KALIMAHSAWA.ID, Kediri – 29 Januari 2026, Sebanyak 26 mahasiswa lintas perguruan tinggi 16 dari UIN Syekh Wasil Kediri dan 10 dari UNP melakukan kunjungan akademik ke Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pakelan untuk mempelajari sejarah gereja, praktik moderasi beragama, serta kepedulian ekologis berbasis iman.
GKI Pakelan berdiri pada 9 Oktober 1955 dan pada masa awal masih berupa persekutuan ibadah yang berpindah-pindah tempat sebelum akhirnya memperoleh lahan hibah dari almarhum Jitinghan. Kedekatannya dengan Kampung Pakelan membuat sebagian besar jemaat awal berasal dari wilayah tersebut. Dalam perjalanan waktu, terjadi dinamika sosial, termasuk sebagian warga yang berpindah agama atau gereja lain.
Pada masa peristiwa G30S/PKI, gereja ini memiliki akses pintu belakang yang terhubung dengan wilayah kelurahan sebagai jalur perlindungan dan perlintasan warga. Hingga kini, GKI Pakelan aktif berkolaborasi dengan Kelurahan Pakelan melalui program Kampung Pancasila, Kampung Ramah Anak, bantuan sosial saat pandemi Covid-19, serta kegiatan berbagi pada perayaan Natal.
Program pendidikan Bina Kasih Ilmu menjadi salah satu bentuk pelayanan berkelanjutan. Awalnya hanya untuk warga Pakelan, kini dibuka untuk masyarakat umum dengan komposisi peserta seimbang antara jemaat dan nonjemaat. Kegiatan berlangsung setiap Selasa, Kamis, dan Jumat pukul 16.30 selama 90 menit.
Moderasi beragama tercermin dalam keseharian warga, seperti keberadaan rumah ibadah yang berdampingan, pemakaman umum lintas agama, hingga relasi sosial yang cair antarwarga. Menurut pihak gereja, perbedaan dipahami sebagai realitas yang tidak perlu dipertentangkan, melainkan dirawat melalui dialog dan kerja bersama.
Dalam kehidupan peribadatan, GKI Pakelan menggelar kebaktian Minggu pukul 06.00 WIB untuk umum, pukul 09.00 WIB bagi kaum muda dan pasangan baru menikah, serta pukul 17.00 WIB untuk semua usia. Pada masa Paskah dan Natal, gereja menyelenggarakan Bulan Keluarga dengan tema-tema relasi kekeluargaan, serta ibadah rutin bulanan bagi kelompok pasangan suami istri.
Dalam pemaparan teologisnya, pengurus gereja menjelaskan bahwa iman Kristen memandang Yesus Kristus sebagai penebus dosa manusia dan sumber keselamatan menuju hidup kekal. Perbuatan baik dilakukan sebagai wujud syukur, bukan untuk memperoleh keselamatan. Pelayan gereja ditopang oleh jemaat, sementara para relawan lanjut usia tetap terlibat secara sukarela. Cinta kasih menjadi prinsip utama kehidupan jemaat mengasihi tanpa menuntut balasan dan bekerja sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan.
Dalam bidang lingkungan, gereja menerapkan prinsip ekoteologi melalui pengurangan plastik, penggunaan tumbler, sistem paperless sejak beberapa tahun terakhir, penanaman pohon, serta pembangunan sumur resapan air. Pihak gereja juga menyoroti bahwa sebagian bencana merupakan dampak aktivitas manusia yang merusak keseimbangan lingkungan.
Pada sesi dialog, para narasumber Pak Mario, Pak Pujo, dan Pak Liem menjelaskan pemahaman gereja tentang Tritunggal sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang dipahami sebagai tiga pribadi dalam satu kesatuan ilahi. Dalam pemaparan mereka, konsep tersebut disebut dengan istilah “veriforensis” dan dianalogikan seperti kipas angin dengan tiga bilah: masing-masing berbeda, namun bekerja sebagai satu kesatuan. Dalam kajian teologi Kristen yang lebih luas, pemahaman ini sejalan dengan rumusan klasik bahwa Allah dipahami sebagai tiga pribadi dalam satu hakikat (tres personae, una substantia).
Mereka juga menjelaskan bahwa Alkitab terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang ditulis dalam bahasa Ibrani dan Yunani, lalu diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia sebagai firman Allah yang diilhami kepada para penulisnya.
Kunjungan mahasiswa ini menjadi ruang dialog lintas iman yang menegaskan peran rumah ibadah dalam membangun harmoni sosial, kepedulian lingkungan, serta relasi damai di tengah masyarakat perkotaan.
Kontributor: Usamah Shafy Al Haidar