Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Femcel dan Ekspektasi Lama dalam Wajah Baru: Ketika Patriarki Bersembunyi dalam Narasi Cinta

Septian Chaerunnisa Pangestu by Septian Chaerunnisa Pangestu
Desember 7, 2025
in Esai, Narasi
0
Femcel dan Ekspektasi Lama dalam Wajah Baru: Ketika Patriarki Bersembunyi dalam Narasi Cinta
27
SHARES
156
VIEWS

Oleh: Septian Chaerurunnisa Pangestu

Belakangan ini, istilah femcel atau singkatan dari female involuntary celibate ramai muncul dalam perbincangan di platform digital. Di saat bersamaan, semakin banyak perempuan yang dengan bangga menyebut dirinya hopeless romantic. Sekilas, kedua fenomena itu tampak tidak berhubungan. Namun jika ditelusuri lebih jauh, keduanya sesungguhnya saling bertautan dengan persoalan besar yang lebih mendasar: bagaimana perempuan memaknai dirinya dalam masyarakat yang masih sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai patriarkal.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Hopeless Romantic: Romantis atau Terjebak Ekspektasi?

Kita hidup di generasi yang lebih bebas, lebih terdidik, dan sadar akan isu kesetaraan. Namun anehnya, kita masih sering menemukan perempuan yang menilai dirinya berdasarkan apakah ada laki-laki yang memilihnya. Modernitas boleh berubah, tetapi ekspektasi sosial sering kali tetap.

Narasi hopeless romantic pada perempuan tidak dapat dilepaskan dari ekspektasi romantik yang dibangun oleh masyarakat patriarkal. Menurut teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann, identitas seseorang dibentuk melalui interaksi sosial dan internalisasi nilai-nilai yang dilegitimasi secara budaya. Dalam konteks ini, perempuan dibentuk untuk memaknai keberadaannya melalui hubungan emosional dan romantik seolah hidupnya baru lengkap ketika ada laki-laki yang mencintai dan memperjuangkannya.

Perempuan sejak kecil dibentuk untuk percaya bahwa kebahagiaan hidup akan terasa lengkap ketika ada laki-laki yang memperjuangkannya. Budaya populer, film, hingga media sosial mengulang narasi yang sama: perempuan akan menemukan makna ketika ia menemukan pasangan yang ideal. Tanpa disadari, konsep hopeless romantic sering kali menjadi pintu masuk bagi perempuan untuk menghubungkan harga dirinya dengan penerimaan laki-laki.

Incel dan Femcel: Dua Fenomena yang Berakar pada Akar Persoalan yang Sama

Istilah incel atau involuntary celibacy lebih dulu dikenal sebagai kelompok laki-laki yang merasa gagal mendapatkan perhatian perempuan, lalu menyalahkan perempuan sebagai penyebabnya. Sementara itu, femcel menggambarkan perempuan yang merasa tidak menarik, tidak layak dicintai, atau tidak memenuhi standar kecantikan tertentu.

Meski muncul di dua kelompok berbeda, keduanya berangkat dari sistem nilai yang sama: perempuan tetap ditempatkan sebagai objek penilaian. Pada incel, perempuan dianggap sebagai pihak yang “tidak mau”. Pada femcel, perempuan justru menyalahkan dirinya karena merasa “tidak layak”.

Paradoksnya, siapa pun yang menilai perempuan tetap menjadi pusat penilaian, dan sering kali menjadi sumber rasa bersalah.

Femcel dan Internalized Misogyny: Ketika Perempuan Mereproduksi Patriarki

Internalized misogyny adalah kondisi ketika perempuan menginternalisasi nilai-nilai patriarkal yang merendahkan perempuan, sekaligus menjadikannya standar penilaian diri sendiri. Fenomena femcel merupakan salah satu representasi dari kondisi ini. Perempuan dalam kelompok ini cenderung meyakini bahwa:

  • kecantikan fisik adalah prasyarat utama untuk dicintai;
  • berat badan, warna kulit, dan bentuk tubuh menentukan nilai diri;
  • perempuan ideal adalah yang mampu menyesuaikan diri dengan preferensi laki-laki;
  • keberanian, ambisi, dan kemandirian dianggap mengurangi daya tarik.

