Oleh: Febry Wulandari
Gresik, Selasa, 25 November 2025 – Ketika Kyai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 1912, beliau tidak hanya memimpikan pembaruan Islam di Indonesia, tetapi juga revolusi sosial yang menempatkan perempuan sebagai mitra setara dalam memajukan bangsa. Di tengah budaya patriarki yang kuat di awal abad ke-20, visi pemberdayaan perempuan KH Ahmad Dahlan menjadi terobosan berani yang mengubah sejarah perempuan Indonesia.
Pendidikan sebagai Kunci Pemberdayaan
KH Ahmad Dahlan memulai gerakan pemberdayaan perempuan dengan strategi yang sederhana namun fundamental yaitu pendidikan. Beliau mendirikan sekolah khusus untuk anak perempuan, sebuah langkah yang sangat progresif untuk zamannya. Pada masa itu, perempuan Jawa umumnya hanya diposisikan sebagai “konco wingking” yang terbatas pada peran domestik.
“Ahmad Dahlan meyakini bahwa perempuan yang berpendidikan akan mampu menjadi ibu yang cerdas, pendidik generasi penerus, dan kontributor aktif bagi kemajuan masyarakat,” tulis Dr Abdul Mu’thi dalam bukunya tentang pemikiran KH Ahmad Dahlan yang terbit tahun 2018.
Kurikulum yang dikembangkan tidak hanya mencakup pendidikan agama, tetapi juga pengetahuan umum dan keterampilan praktis. Pendekatan holistik ini bertujuan menghasilkan perempuan yang shalehah secara spiritual sekaligus kompeten secara intelektual.
Keterlibatan Nyai Ahmad Dahlan sebagai Model
Strategi paling revolusioner KH Ahmad Dahlan adalah melibatkan langsung istrinya, Nyai Ahmad Dahlan yang bernama Siti Walidah, dalam aktivitas dakwah dan pendidikan. Beliau mengutus Nyai Ahmad Dahlan untuk mengajar dan berdakwah, praktik yang tidak umum pada masa itu.
Model kemitraan egaliter dalam keluarga KH Ahmad Dahlan menjadi contoh konkret bagaimana laki-laki dapat menjadi mitra dalam pemberdayaan perempuan. Beliau melibatkan istrinya dalam diskusi-diskusi penting dan pengambilan keputusan organisasi, menginspirasi keluarga-keluarga Muhammadiyah lainnya untuk mengadopsi pola relasi yang lebih setara.
Lahirnya Aisyiyah sebagai Wadah Organisasi
Langkah monumental berikutnya adalah pendirian Aisyiyah pada 1917. Organisasi ini menjadi wadah bagi perempuan Muslim untuk mengorganisir diri, mengembangkan potensi, dan berkontribusi kepada masyarakat. Nama Aisyiyah diambil dari nama Aisyah binti Abu Bakar, istri Rasulullah SAW yang dikenal sebagai perempuan cerdas dan berpengetahuan luas.
Aisyiyah dirancang sebagai organisasi otonom dengan struktur kepemimpinan sendiri, memberikan ruang bagi perempuan untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan dan manajerial. Melalui Aisyiyah, perempuan Muhammadiyah terlibat dalam berbagai program sosial, pendidikan, dan kesehatan yang sebelumnya didominasi laki-laki.
Kesetaraan Gender dalam Struktur Organisasi
Muhammadiyah mengembangkan pemahaman teologis yang menegaskan kesetaraan fundamental antara laki-laki dan perempuan. Dalam berbagai kajian dan produk pemikiran, Muhammadiyah menekankan bahwa perbedaan biologis tidak menentukan superioritas dan inferioritas dalam dimensi kemanusiaan dan spiritualitas.
Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah telah mengeluarkan berbagai fatwa dan keputusan yang mendukung kesetaraan gender, termasuk hak perempuan dalam pendidikan, pekerjaan, dan partisipasi politik. Struktur organisasi Muhammadiyah mencerminkan komitmen ini, dengan Aisyiyah sebagai organisasi otonom yang memiliki kewenangan penuh dalam mengelola program-programnya.
“Dalam Musyawarah Nasional dan Muktamar Muhammadiyah, perempuan memiliki hak suara dan dapat dipilih dalam berbagai posisi kepemimpinan,” ungkap Prof Dr Toto Suharto dalam penelitiannya tentang moderasi Islam di Indonesia tahun 2018.
Dalam perkembangannya, Muhammadiyah juga membuka peluang bagi perempuan untuk menduduki posisi-posisi strategis di luar Aisyiyah. Beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah dipimpin oleh rektor perempuan, dan banyak perempuan Muhammadiyah yang menjadi tokoh kunci dalam majelis-majelis dan lembaga-lembaga di bawah Muhammadiyah.
Program Pemberdayaan Ekonomi
Di bidang ekonomi, Muhammadiyah melalui Aisyiyah mengembangkan berbagai program pemberdayaan ekonomi perempuan, seperti program Bina Usaha Ekonomi Keluarga, koperasi perempuan, dan pelatihan kewirausahaan. Program-program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kesejahteraan ekonomi, tetapi juga memperkuat kemandirian dan posisi tawar perempuan dalam keluarga dan masyarakat.
