Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Suara Alam yang Sunyi: Refleksi Qs. Ar-rum: 41

Annisa Yasfa Azzahra by Annisa Yasfa Azzahra
April 13, 2026
in Esai, Narasi
0
Suara Alam yang Sunyi: Refleksi Qs. Ar-rum: 41
11
SHARES
64
VIEWS

Oleh: Annisa’ Yasfa Azzahra

Berjalan selama 2 dekade di bumi ini, menyadarkanku bahwa banyak hal di alam ini yang telah berubah. Hari Raya Idulfitri 1447 H menjadi momen penuh kebahagiaan kami, saling bertemu, bercanda, dan bermaaf-maafan. Namun, di tengah perjalanan silaturahmi, muncul satu pertanyaan sederhana yang terus mengganggu pikiranku: mengapa air sungai berwarna cokelat dan dipenuhi sampah? Bukankah seharusnya jernih? Bukankah sungai tidak seharusnya terlihat seperti es cokelat?

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Keresahan itu datang begitu saja. Saat itu juga aku mencoba mencari jawaban dengan search di Google, “kenapa air sungai berwarna cokelat?” Jawaban yang muncul terdengar sederhana: “air sungai berwarna cokelat disebabkan oleh tingginya sedimen seperti lumpur, tanah, dan pasir yang terbawa aliran air akibat erosi, terutama saat hujan deras.” Namun, semakin kupikirkan, penjelasan itu terasa belum cukup. Apakah benar hanya karena faktor alam? Ataukah ada campur tangan manusia yang selama ini kita abaikan?

Keresahan ini ternyata bukan sekadar perasaan pribadi saja. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa kondisi sungai di Indonesia saat ini berada dalam keadaan yang memprihatinkan.

Hasil pemantauan mutu air Semester I tahun 2025 di 4.482 lokasi pada 1.482 sungai di Indonesia menunjukkan bahwa 70,7% sungai berada dalam kondisi tercemar, sementara hanya 29,3% yang memenuhi baku mutu air. Angka ini menjadi bukti bahwa perubahan warna air sungai bukan hanya disebabkan oleh faktor alam semata, tetapi juga akibat akumulasi aktivitas manusia yang terus berlangsung tanpa kontrol yang bijak.

Terkadang alam yang sunyi memberi tanda bahwa ia sebenarnya terluka, ia sebenarnya merasakan sakit yang tiada tara. Bukankah manusia diciptakan sebagai makhluk yang diperintahkan untuk menyembah Allah SWT dan sebagai khalifah di bumi untuk menjaga, merawat, dan melindungi alam (Ahmad Nurrohim dkk. 2024).

Akankah kita sudah melakukan itu? ataukah kita malah membiarkan alam ini sunyi dengan sakitnya?

Dalam Qs. Rum: 41 dijelaskan bahwa

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ۝٤١

Artinya : “Telah terlihat baik di darat ataupun di laut yang disebabkan oleh perbuatan tangantangan manusia itu sendiri, agar mereka merasakan sebagian perbuatan akibat dari ulah mereka sendiri agar mereka kembali ke jalan yang benar”

Al-Qur’an disusun oleh rangkaian lafadz-lafadz yang penuh makna, setiap lafadznya memiliki aksentuasi yang berjenjang dan pemaknaan yang berbeda-beda (Ahmad Nurrohim, Ihsan Nursidik 2020).

Secara tekstual, ayat ini membicarakan bahwa kerusakan-kerusakan yang terjadi di bumi adalah akibat ulah tangan manusia (Hakim dan Munawir 2020). Namun jika ditelaah lebih dalam, ayat ini juga mengandung pesan reflektif dan peringatan moral.

Pada ayat di atas, kata ظَهَرَ asal muasalnya memiliki arti terjadinya sesuatu di permukaan bumi karena terjadi di permukaan bumi sehingga tampak terang dan diketahui secara jelas. Sedangkan kata الْفَسَادُ Quraish Shihab dalam tafsirannya merujuk kepada ulama Al-Ashfahani yang memaknai kata tersebut dengan keluarnya sesuatu dari sebuah keseimbangan, baik dalam porsi sedikit maupun banyak. Kalimat بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ  menunjukkan fenomena terjadinya kerusakan lingkungan dapat mengakibatkan bencana yang disebabkan oleh manusia.

Dalam menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk maka manusia harus memahami isi pesan ayat-ayat yang ada di dalam al-Qur’an (Ahmad Nurrohim dan Serly Tiara Amani 2025).

Dari sini kita mengetahui bahwa sungai yang bukanlah sekadar fenomena yang biasa, tetapi menunjukkan bahwa adanya krisis tanggung jawab manusia untuk alam ini. Adanya penebangan hutan, alih fungsi lahan menjadi tambang, dan eksploitasi yang berlebihan yang kerap dilegitimasi atas nama pembangunan dan kepentingan ekonomi yang menunjukkan bahwa manusia lupa akan perannya menjadi khalifah yang seharusnya bersikap bijaksana (Nurrohim dan Fikri R, 2021).

Lebih jauh lagi, kondisi ini seharusnya menyadarkan kita bahwa kerusakan alam bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan bentuk dari sikap abai manusia terhadap lingkungan. Sungai yang dahulu jernih kini berubah menjadi cokelat, bukan hanya karena faktor alam, tetapi juga karena tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab termasuk kebijakan yang kurang berpihak pada kelestarian lingkungan. Jika dibiarkan, kerusakan ini tidak hanya berdampak pada alam, tetapi juga akan kembali kepada manusia itu sendiri, sebagaimana peringatan dalam QS. Ar-Rum: 41.

Dampak tersebut bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan manusia. Air sungai yang tercemar dapat mengancam kesehatan masyarakat, menyebabkan berbagai penyakit, dan mengganggu kebutuhan dasar manusia terhadap air bersih.

Tidak hanya itu, kerusakan ekosistem sungai juga berdampak pada hilangnya keanekaragaman hayati dan terganggunya keseimbangan lingkungan yang pada akhirnya akan memengaruhi keberlangsungan hidup manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita kembali merefleksikan peran kita sebagai khalifah di bumi. Menjaga lingkungan bukan sekadar tindakan sosial, melainkan juga bentuk ketaatan spiritual kepada Allah Swt dan menunjukkan bahwa al-Qur‘an sebagai petunjuk universal manusia (Nurrohim 2019).

Pada akhirnya pertanyaannya bukan lagi mengapa sungai itu berubah warna, melainkan: sampai kapan kita akan berpura-pura tidak mendengar suara alam yang sunyi itu?

Editor: Zahfa Almedina

Terkait

Tags: alamIndonesiamanusia
Previous Post

Modernitas dan Krisis Makna

Next Post

Peran Content Creator dalam Menyebarkan Tafsir Al-Qur’an di Era Digital

Annisa Yasfa Azzahra

Annisa Yasfa Azzahra

Next Post
Peran Content Creator dalam Menyebarkan Tafsir Al-Qur’an di Era Digital

Peran Content Creator dalam Menyebarkan Tafsir Al-Qur'an di Era Digital

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.