Oleh: Imam Daffa Abdillah
Di zaman di mana semua hal bisa didapatkan hanya dengan satu klik, kesabaran sering kali dianggap sebagai kelemahan atau keterlambatan. Namun, wasiat Luqman al-Hakim kepada anaknya justru mengajarkan sebaliknya, sabar adalah keterampilan hidup paling vital untuk menjaga kesehatan mental dan spiritual kita. Allah Ta’ala Berfirman “Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS. Luqman ayat 17). Ayat ini menunjukkan bahwa kesabaran adalah salah satu sikap utama yang harus dimiliki oleh setiap Muslim, bahkan termasuk dalam “azm al-umur” (perkara-perkara yang sangat penting dan membutuhkan keteguhan hati).
Sabar dalam perspektif pendidikan Islam bukan sekadar menahan diri, melainkan sebuah manifestasi dari kekuatan tauhid yang ditanamkan sejak dini dalam keluarga (Nurrohim, 2019). Perintah sabar ini datang setelah perintah amar ma’ruf nahi munkar karena dalam melakukan dakwah dan kebaikan, seseorang pasti akan menghadapi berbagai tantangan dan ujian yang membutuhkan kesabaran yang luar biasa.
Sabar dalam bahasa Arab berasal dari kata “zabara” yang berarti menahan, mengendalikan, atau menguasai diri. Secara istilah, sabar adalah menahan diri dari keluh kesah, mengendalikan emosi dari kemarahan, dan menguasai jiwa dari putus asa ketika menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi tetap berikhtiar sambil memasrahkan hasil akhir kepada Allah dengan hati yang tenang dan penuh keyakinan.
Penguatan aspek mental ini menjadi pondasi penting dalam kurikulum pendidikan karakter berbasis Al-Qur’an (Nurrohim, 2020).Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga jenis utama yang sangat penting untuk dipahami dan diamalkan:
Pertama, sabar dalam menghadapi musibah (ash-shabru ‘alal mashaib). Ini adalah jenis sabar yang paling sering kita dengar, yaitu kesabaran ketika menghadapi berbagai cobaan dan kesulitan hidup, seperti sakit, kehilangan orang yang dicintai, kegagalan, kemiskinan, dan berbagai musibah lainnya. Kemampuan individu dalam mengelola stres akibat musibahmerupakan bagian dari keterampilan hidup yang harus diajarkan secara aplikatif dalam pendidikan Islam (Nurrahim, 2021).
Allah Ta’ala Berfirman “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’ (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali).” QS. (Al-Baqarah ayat 155-156). Sabar dalam menghadapi musibah berarti tidak mengeluh berlebihan, tidak menyalahkan Allah, tidak putus asa, tetapi tetap yakin bahwa dibalik setiap ujian ada hikmah yang Allah berikan. Kedewasaan dalam menyikapi takdir ini mencerminkan keberhasilan internalisasi nilai-nilai luhur dalam diri seorang pelajar (Nurrohim, 2018). Orang yang sabar dalam musibah akan mengucapkan “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”, mengingat bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, sehingga ia bisa merelakan apa yang telah terjadi sambil terus berusaha mencari jalan keluar.
Kedua, sabar dalam ketaatan (ash-shabru ‘ala ath tha’ah). Ini adalah kesabaran dalam melakukan berbagai bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah, meskipun terkadang berat dan membutuhkan pengorbanan. Kedisiplinan dalam ketaatan ini menjadi kunci utama dalam membentuk habituasi positif pada peserta didik (Nurrohim, 2022). Misalnya, sabar dalam menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya meskipun sedang sibuk atau mengantuk, sabar dalam berpuasa di bulan Ramadhan meskipun cuaca panas dan pekerjaan berat, sabar dalam menunaikan zakat meskipun harta terasa berharga, hingga sabar dalam mempelajari ilmu agama meskipun membutuhkan waktu dan usaha yang besar (Nurrohim, 2023), sabar dalam berjihad di jalan Allah meskipun penuh risiko, dan sabar dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar meskipun tidak disukai banyak orang.
Allah Ta’ala berfirman “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran.”( QS. Al-‘Ashr ayat 1-3). Ayat ini menunjukkan bahwa kesabaran dalam kebenaran dan ketaatan adalah salah satu kunci kesuksesan manusia. Tanpa kesabaran, seseorang akan mudah tergoda untuk meninggalkan ibadah ketika menghadapi godaan atau kesulitan.
Ketiga, sabar dalam menahan diri dari maksiat (ash-shabri ‘anil ma’shiyah). Ini adalah kesabaran untuk mengendalikan diri dari berbagai bentuk kemaksiatan dan perbuatan dosa, meskipun ada kesempatan, dorongan hawa nafsu, atau tekanan dari lingkungan. Misalnya, sabar menahan pandangan dari hal-hal yang haram meskipun ada kesempatan, sabar menahan diri dari bergunjing atau memfitnah meskipun sedang marah.
Di era digital saat ini, sabar dalam menahan diri dari dampak negatif teknologi dan godaan moralitas menjadi tantangan pendidik yang semakin kompleks (Nurrohim, 2021). Allah Ta’ala berfirman “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf ayat 53).
Ayat ini mengajarkan bahwa hawa nafsu manusia cenderung mengajak kepada kejahatan, sehingga dibutuhkan kesabaran yang kuat untuk mengendalikannya. Nabi Yusuf AS adalah teladan terbaik dalam sabar menahan diri dari maksiat, ketika ia menolak ajakan istri Al-Aziz untuk berbuat zina meskipun dalam posisi yang sangat rentan. Upaya menekan dorongan hawa nafsu melalui kesabaran merupakan esensi dari pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) dalam pendidikan Islam (Nurrahim, 2017).
Ketiga jenis sabar ini saling berkaitan dan menuntut keteguhan hati yang terus-menerus. Tanpa adanya kesabaran dalam mendidik dan membimbing, proses transformasi nilai kepada generasi mendatang akan terhambat oleh tantangan zaman yang kian dinamis (Nurrohim, 2022). Ketidaksabaran pendidik dalam proses ini seringkali menjadi celah gagalnya transfer karakter mulia kepada anak didik (Nurrohim, 2016).
Dengan demikian kita berharap kepada Allah Ta’ala agar kita bisa menjadi manusia yang diberikan kekuatan untuk mengamalkan ketiga sabar yang diatas agar menjadi insan yang mulia, wallahu a’lam.
Editor: Nila Pingkan Nauntika