Kontribusi bagi Bangsa dan Negara
Perempuan Muhammadiyah telah berkontribusi signifikan dalam pergerakan nasional Indonesia sejak era pra-kemerdekaan. Aisyiyah tercatat sebagai salah satu organisasi perempuan yang aktif dalam Kongres Perempuan Indonesia I tahun 1928. Selama perjuangan kemerdekaan, perempuan Muhammadiyah terlibat dalam berbagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme, mulai dari penyediaan logistik bagi pejuang, pelayanan kesehatan, hingga propaganda kemerdekaan.
Pascakemerdekaan, perempuan Muhammadiyah aktif dalam berbagai program pembangunan nasional. Melalui ribuan lembaga pendidikan yang dikelola Aisyiyah, jutaan anak Indonesia mendapatkan akses pendidikan berkualitas. Di bidang kesehatan, Aisyiyah mengelola ratusan rumah sakit, klinik, dan puskesmas yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Kontribusi ini sangat signifikan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945,” tegas Dr Siti Ruhaini Dzuhayatin dalam tulisannya tentang gender dan pluralisme di Indonesia tahun 2015.
Partisipasi Politik dan Advokasi
Perempuan Muhammadiyah juga aktif dalam arena politik dan advokasi kebijakan publik. Beberapa perempuan Muhammadiyah telah menjadi anggota DPR, DPRD, menteri, dan pejabat publik lainnya. Melalui posisi-posisi ini, mereka memperjuangkan kebijakan-kebijakan yang pro-rakyat, pro-perempuan, dan pro-keadilan sosial.
Aisyiyah sebagai organisasi juga aktif melakukan advokasi terhadap berbagai isu kebijakan publik, seperti pendidikan, kesehatan, perlindungan anak, pemberdayaan ekonomi rakyat, dan kesetaraan gender. Organisasi ini sering menjadi mitra pemerintah dalam perumusan dan implementasi kebijakan-kebijakan strategis.
Moderasi Beragama dan Kebangsaan
Dalam konteks Indonesia yang plural, perempuan Muhammadiyah berperan penting dalam mempromosikan moderasi beragama dan penguatan nilai-nilai kebangsaan. Melalui berbagai kegiatan dialog antaragama, program kemanusiaan, dan advokasi perdamaian, perempuan Muhammadiyah berkontribusi dalam menjaga harmoni sosial dan kohesi nasional.
Aisyiyah juga aktif dalam berbagai inisiatif internasional yang mempromosikan perdamaian, keadilan gender, dan pembangunan berkelanjutan. Organisasi ini telah menjalin kerja sama dengan berbagai organisasi perempuan Muslim di tingkat global, berkontribusi dalam menyuarakan perspektif Islam moderat Indonesia di forum-forum internasional.
Adaptasi di Era Digital
Di era digital, perempuan Muhammadiyah terus berinovasi dalam metode dan strategi pemberdayaan. Pemanfaatan teknologi informasi untuk pendidikan jarak jauh, e-commerce untuk pemasaran produk UMKM perempuan, dan media sosial untuk dakwah dan advokasi menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi.
Program-program seperti literasi digital untuk perempuan, pelatihan e-commerce, dan pengembangan platform online untuk pemberdayaan perempuan menunjukkan bahwa Aisyiyah terus relevan dan responsif terhadap perkembangan zaman.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meskipun Muhammadiyah memiliki komitmen kuat terhadap kesetaraan gender, implementasi di tingkat akar rumput masih menghadapi berbagai tantangan. Budaya patriarki yang masih mengakar dalam masyarakat Indonesia, termasuk di kalangan warga Muhammadiyah sendiri, kadang menjadi hambatan bagi terwujudnya kesetaraan gender yang substantif.
Oleh karena itu, Muhammadiyah terus melakukan upaya pendidikan dan advokasi untuk mengubah pola pikir dan praktik-praktik yang diskriminatif terhadap perempuan. Melalui kajian-kajian keislaman, pelatihan gender sensitivity, dan kampanye publik, Muhammadiyah berupaya untuk mewujudkan kesetaraan gender yang tidak hanya formal-struktural, tetapi juga substantif-kultural.
Pembelajaran bagi Masa Depan
Pengalaman Muhammadiyah dalam pemberdayaan perempuan menawarkan pembelajaran penting bahwa Islam, ketika dipahami secara progresif dan kontekstual, sangat mendukung kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Kesetaraan gender dalam Muhammadiyah bukan sekadar slogan, tetapi diwujudkan dalam struktur organisasi, kebijakan, dan program-program konkret.
Model pemberdayaan perempuan yang dikembangkan Muhammadiyah sejak lebih dari satu abad lalu tetap relevan hingga hari ini. Visi KH Ahmad Dahlan yang menempatkan pendidikan sebagai kunci pemberdayaan, organisasi sebagai wadah pengembangan kapasitas, dan kemitraan egaliter sebagai model relasi, telah terbukti efektif dalam menghasilkan perempuan-perempuan tangguh yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Model ini dapat menjadi inspirasi bagi organisasi-organisasi Islam lainnya, baik di Indonesia maupun di tingkat global, dalam mengembangkan strategi pemberdayaan perempuan yang berbasis nilai-nilai Islam namun tetap responsif terhadap tantangan kontemporer.
Comments 1