Pola pikir ini menjadikan perempuan sebagai subjek yang mengawasi dan mengoreksi dirinya sendiri agar sesuai dengan standar patriarki. Dalam perspektif Foucault, kondisi ini selaras dengan konsep disciplinary power, yaitu bentuk kekuasaan yang membuat individu mengatur dirinya sendiri sesuai norma dominan tanpa perlu paksaan langsung dari luar.

Dengan demikian, femcel merepresentasikan perempuan yang secara tidak disadari bertindak sebagai “tangan kanan patriarki”, yakni pihak yang menjaga, memelihara, dan meneruskan nilai-nilai yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat.

Dampaknya: Relasi yang Tidak Sehat dan Harga Diri yang Digerus Perlahan

Perempuan yang percaya dirinya tidak layak dicintai akan selalu bersedia menerima cinta dalam bentuk apa pun bahkan yang menyakitkan. Mereka rela menunda mimpi, mengalah pada semua hal, bahkan mempertahankan hubungan tidak sehat hanya agar tidak kembali dianggap sendirian.

Rasa tidak berharga membuat perempuan mengorbankan batas dirinya, menerima perilaku buruk pasangan, dan bahkan berupaya keras menyesuaikan diri demi memenuhi standar orang lain. Dalam jangka panjang, hal ini tidak hanya merusak harga diri, tetapi juga menormalisasi hubungan yang timpang.

Fenomena femcel memperlihatkan bahwa persoalan cinta dan relasi tidak pernah benar-benar netral. Ada struktur sosial yang bekerja di baliknya.

Pada akhirnya, femcel tidak hanya merusak cara perempuan memandang cinta, tetapi juga merusak cara perempuan memandang dirinya.

Saatnya Berhenti Menilai Diri dari Mata Orang Lain

Fenomena femcel menantang kita untuk bertanya ulang:  

Apakah perempuan benar-benar bebas menentukan nilai dirinya sendiri?

Atau kita masih terjebak dalam skenario lama yang hanya berganti nama?

Menjadi perempuan tidak boleh lagi berarti menjadi seseorang yang menunggu untuk dipilih.

Perempuan seharusnya memiliki hak penuh untuk memilih dirinya sendiri untuk memutuskan apa yang membuatnya berharga, apa yang membuatnya berharga, apa yang membuatnya kuat, dan apa yang membuatnya utuh.

Membebaskan diri dari femcel bukan tentang menolak cinta.
Ini tentang menolak cara lama mencintai diri sendiri cara yang dibatasi oleh lensa patriarki.

Saatnya Perempuan Mengembalikan Kendali

Patriarki tidak akan runtuh hanya dengan protes atau statemen lantang. Ia runtuh perlahan ketika perempuan berhenti mengulang skrip lama tentang kelemahan diri. Ketika perempuan berhenti menilai dirinya dari kemungkinan disukai atau tidak. Ketika perempuan tidak lagi menjadi tangan kanan sistem yang mengekangnya.

Perempuan tidak diciptakan untuk menjadi objek penilaian. Perempuan diciptakan untuk menjadi subjek yang menggerakan dunia dengan pikirannya, keberaniannya, dan kemampuannya menentukan arah hidupnya sendiri.

Dan itu semua dimulai dari satu hal sederhana: percaya bahwa diri kita layak, bahkan tanpa validasi siapa pun.

Editor: Zahfa Almedina

Terkait

Tags: FemcelHopeless RomanticIncelInternalized Misogyny
Previous Post

Pendidikan di Era Digital

Next Post

Bangun Mindset Wirausaha, KOPMA UMS Gelar Seminar Nasional 2025

Septian Chaerunnisa Pangestu

Septian Chaerunnisa Pangestu

Next Post
Bangun Mindset Wirausaha, KOPMA UMS Gelar Seminar Nasional 2025

Bangun Mindset Wirausaha, KOPMA UMS Gelar Seminar Nasional 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.