsisten. Dari ruang madrasah hingga tempat cuci motor dan cuci karpet, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mengejar pendidikan dan mimpi.
Kontributor: Fathan Faris Saputro